Kanalisasi Jalur Puncak Berlaku Setiap Akhir Pekan

PERISTIWA | 5 Oktober 2019 18:31 Reporter : Rasyid Ali

Merdeka.com - Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) memastikan untuk mencoba rekayasa lalu lintas baru di Jalan Raya Puncak, Kabupaten Bogor, dengan sistem 2-1 (kanalisasi) pada 27 Oktober 2019. Sistem anyar ini akan diterapkan setiap akhir pekan Sabtu dan Minggu, selama satu bulan.

Kepala BPTJ Bambang Prihartono mengatakan, sistem kanalisasi ini nantinya akan dievaluasi. Apakah sistem ini akan dipermanenkan untuk mengganti sistem buka tutup yang selama ini digunakan untuk mengurai kemacetan.

"Sistem yang baru ini lebih memberikan keleluasaan bagi masyarakat setempat untuk melakukan mobilitas karena tidak lagi berdasarkan buka tutup," katanya saat meninjau Jalan Raya Puncak, Sabtu (5/10).

Dia menjelaskan, sistem 2-1 akan membagi jalan menjadi tiga lajur dengan dipisahkan menggunakan 1.000 buah kerucut lalu lintas (traffic cone) mulai dari Simpang Gadog hingga Simpang Taman Safari Indonesia.

Mulai pukul 03.00-13.00 WIB lajur 1 dan 2 diperuntukkan bagi kendaraan-kendaraan dari Jakarta menuju Puncak dan lajur 3 turun dari Puncak. Sementara pukul 12.30-14.00 WIB, lajur 1 tetap untuk kendaraan naik namun lajur dua ditutup sementara dari Simpang Gadog, untuk memastikan lajur 2 bersih dari kendaraan yang menuju Puncak. Sedangkan lajur 3 tetap untuk kendaraan turun.

Setelah lajur 2 steril dari kendaraan dari seluruh kendaraan, maka pada pukul 14.00-20.00 WIB, arus lalu lintas berubah menjadi lajur 1 untuk mengarah ke Puncak, kemudian lajur 2 dan 3 untuk kendaraan mengarah turun. Kemudian, mulai pukul 20.00-03.00 WIB, lalu lintas kembali normal dengan dua jalur untuk dua arah.

"Namun, jika kondisi di lapangan kemacetan sudah terlalu parah, maka dapat diberlakukan diskresi kepolisian. Ya dengan mengubah menjadi sistem buka tutup seperti biasa. Jadi kombinasi," jelas Bambang.

Menurutnya, kanalisasi ini tidak diterapkan setiap hari, alias hanya Sabtu dan Minggu. Sebab sistem ini bukan untuk mengurai kemacetan di Jalan Raya Puncak, melainkan untuk memudahkan aksesibilitas masyarakat setempat yang selama ini terganggu jika kepolisian menerapkan sistem buka tutup.

"Dalam menerapkan sistem ini kita bicara juga dengan masyarakat. Mereka, pada jam-jam tertentu terganggu dengan adanya sistem buka tutup. Jadi kanalisasi bukan untuk menyelesaikan kemacetan. Tapi untuk memberi aksesibilitas lebih kepada masyarakat. Kalau nanti kanalisasi jadi permanen berdasarkan kesepakatan, baru kita cari lagi kekurangannya apa," ujarnya.

Sementara Bupati Ade Yasin berharap kanalisasi bisa menjadi pengganti one way di Jalan Raya Puncak. "Karena masyarakat sekitar sudah jenuh juga dengan one way sejak 32 tahun lalu. Mereka kerap mengeluhkan aksesibilitasnya terganggu saat one way diberlakukan," tutupnya. (mdk/fik)

Baca juga:
Mulai 27 Oktober Diterapkan Sistem 2-1 di Jalur Puncak, Ini Jam Pemberlakuannya
Kurangi Kemacetan Jalur Puncak, Polisi Berlakukan Kanalisasi Mulai 27 Oktober
Tekan Macet Puncak, Kini Ada Bus Rute Blok M-Taman Safari
Urai Macet di Puncak Bogor, BPTJ Pertimbangkan Opsi Selain LRT
Polres Bogor Siapkan Alternatif Pengganti One Way di Jalur Puncak

TOPIK TERKAIT

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.