Nissan Laporkan Rugi Bersih US$ 6 Miliar, Terburuk dalam 20 Tahun Terakhir

Nissan Laporkan Rugi Bersih US$ 6 Miliar, Terburuk dalam 20 Tahun Terakhir
OTOMOTIF | 28 Mei 2020 21:10 Reporter : Syakur Usman

Merdeka.com - Raksasa otomotif dunia asal Jepang, Nissan Motor, melaporkan kerugian bersih sebesar 671 miliar yen (US$ 6,2 miliar) atau setara Rp 84 triliun di tahun fiskal 2019 yang berakhir Maret 2020. Periode ini berbarengan dengan pandemi Covid-19.

Kerugian tersebut lebih tinggi dibandingkan krisis moneter 2008/2009, saat itu Nissan mencatat rugi bersih 233 miliar yen. Bahkan mendekati kerugian pada tahun fiskal 1999 yang mencapai 684 miliar yen, yang akhirnya mendorong Nissan melakukan rencana restrukturisasi oleh Carlos Ghosn (Renault).

"Kami sudah memodifikasi strategi ekspansi selama dua tahun terakhir, tapi saat ini sangat sulit mencapai profit pada situasi seperti ini," kata Makoto Uchida, CEO Nissan Motor, dalamkeyerangan pers di Tokyo, seperti dikutip dari Asia.Nikkei.com, Kamis (28/5).

Nissan menambahkan pandemi Covid-19 secara mendasar berdampak terhadap produksi dan penjualannya secara global.

Pada tahun fiskal terakhir ini, Nissan menjual 4,79 juta unit kendaraan secara global, turun 13 persen dari tahun sebelumnya. Sementara pendapatannya mencapai 9,87 triliun yen, turun 14,6 persen dari tahun fiskal sebelumnya.

Nissan Motor dimiliki sebesar 43,4 persen saham oleh Renault, sementara Nissan sendiri memiliki saham 15 persen di mitranya asal Perancis itu.

Kapasitas Produksi Dipangkas

Menurut Uchida, pihaknya sudah memulai program empat tahun untuk memangkas kapasitas produksi sebesar 20 persen menjadi 5,4 juta unit per tahun. Hal ini menyebabkan lini produk lebih sedikit dari 69 model jadi 55 model dan memotong biaya fixed sekitar 300 miliar yen.

Nissan juga memangkas kapasitas secara global sebagai bagian dari rencana yang disusun bersama Renault dan Mitsubishi Motors, anggota Aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi.

1 dari 1 halaman

Nissan Mengonfirmasi Penutupan Pabrik Indonesia

all new nissan serena 2019

©2019 Merdeka.com  

Saat keterangan pers di Tokyo itu, Nissan mengonfirmasi rencananya menutup pabrik di Spanyol dan Indonesia. Rencana ini ingin mendorong utilisasi pabrik di atas 80 persen dan membuat operasional perusahaan lebih profit.

Selain itu, Nissan juga fokus di pasar inti dan produk, penarikan dari Korea Selatan, dan menghentikan bisnis Datsun di Rusia.

Nissan juga menetapkan gol untuk menjual lebih dari satu juta unit mobil listrik di akhir tahun fiskal 2023. Mobil listrik ini menjadi kunci pendorong Nissan di masa depan.

Namun, Uchida menolak berkomentar lebih jauh tentang pemangkasan sebanyak 12.500 pekerja yang telah diumumkan pada Juli tahun lalu. Dia mengatakan perusahaan akan bernegosiasi dengan serikat pekerja terkait dan pemerintah setempat.

(mdk/sya)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami