Anak jurusan IPA lebih pintar daripada jurusan IPS? Ini mitosnya!

PENDIDIKAN | 8 April 2016 15:30 Reporter : Dewi Ratna

Merdeka.com - Pernah nggak sih kamu mendengar mitos-mitos yang berseliweran di luar sana tentang anak jurusan IPA versus IPS? Misalnya, murid yang pintar di kelas IPS malah dipandang aneh dan disarankan masuk kelas IPA saja. Miskonsepsi seperti ini seolah memang sudah mendarah daging, nggak cuma di kalangan pelajar sekolah tapi juga orang tua dan guru. Anak jurusan IPA dipandang sebagai anak pintar, rajin belajar, banyak menghabiskan waktu di tempat bimbel, sementara anak IPS dipandang sebelah mata, mulai dari nakal hingga level kepintarannya dibawah anak jurusan IPA.

Miskonsepsi di atas malah sudah jadi mitos yang berkembang luas di masyarakat. Nah, dalam kesempatan kali ini kamu perlu tahu mitos-mitos tentang anak jurusan IPA dan IPS, benar nggak sih?

1. Jurusan IPA lebih bergengsi daripada jurusan IPS

Jurusan IPA memang kerap dipandang superior dibanding dengan jurusan IPS. Penyebab miskonsepsi ini beragam, mulai dari tingkat kesulitan pelajaran IPA, kualitas guru IPA dan IPS yang berbeda, gengsi kalangan orangtua dan lain-lain. Hal ini berlangsung simultan hingga menyebabkan pandangan bahwa jurusan IPA lebih superior.

Miskonsepsi ini bisa menimbulkan kerugian tertentu pada siswa. Misalnya siswa yang nilai akademisnya bagus dituntut masuk jurusan IPA padahal mungkin ia menaruh minat di jurusan IPS. Sebaliknya, siswa yang nilai akademiknya kurang bagus dianjurkan masuk IPS hanya karena standar nilai jurusan IPA yang tinggi. Sistem klasifikasi sepihak ini merugikan siswa, padahal seharusnya siswa diberikan kebebasan untuk menentukan minat mereka selain melihat nilai akademis. Lagipula, jurusan IPA dan IPS masing-masing membutuhkan kompetensi yang berbeda-beda dan setiap siswa bisa benar-benar jago di bidang minatnya masing-masing.

2. Anak IPA pintar berhitung, IPS pintar menghafal

Mitos kedua ini adalah stigma yang selama ini menempel kuat di kalangan masyarakat. Seolah tingkat kecerdasan seorang siswa hanya dilihat dari dua tolak ukur saja yakni berhitung dan hafalan. Pelajaran di jurusan IPA seperti Fisika, Kimia dan Biologi itu sama sekali bukan pelajaran berhitung, malah konsep berhitung lebih dekat dengan pelajaran Akuntansi di jurusan IPS.

Begitu pun sebaliknya, pelajaran IPS tak ada yang menghafal melainkan lebih banyak membutuhkan pemahaman konseptual yang komprehensif. Kalau sudah mengerti dengan konsepnya, pasti juga hafal dengan istilah di dalamnya. Pembedahan tingkat kecerdasan dari Bloom's Taxonomy bukti bahwa kemampuan manusia dalam domain kognitif tak hanya berhitung dan menghafal saja, ada 3 aspek berikut:

a. Level 1: Knowledge, adalah pengetahuan kita mengenai fakta-fakta atau terminologi yang spesifik meliputi pengetahuan mengenai metode-metode tertentu, dan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip dan teori-teori universal.

b. Level 2: Comprehension, merupakan kemampuan kognitif yang melibatkan kemampuan untuk memahami konsep, membandingkan konsep, menginterpretasikan suatu fenomena atau abstraksi tertentu, dan dapat menyimpulkan ide inti dari pembahasan-pembahasan tertentu.

c. Level 3: Critical Thinking, terdiri dari beberapa dimensi, yaitu: analysis, evaluation, synthesis.

- Analysis : menguji dan menguraikan informasi dan/atau pengetahuan dengan cara mengidentifikasi komponen-komponen dari informasi tersebut, misalnya: penyebab, efek, dan prevalensi.

- Evaluation: mengajukan dan mempertahankan opini dengan cara membuat penilaian mengenai informasi dari gagasan berdasarkan dengan kriteria-kriteria tertentu.

- Synthesis: mengumpulkan informasi-informasi terkait suatu gagasan tertentu untuk membuat suatu kesimpulan dan menghasilkan gagasan alternatif.

Suatu aktivitas pembelajaran dapat dikatakan efektif dan memberikan manfaat ketika aktivitas tersebut mencapai level 3: kognisi critical thinking. Kalau cuma berhitung dengan menghafal rumus atau tahu istilah dengan cara menghafal berarti kamu masih sampai di level kognitif knowledge saja.

3. Anak IPA lebih jago matematika daripada anak IPS

Mitos yang ketiga ini yang paling parah, bahkan berkembang luas di kalangan guru sekali pun. Asal tahu saja bahwa sebetulnya matematika bukan cabang dari bidang IPA (natural science), dan bukan juga IPS (social science). IPA maupun IPS adalah science, maksudnya science itu artinya ilmu mempelajari hal yang konkrit, sedangkan matematika itu adalah ilmu abstrak, bukan konkrit. Jadi sekali lagi, matematika itu bukan science.

Istilah science artinya kita mempelajari ilmu yang bisa diamati dan bisa direpresentasikan dalam dunia nyata, pembuktiannya disebut dengan evidence. Sedangkan inti dari matematika itu adalah abstract modeling dari logika di mana pembuktiannya biasa disebut dengan proof. Jadi matematika merupakan ilmu pengetahuan murni yang bersifat abstrak dan bisa berdiri sendiri tanpa sokongan ilmu-ilmu lain.

Jadi Matematika itu sama sekali nggak identik dengan hitungan dan jurusan IPA. Entah kamu anak IPA atau IPS harus sama-sama menguasai pelajaran matematika dengan baik karena konsep-konsep dasar dari matematika bisa diterapkan untuk membantu cabang-cabang ilmu lainnya dalam proses pengembangan ilmu tersebut.

4. Anak IPA bisa masuk semua jurusan kuliah, anak IPS terbatas

Buat kamu yang saat ini duduk di kelas 12, pasti sudah mulai memikirkan ingin masuk jurusan apa nantinya di universitas. Mitos yang sering muncul adalah bahwa anak jurusan IPA bisa masuk di banyak jurusan kuliah, sementara tidak untuk IPS. Belum lagi perseteruan panas antara kedua jurusan tersebut saat banyak anak jurusan IPA yang justru kuliahnya mengambil jurusan IPS seperti Psikologi, Ekonomi atau Hubungan Internasional. Tak sedikit anak IPS yang 'ngambek' karena jurusan kuliah mereka diambil oleh anak IPA.

Sikap seperti ini bisa diterjemahkan sebagai sikap inferior yang bisa menambah paradigma yang salah tentang pembagian IPA maupun IPS. Padahal kedua jurusan di atas bisa 'damai' dengan mendaftar IPC saat SNMPTN berlangsung dan bersaing secara sehat. Lebih baik berkompetisi secara fair dan jangan lagi ada pemisahan anak 'alam' dan 'sosial'. Setiap cabang ilmu pengetahuan memiliki landasan berpikir masing-masing dan bisa terintegrasi satu sama lain untuk menjelaskan segala hal yang terjadi di alam semesta. (mdk/iwe)

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.