Kisah kekalahan Perang Banjar yang mengobarkan semangat pejuang

PENDIDIKAN | 21 Juni 2016 13:00 Reporter : Dewi Ratna

Merdeka.com - Ketika masa pemerintahan Belanda, banyak sekali terjadi perlawanan dan perang yang dilakukan oleh rakyat. Salah satu perang yang pernah terjadi di wilayah Kalimantan adalah Perang Banjar. Setelah melakukan persetujuan, Pangeran Antasari bersama dengan pasukan Haji Buyasin, Kiai Langlang dan Kiai Demang Lehman berhasil menyerang benteng milik Belanda di Tabanio. Di sisi lain, pasukan milik Surapati bisa menenggelamkan kapal milik Belanda yaitu Onrust dan merampas senjata yang ada di kapal itu.

Waktu itu, sekitar bulan Agustus dan September tahun 1859, perlawanan rakyat Banjar ini terjadi di tiga tempat, yaitu sekitar Banua Lima, Martapura dan Tanah Laut. Perlawanan yang ada di sekitar Banua Lima dipimpin oleh Tumenggung Jalil, perlawanan yang ada di sekitar Martapura dan wilayah Tanah Laut dipimpin oleh Demang Lehman, sedangkan Pangeran Antasari sendiri memimpin perlawanan di wilayah Sungai Barito. Di wilayah Martapura dan Tanah Laut, sembilan orang tentara Belanda tewas. Melihat kondisi ini, Belanda meningkatkan jumlah pasukannya disana. Benteng Tabanio berhasil dikepung lagi oleh Belanda. Demang Lehman dan para prajuritnya berhasil meloloskan diri dari pengepungan itu.

Akhirnya, Demang Lehman memusatkan kekuatannya di Gunung Lawak. Belanda yang mengetahui hal ini juga mengepung daerah itu. Kekalahan Demang Lehman di benteng Gunung Lawak ini semakin mengobarkan semangat para pejuang sebab mereka tahu kalau ini adalah Perang Sabil. Di bulan September, para pemimpin perlawanan menuju ke daerah Kandangan untuk melakukan perundingan dengan tokoh pejuang yang lainnya. Nah, meskipun perundingan itu sudah menghasilkan beberapa hal seperti penentuan pusat kekuatan, Perang Banjar yang terjadi di Kalimantan ini tetap belum selesai dan masih perlu dilawan lagi.

(mdk/iwe)