3 Hal ini bikin Khotib Jumat bisa diinterupsi

3 Hal ini bikin Khotib Jumat bisa diinterupsi
PERISTIWA | 8 Januari 2015 06:09 Reporter : Anwar Khumaini

Merdeka.com - Belakangan ini ramai dibicarakan tentang boleh tidaknya jemaah menginterupsi khotbah Jumat. Pembicaraan ini tidak hanya ramai di tengah masyarakat, tapi juga media sosial.

Terkait boleh atau tidaknya interupsi khotbah Jumat, Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (NU) memberikan penjelasan. Menurut pengurus Bahtsul Masail NU Mahbub Maafi Ramdlan, interupsi pada khotib di tengah khutbah Jumat diperbolehkan.

Dalam mazab Maliki dijelaskan bahwa diharamkan berbicara ketika khotib tengah menyampaikan khotbah Jumat. Diharamkan berbicara ketika imam sedang berkhotbah atau ketika ia duduk di antara dua khutbah.

Larangan berbicara ini ditujukan untuk semua jemaah baik yang mendengarkan khutbah atau tidak, baik yang di serambi masjid atau jalan yang terhubung dengan masjid.

Namun jika isi khutbah imam ternyata tidak tidak jelas atau ngawur, seperti memuji orang yang tak layak untuk dipuji atau mencaci orang yang sebenarnya tidak layak dicaci, maka larang berbicara tersebut menjadi gugur.

Berikut ini penjelasan lengkap Mahbub tentang interupsi pada khotbah Jumat seperti yang dihimpun merdeka.com dari laman nu.or.id, Rabu (7/1):

1 dari 3 halaman

Boleh interupsi jika rukun khutbah Jumat tak dilaksanakan

jika rukun khutbah jumat tak dilaksanakan rev1Salat Idul Fitri 1435 H di berbagai negara. ©AFP PHOTO

Rukun khutbah Jumat itu ada lima, pertama memuji Allah dengan lafazh al-hamd, kedua membaca shalawat kepada Rasulullah SAW dengan lafazh ash-shalat, ketiga, wasiat untuk bertakwa kepada Allah SWT, keempat, mendoakan orang-orang mukmin, dan kelima, membaca ayat Alquran minimal satu ayat.

Jika salah satu rukun tersebut tidak terpenuhi maka khutbahnya tidak sah, dan konsekuensinya adalah tidak sahnya salat Jumat. Dalam kondisi seperti maka yang dilakukan adalah melakukan iadah salat zuhur.

Sedang yang jadi persoalan di atas adalah menyangkut isi khutbah itu sendiri. Apakah diperbolehkan menginterupsi khotib yang isi khutbahnya adalah menjelek-jelekkan orang lain. Pada prinsipnya, menurut para fuqaha berbicara pada saat khutbah itu tidak diperbolehkan. Namun ada yang menarik dari pandangan madzhab Maliki.

Namun sebelum kami mengemukakan pandangan madzhab Maliki terlebih dahulu kami kemukakan bahwa menurut mereka, khotib dan imam salat Jumat itu harus satu orang kecuali ketika ada udzur. Artinya, yang menjadi khotib juga sekaligus menjadi imam.

2 dari 3 halaman

Boleh interupsi jika isi khutbah Jumat ngawur

jika isi khutbah jumat ngawur rev1Salat Idul Fitri 1435 H di berbagai negara. ©AFP PHOTO

Dalam pandangan madzhab Maliki diharamkan berbicara ketika imam sedang berkhutbah atau ketika ia duduk di antara dua khutbah. Larangan berbicara ini ditujukan untuk semua jamaah baik yang mendengarkan khutbah atau tidak, baik yang di serambi masjid atau jalan yang terhubung dengan masjid.

Lebih lanjut menurut mereka jika isi khutbah imam ternyata tidak tidak jelas atau ngawur, seperti memuji orang yang tak layak untuk dipuji atau mencaci orang yang sebenarnya tidak layak dicaci, maka larang berbicara tersebut menjadi gugur. Demikian sebagaimana dikemukan Abdurrahman al-Juzairi dalam kitab al-Fiqh ala Madzahib al-Arba`ah:

Menurut madzhab Maliki haram berbicara ketika khutbah dan ketika imam duduk di atas mimbar di antara dua khutbah. Dan dalam hal ini tidak ada perbedaan di antara orang yang mendengarkan khutbah atau tidak. Semua haram berbicara meskipun berada di teras masjid atau jalan yang terhubung dengan masjid.

Hanya saja keharaman berbicara tersebut sepanjang tidak terdapat dalam khutbahnya imam kesia-siaan atau ngawur (laghw), seperti memuji orang yang tak boleh dipuji, atau menghina orang yang tidak boleh dihina. Jika imam melakukan itu maka gugurlah keharamannya (berbicara ketika khutbah berlangsung atau ketika ia duduk di atas mimbar di antara dua khutbah) (Abdurrahman al-Juzairi, al-Fiqh ala Madzhabib al-Arbaah, Bairut-Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cet ke-2, 1424 H/2003 M, juz, 1, h. 361)

3 dari 3 halaman

Interupsi sebaiknya dilakukan usai salat Jumat

dilakukan usai salat jumat rev1Salat Idul Fitri 1435 H di berbagai negara. ©AFP PHOTO

Jika pandangan madzhab maliki ini ditarik ke dalam konteks pertanyaan boleh tidaknya interupsi saat khutbah Jumat, maka menginterupsi khotib yang dalam khutbahnya menjelek-jelekkan kelompok lain bisa saja diperbolehkan, sepanjang hal itu adalah masuk dalam kategori laghw. Dan tentunya harus didukung dengan pengetahuan yang benar.

Meskipun mengiterupsi khotib itu boleh menurut madzhab Maliki, namun jangan sekali-kali dilakukan tanpa dasar pengetahuan yang kuat. Dan jika khotib tidak menanggapi interupsi atau peringatan kita maka jangan mendesak khotib untuk membenarkan khutbahnya. Kendatipun demikian, sebaiknya jika khotib dalam khutbahnya ada hal-hal yang ngawur maka diingatkan setelah selesai salat Jumat dengan ungkapan yang santun, tetap menghormati khatib dan menjaga kemuliaan masjid. (mdk/did)

Baca juga:
NU: Khotbah Jumat boleh diinterupsi
Khotbah Jumat di Bengkulu bakal diseragamkan untuk cegah ISIS
MUI Mataram akan larang gerakan ISIS lewat Khotbah Jumat
Setelah MUI, Dewan Masjid kecam PDIP soal inteli khotbah Jumat
MUI kecam PDIP soal pengawasan khotbah Jumat
Tiga ulama Saudi dilarang khotbah Jumat seumur hidup
Masjid Nabawi berikan khotbah Jumat dalam bahasa isyarat

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan
TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami