3 Bocah Bersaudara di Simalungun Terjangkit Difteri, 1 Meninggal Dunia

PERISTIWA | 6 Desember 2019 16:31 Reporter : Yan Muhardiansyah

Merdeka.com - Difteri masih menjadi ancaman serius di Sumatera Utara. Setelah sebelumnya merenggut nyawa mahasiswa, seorang anak asal Perdagangan, Kabupaten Simalungun juga meninggal akibat penyakit itu setelah dirawat di RSUP H Adam Malik Medan.

Anak yang meninggal dunia akibat difteri berinisial HS (5). Tiga saudaranya, YS (6), RS (3), dan MS (2), juga masih dirawat. YS dinyatakan sebagai probable difteri, RA suspect difteri, sedangkan MS masih diobservasi karena ada kontak dengan saudara-saudaranya.

"Kita sedang merawat 3 orang dari 1 anggota keluarga dikirim dari Perdagangan, Simalungun, yang pertama anak laki-laki usia 6 tahun kemudian yang kedua laki-laki perempuan usia 3 tahun dan yang ketiga itu adiknya usia 2 tahun," kata Ayodhia Pitaloka Pasaribu, dokter penanggung jawab pasien di RSUP H Adam Malik, Jumat (6/12).

1 dari 2 halaman

Korban Dalam Kondisi Tak Baik Dibawa ke RS

Ketiga pasien saat ini dalam kondisi membaik dibandingkan pertama dirawat di RSUP H Adam Malik. Setelah diberi terapi, responsnya semakin bagus.

Sementara saudara mereka, HS, tidak tertolong. Bocah itu meninggal dunia di RSUP H Adam Malik, Rabu (4/12) pagi. Ayodhia mengatakan, pasien itu memang sudah dalam kondisi tidak baik saat dibawa ke rumah sakit pada Senin (2/12).

"Datang ke kami sudah dengan napas yang sesak, kemudian sudah mengorok, sudah bengkak di leher, penurunan kesadaran juga sudah terjadi. Tekanan darah sudah rendah, kemudian nadi juga sudah halus," ujar Ayodhia.

2 dari 2 halaman

30 Anak Terjangkit Difteri Dirawat Sejak 2017

Puluhan anak-anak pasien difteri sudah dirawat di RSUP H Adam Malik Medan. Sejak 2017 jumlahnya mencapai 30 orang.

"Itu hanya anak-anak, yang meninggal 1 orang ini, itu pun karena terlambat. Kalau yang dewasa saya kurang tahu," ujar Ayodhia.

Para pasien difteri ini berasal dari sejumlah daerah di Sumut. Salah satunya dari Kota Medan.

Ayodhia mengatakan, sejauh ini tidak ada masalah dalam penanganan pasien difteri di RSUP H Adam Malik Medan. Obat-obatan, seperti antibiotik dan serum antidifteri cukup tersedia karena mereka terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Sumut.

Dia menjelaskan difteri merupakan penyakit yang disebabkan bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penyebaran dan progresnya sangat cepat, dan seharusnya dapat dicegah dengan immunisasi lengkap.

Gejala difteri seperti flu biasa, batuk pilek kemudian demam, tapi demamnya tidak tinggi. "Jadi kalau ada demam yang tidak tinggi kemudian dengan batuk pilek dan nyeri menelan sebaiknya masyarakat langsung ke pusat kesehatan supaya langsung diperiksa. Kalau dokternya buka ada selaput putih (di saluran pernapasan) maka diagnosa banding difteri harus masuk di situ, walaupun ada jenis penyakit yang lain sebenarnya," tukas dia.

Difteri kembali menjadi perhatian setelah seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU), Nurul Arifah Ahmad Ali (20) meninggal dunia di RSUP H Adam Malik, Medan, pada Sabtu (21/9). Warga Negara Malaysia ini diduga meninggal karena penyakit itu. (mdk/gil)

Baca juga:
20 Siswa SMAN 7 dan 212 dari MIN 1 Malang Terjangkit Carrier Difteri
2 Alasan Mengapa Bakteri Difteri Perlu Sangat Diwaspadai
Ini penyebab puluhan santri di Jember dehidrasi usai imunisasi difteri
Seorang bayi usia 8 bulan terjangkit difteri di Banda Aceh
6 Wabah virus paling mematikan, Indonesia pernah kena
Suspect difteri, bocah empat tahun di Temanggung meninggal dunia
Aceh jadi provinsi ketiga di Indonesia pengidap difteri terbanyak

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.