Perspektif Toyota & Honda terhadap 'Sikon' New Normal di Industri Otomotif Indonesia

Perspektif Toyota & Honda terhadap 'Sikon' New Normal di Industri Otomotif Indonesia
OTOMOTIF | 28 Mei 2020 10:35 Reporter : Syakur Usman

Merdeka.com - Frase 'new normal' atau tatanan normal baru sedang populer belakangan ini. Frase ini laris, setelah wacana pemerintah melonggarkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di beberapa daerah pada Juni, sejak kasus Covid-19 merebak awal Maret lalu.

Beberapa sektor industri yang terdampak aktivitas bisnisnya akibat penerapan PSBB berharap tinggi new normal ini segera diberlakukan. Tujuannya supaya aktivitas bisnisnya bisa berjalan seperti sebelum masa pandemi.

New normal bisa didefinisikan tatanan normal baru di seluruh sektor kehidupan masyarakat pasca-pandemi dengan menerapkan protokol kesehatan guna melawan penyebaran Covid-19. Seperti menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan, menggunakan hand sanitizer, dan sebagainya. Tatanan kesehatan akan lebih nyata di era new normal kelak.

Sektor usaha atau bisnis pun tak luput dari tatanan normal baru ini, termasuk industri otomotif di Indonesia.

Anton Jimmi Suwandy, Direktur Pemasaran PT Toyota-Astra Motor (TAM), mengakui sebagai pemain otomotif terbesar di Indonesia, pihaknya mempelajari dan setuju penerapan new normal di industri ini. Mulai dari kegiatan komunikasi dengan konsumen, kegiatan produksi, pemasaran-penjualan, dan lain-lain. New normal ini juga berlaku bagi Toyota Indonesia yang menjadi basis produksi kendaraan MPV dan SUV bagi Toyota global.

"Strategi Toyota terutama Toyota Group di new normal, kami hadir di sini sebagai industri. Jadi kalau kita bicara industri, maka bagaimana supaya Indonesia ini menjadi pusat produksi dari produk-produk Toyota, tidak hanya model MPV, tapi juga SUV dan lain-lain. Tujuannya supaya memenuhi sebagian besar kebutuhan Toyota global di Indonesia dengan menggunakan produk lokal," ujar Anton Jimmi menjawab pertanyaan Merdeka.com, baru-baru ini.

Menurut Anton, pandemi Covid-19 ini juga menimbulkan masalah dari strategi global supply chain di industri otomotif dunia. Misalnya akibat pandemi, mobil sedan Toyota yang pusat produksinya di Thailand kesulitan masuk pasar Indonesia. Hal serupa juga terjadi di negara lain yang menjadi pusat produksi Toyota, sulit masuk ke Indonesia. Dan sebaliknya, produk made in Indonsia kesulitan masuk ke negara-negara tertentu.

Untunglah, Toyota Indonesia memiliki kebijakan untuk memasarkan mobil-mobil produksi sendiri ketimbang mobil CBU yang diimpor dari negara-negara lain. Saat ini sekitar 90 persen mobil yang dipasarkan TAM adalah mobil yang diproduksi di pabrik Sunter, Jakarta dan Karawang, Jawa Barat.

"Jadi kalau sampai terjadi masalah seperti kita kesulitan mengimpor model CBU dari Thailand atau Jepang, sebenarnya dampaknya secara volumenya tidak besar. Mobil-mobil impor yang kami pasarkan adalah model Camry, Corolla Altis, Hilux, Alphard, dan HiAce yang jumlahnya sekitar 10 persen dari total penjualan Toyota Indonesia. Jadi kami masih punya 90 persen penjualan yang datang dari produk lokal," ucapnya.

Hal serupa juga berlaku dengan komponen produk otomotif. Di sini, lanjut dia, tingkat lokalisasi komponen menjadi kunci di era new normal. Lokalisasi komponen dalam jumlah lebih besar lagi di masa mendatang menjadi strategis.

Dalam konteks ini, kondisi industri otomotif Indonesia terutama Toyota beruntung, karena volume Toyota Indonesia cukup besar yang ditambah pasar ekspor, sehingga ke depan memang potensial bagi Toyota Indonesia untuk mendapat lokalisasi produk dan komponen semakin tinggi di masa mendatang.

"Jadi gambaran situasi supply chain global akan berubah, yang mana ke depan lokalisasi komponen di Indonesia akan semakin tinggi. Dengan lokalisasi yang kuat ini, indonesia menjadi salah satu pilihan utama Toyota untuk berinvestasi di masa depan," pungkasnya.

1 dari 1 halaman

Home Service Akan Menonjol di New Normal

program honda home service

©2020 Merdeka.com

Tatanan normal baru lain yang akan terjadi di industri otomotif adalah layanan pemasaran dan purnajual. Pemanfaatkan teknologi digital akan semakin masif digunakan untuk kedua layanan tersebut guna menekan interaksi secara langsung dengan konsumen.

Yusak Billy, Business Inovation and Sales & Marketing Director PT Honda Prospect Motor (HPM), menyatakan fokus HPM saat ini adalah memberikan layanan purnajual secara optimal kepada konsumen dengan mendorong program Home Service dan Pick Up Service. Bahkan program home service ini mencatat kenaikan pengguna yang sangat tinggi selama April lalu yang mencapai 2 ribu unit kendaraan.

Program Home Service Honda ini didukung 118 diler di Indonesia dengan tujuan melayani konsumen yang membutuhkan perawatan atau perbaikan mobil tanpa meninggalkan rumah masing-masing.

"Pada situasi pandemi ini, kami gencarkan lagi program home service karena konsumen Honda juga agak keberatan untuk ke luar rumah. Kalau kerusakan mobilnya lebih berat lagi, kami jemput mobilnya dengan program pick up service. Jadi kami lebih proakfif sekarang. Sepertinya ini akan menjadi kondisi new normal ke depannya, karena konsumen tidak perlu repot datang ke bengkel dan ternyata benefitnya banyak," pungkas Billy.

(mdk/sya)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Jatim Bersiap Jalani Kehidupan New Normal - MERDEKA BICARA with Khofifah Indar Parawansa

5