Ekonom Sebut Banjir Likuiditas di Perbankan Nasional Bukan Persoalan, Ini Alasannya

Ekonom Sebut Banjir Likuiditas di Perbankan Nasional Bukan Persoalan, Ini Alasannya
Rupiah. ©2013 Merdeka.com
PERBANKAN | 21 September 2021 15:13 Reporter : Sulaeman

Merdeka.com - Ekonom sekaligus Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah menyebut bahwa melimpahnya likuiditas perbankan nasional selama pandemi Covid-19 bukanlah suatu persoalan. Sebaliknya, ungkap Piter, berlimpahnya likuiditas itu bisa menjadi solusi pembiayaan fiskal.

"Karena, kalau tidak ada likuiditas berlimpah di perbankan pemerintah pasti kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan APBN," terangnya saat dihubungi Merdeka.com, Selasa (21/9).

Guna mengantisipasi persoalan likuiditas itu, dia meyakini pihak perbankan telah memiliki saluran-saluran. Di antaranya menempatkan likuiditas ke instrumen surat berharga negara (SBN). "Bank-bank tidak bermasalah dengan kelebihan likuiditasnya. Mereka bisa menempatkannya di SBN," katanya.

Meski begitu, Piter mengakui jika banjir likuiditas akan menjadi persoalan ketika permintaan kredit kembali normal seiring meredanya pandemi Covid-19 di Tanah Air. Menyusul, berkurangnya ketersediaan dana likuiditas setelah dialihkan ke SBN.

"Ketika itu terjadi, perbankan yang saat ini likuiditasnya sudah ditanamkan ke SBN akan kekurangan likuiditas," tandasnya.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Anung Herlianto menyoroti kondisi likuiditas di perbankan nasional yang berlebih selama pandemi Covid-19.

Sebab, tingkat likuiditas yang berlebih bisa menimbulkan beban tersendiri bagi pihak bank. Meski demikian, dia tidak menyebutkan berapa besar tingkat likuiditas yang saat ini di perbankan nasional.

"Selama ini likuiditas berlebih nih, likuiditas di sisi lain bisa menimbulkan beban bagi bank," ujarnya dalam webinar IDX, Selasa (21/9).

Anung pun meminta pihak perbankan untuk bisa segera menyalurkan dana yang menumpuk tersebut. Di antaranya mendorong pertumbuhan kredit baru dengan memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi nasional.

"Oleh karena itu harus ada outlet segera yang untuk disalurkan. Bank saya kira sudah tidak sabar untuk itu," tutupnya. (mdk/idr)

TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami