Sudah Nyalip Daihatsu, Honda Makin Ancam Dominasi Toyota

OTOMOTIF | 23 Juni 2016 09:59 Reporter : Syakur Usman

Merdeka.com - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) baru saja melaporkan penjualan mobil nasional periode Januari-Mei 2016. Jumlahnya mencapai 440.466 unit, turun sedikit dibandingkan periode sama tahun lalu yang 443.181 unit. Meski pasar menurun akibat kelesuan ekonomi nasional, pabrikan yang mendominasi pasar tetap, yakni PT Toyota-Astra Motor.

Ya, Toyota Indonesia masih bertengger di puncak dengan volume 143.027 unit atau pangsa pasar 32,5 persen. Menariknya, PT honda Prospect Motor 'nyalip' ke peringkat kedua dengan volume 90.190 unit (pangsa 20,5 persen). Biasanya peringkat dua diisi PT Astra Daihatsu Motor, yang kali ini turun ke ranking tiga dengan volume 72.782 unit (16,5 persen). PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors, yang pegang brand Mitsubishi, duduk di ranking empat dengan 43.555 unit (9,9 persen), disusul Suzuki Indonesia 43.050 (9,7 persen).

Ranking lima hingga sepuluh masih dikuasai brand Jepang lainnya. Secara berurutan sebagai berikut Datsun dengan 15.602 unit, Hino (8.095), Nissan (7.188), Isuzu (6.750), dan Mazda (2.806).

Dominasi merek Jepang tersebut juga terefleksi dari 10 mobil yang paling laku di lima bulan pertama 2016. Contoh, mobil sejuta umat Toyota Avanza menjadi mobil paling laku dengan penjualan 56.044 unit. Model kedua terpopuler adalah Honda BR-V dengan 27.085 unit. Model ketiga terpopuler adalah Toyota Kijang Innova, yang mengalami major change awal Januari lalu, dengan volume 25.390 unit. Ranking empat diisi Toyota Agya dengan 23.212 unit, disusul sepupunya, Daihatsu Ayla dengan 20.950 di ranking kelima. Itu kelompok lima besar mobil terpopuler di Indonesia.

Kelompok lima besar berikutnya diisi oleh Honda Mobilio dengan 20.425 unit, Daihatsu Xenia (18.584), Daihatsu Gran Max (17.917), Honda HR-V 1.5 (16.031), dan Datsun Go dan Go+ (15.602). Suzuki Ertiga yang biasanya masuk kelompok 10 besar, kali ini terlempar dari posisi 10 besar, karena hanya mencatat penjualan 14.829 unit.

Dari 10 model mobil paling laku itu, segmen low MPV dan MPV masih berkontribusi terbesar lewat model Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, Honda Mobilio, dan All New Toyota Kijang Innova. Segmen kedua terbesar adalah LCGC dengan model Toyota Agya, Daihatsu Ayla, Datsun Go dan Go+. Menariknya, segmen low sport utility vehicle (SUV) berada di ranking tiga, lewat dua model Honda sekaligus, HR-V 1.5L dan BR-V.

Honda Nyalip Daihatsu


Honda BR-V ©2016 Merdeka.com

Di periode Januari-Mei ini, patut digarisbawahi adalah keberhasilan Honda Indonesia menyalip Daihatsu untuk menjadi pemain kedua terbesar di Indonesia dengan pangsa 20,5 persen. Hasil ini tak lepas dari strategi panjang nan ciamik Honda Indonesia untuk terus menambah portofolio produk, terutama di segmen mobil yang populer seperti low MPV dan low SUV serta crossover.

Saya mencatat sejak tiga tahun lalu, Honda Indonesia bekerja keras meningkatkan pangsa pasarnya. Caranya, dengan masuk ke segmen pasar terbesar di tanah air, yakni low MPV. Maka itu, pada pertengahan 2013, Honda memperkenalkan Mobilio, yang bermain di segmen low MPV. Strategi mengenalkan model baru setiap tahun ini terus berlanjut, dengan meluncurkan HR-V di segmen low SUV atau crossover di tahun berikutnya. Yang paling anyar, tentu saja BR-V, masih di segmen low SUV.

Ya, tiga tahun berturut-turut Honda menyajikan mobil baru yang wow dan menawarkan daya tarik serta kesegaran baru kepada konsumen otomotif. Setiap tahun konsumen dimanjakan dengan model-model baru Honda yang menyegarkan dari sisi desain dan fitur. Terbukti, ketiga model anyar Honda itu langsung menjadi nyawa baru Honda, untuk merebut posisi nomor satu dari Toyota Indonesia. Semula Honda hanya mengandalkan segmen sedan dan medium MPV dan SUV.

Selain produk baru yang menarik, keberhasilan Honda juga disebabkan strategi harga jual produknya. Honda Indonesia me-setting harga jual produknya di level Rp 200 jutaan. Contoh, Honda Mobilio dibanderoal mulai Rp 181 juta hingga Rp 235 juta. Kemudian BR-V mulai Rp 227 juta-Rp 262 juta. Sementara Honda HR-V dibanderol mulai Rp 267 juta (tipe 1.5L S CVT) hingga yang paling mahal Rp 372 juta (tipe 1.8L Prestige).

Jonfis Fandy, Direktur Marketing dan After Sales Service Honda Indonesia kepada Merdeka.com, mengatakan Honda Indonesia melakukan riset panjang dan mendalam dalam mengembangkan satu model mobil, demi keinginan dan kebutuhan konsumen Indonesia. Dia mencontohkan Mobilio yang spesifikasi dan fitur-fiturnya dibangun sesuai dengan karakter dan kondisi jalan di Indonesia.

Faktor harga jual produk tentu menjadi pertimbangan utam selain spesifikasi dan fitur-fitur yang ditawarkan. "Faktanya, pasar mobil Indonesia yang terbesar berada di level harga Rp 200 juta," kata Jonfis.

Dia mengakui sejak tiga model baru itu dipasarkan penjualan Honda setiap tahun tumbuh, di saat pasar mobil nasional cenderung menurun. Rata-rata per tahun ada pertumbuhan sekitar 25 persen. "Sekarang tantangan kami, bagaimana menyelaraskan penambahan model baru dan kenaikan penjualan ini dengan jumlah dealernya. Karena itu, kami terus menambah jaringan dealer dengan target 170-190 dealer hingga akhir tahun ini."

Keberhasilan Honda di satu sisi juga didorong adanya kelemahan di pabrikan lain. Misalnya Daihatsu, sejak Xenia-Avanza booming menjadi mobil sejuta umat, praktis Daihatsu tak memiliki produk baru yang menarik konsumen. Memang All New Xenia diluncurkan pada 2011, tapi sejak masuk Suzuki Ertiga, Honda Mobilio, Chevrolet Spin, dan Nissan Grand Livina, Xenia tak kuat pula menahan gempuran kompetitor barunya itu. Apalagi secara spesifikasi dan fitur, Xenia di bawah para pesaingnya itu.

Memang ada model Grand Max dan versi mewahnya, Luxio. Tapi mobil ini tidak menyegarkan pasar dari sisi desain. Bentuknya yang juga kotak (boxy) terkesan ini merupakan mobil niaga, bukan penumpang. Sementara Terios juga volume pasarnya tak banyak bertumbuh. Untung ada Ayla, mobil LCGC, yang bisa diandalkan Daihatsu saat ini. Tapi tentu pasar LCGC tidak sebesar pasar low MPV, meski segmen LCGC terus bertumbuh.

Suzuki Indonesia juga setali tiga uang. Sejak Ertiga, Suzuki tidak memiliki produk yang wow. Karimun Wagon R tidak bisa mendongkrak pangsa pasarnya. Sekali lagi pasar LCGC tidak sebesar low MPV.

Strategi 7 Seater

Tapi mengapa Toyota Indonesia tetap bisa mempertahankan dirinya sebagai pemain nomor satu di republik ini? Agak berbeda dengan nasib Daihatsu dan Suzuki, Toyota memiliki portofolio produk yang lengkap, mulai dari LCGC, city car, hatchback, lom MPV, low SUV, sedan, hingga premium model. Alhasil penjualannya tetap tinggi.

Meski masih mengandalkan Avanza, Toyota juga memiliki strategi lebih komplet dari Daihatsu dan Suzuki. Selain memiliki line up produk lebih banyak dan lengkap, Toyota cukup tepat membaca keinginan konsumen dan menjaga konsumen loyalnya. Tak heran di awal tahun ini, Toyota dengan cerdas menawarkan All New Kijang Innova dan Fortuner. Kemudian varian baru Toyota Rush dengan 7 penumpang, New Rush TRD Sportivo 7 dan Ultimo pada Februari lalu. Dan yang paling hot, Toyota Sienta, MPV dengan fitur sliding door, yang dipasarkan sejak April lalu.

Anton Jimmy, Kepala Divisi Pemasaran PT Toyota Astra Motor, menyatakan jika pemain lain menyatakan pasar mobil tahun ini milik mobil SUV, maka Toyota memiliki strategi sendiri. Sejak awal Toyota menyadari konsumen Indonesia suka memiliki mobil dengan kapasitas besar seperti 7 penumpang. Karena itu, tahun ini Toyota menawarkan mobil 7 penumpang ke pasar lewat model Avanza, All New Kijang Innova, New Toyota Rush, dan Sienta.

"Strategi Toyota adalah menawarkan mobil 7 penumpang, karena konsumen Indonesia suka sekali," ujar Anton kepada Merdeka.com.

Nissan Berbenah Terus


Presiden Direktur Nissan, Antonio Zara ©2016 Merdeka.com

Salah satu pabrikan yang terus berbenah diri adalah PT Nissan Motor Indonesia. Pabrikan Jepang ini, sejak 1 April lalu memiliki presiden direktur baru untuk menata bisnisnya lebih laju di Indonesia. Periode Januari-Mei 2016, penjualan Nissan turun menjadi sekitar 7.188 unit dari sekitar 13 ribu unit di periode sama tahun lalu.

Antonio Zara, Presiden Direktur Nissan Indonesia, mengaku penjualan Nissan di semester I kurang baik. Ini bukan soal brand awareness Nissan, tapi lebih disebabkan Nissan tidak memiliki produk di segmen pasar yang berkembang di Indonesia. Misalnya, segmen big SUV.

Menurutnya, beberapa model Nissan kuat di segmennya masing-masing, seperti Grand Livine (MPV), Serena (upper MPV), dan March (city car). "Di segmen big SUV kami tidak punya model, padahal banyak pengguna X-Trail yang ingin pindah ke model lebih tinggi," ujar dia.

Di semester II, Zara optimistis penjualan Nissan akan lebih baik dari semester I. Caranya dengan melakukan strategi penyegaran model demi menjaga market share. Sementara secara jangka panjang, Nissan harus memiliki model di segmen yang pasarnya besar. "Kami akan kehilangan pasar jika tidak ada model di sana."

Secara global, Nissan Indonesia menjanjikan bakal agresif mulai 2018. Targetnya, pangsa pasar Nissan Indonesia naik menjadi 8 persen di tahun itu, dari 3 persen di 2015. Sementara Datsun, juga ditargetkan naik menjadi 20 persen di segmen LCGC. "Nissan Indonesia berada di next level pada 2018 dengan strategi produk yang sangat agresif," pungkas Zara.


Honda bocorkan output mesin turbo New Avancier!
Empat mobil Honda memimpin pasar otomotif di kelasnya masing-masing
New Brio Satya CVT: Menjajal mobil LCGC paling gaya di kelasnya
Honda 'lepas' New Honda Brio RS dan Satya, serta All New Civic Turbo
Wajah baru mobil tanpa sopir Acura RLX Sport Hybrid SH-AWD
Ekspansi diler, Honda Indonesia targetkan 190 diler di akhir tahun

(mdk/idc)

TOPIK TERKAIT