3 Pengajar jadi Tersangka Pencabulan Santri, Kemenag Tak Cabut Izin Ponpes di Depok

3 Pengajar jadi Tersangka Pencabulan Santri, Kemenag Tak Cabut Izin Ponpes di Depok
ilustrasi garis polisi. ©2021 Merdeka.com
NEWS | 4 Juli 2022 21:27 Reporter : Nur Habibie

Merdeka.com - Kemenag memastikan tak mencabut izin operasional pondok pesantren Istana Yatim Riyadul Jannah, Depok, Jawa Barat. Pondok pesantren tersebut tengah disorot menyusul terkuak kasus pencabulan dan pemerkosaan dilakukan tiga guru mengaji dan seorang santri pria senior di lembaga pendidikan tersebut.

Polisi telah menetapkan keempatnya sebagai tersangka. Namun Kemenag memastikan tak ada saksi diberikan kepada ketiga pengajar yang telah menyandang status tersangka tersebut maupun izin operasional pondok pesantren Istana Yatim Riyadul Jannah.

"Sanksi secara kelembagaan tentu tidak ada, karena pelakunya bukan orang yang tinggal di pesantren. Juga pesantrennya sudah berjalan dengan baik. Pembelajaran memenuhi standar yang ditetapkan oleh Kemenag," kata Kepala Subdit Pendidikan Pondok Pesantren Kemenag Basnang Said saat dihubungi merdeka.com, Senin (4/7).

Basnang mengatakan, tiga tersangka sudah tidak lagi mengajar sejak 2021 silam. Sementara izin operasional pesantren dilakukan sejak 2011 silam. Izin operasional itu rutin diperbaharui pengelola mengikuti Peraturan Menteri Agama sesuai Nomor 30 Tahun 2020.

"Pesantren ini memiliki izin operasional pesantren dari Kemenag RI. Pesantren tersebut telah melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan kurikulum pesantren. 3 Orang yang diduga pelaku pencabulan tidak lagi mengajar dipesantren sejak 2021," kata Basnang.

Dia membantah bahwa Kemenag menepis kecolongan dan sembarang memberikan izin pondok pesantren hingga terjadi kasus pencabulan tersebut. Basnang menegaskan Kemenag selektif dalam memberikan izin operasional pondok pesantren.

Dia menambahkan bahwa menyerahkan pengusutan kasus pencabulan di Istana Yatim Riyadul Jannah tersebut kepada kepolisian.

"Kemenag dalam memberikan izin sangat selektif, harus memenuhi rukun pesantren dan ruh pesantren," tandasnya.

2 dari 3 halaman

Polisi Tetapkan 4 Tersangka

Sebelumnya, kasus dugaan pemerkosaan dan pencabulan di Pondok Pesantren Istana Yatim Riyadhul Jannah, Depok, Jawa Barat, terus bergulir. Dugaan pemerkosaan dan pencabulan sejumlah santri mencuat usai penasihat hukum dari para korban membuat laporan Polda Metro Jaya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Endra Zulpan menerangkan, pihaknya telah menetapkan empat orang sebagai tersangka. Adapun tiga tersangka di antaranya belatar belakang sebagai ustaz sedangkan satu orang lagi merupakan santri putra senior yang juga menimba ilmu di Pondok Pesantren Istana Yatim Riyadhul Jannah.

"Hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan oleh penyidik, sampai dengan hari ini tiga orang ustaz atau guru ngaji di ponpes tersebut, hasil gelar yang dilakukan oleh penyidik telah dinaikkan statusnya ke tahap penyidikan. Dan jadi tersangka," kata dia saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Senin (4/7).

Zulpan menerangkan, perbuatan tindak pidana persetubuhan dilakukan oleh satu ustaz dan satu santri putra senior. Sementara, dua orang ustaz lain melakukan tindak pidana pencabulan.

"Sampai dengan hari ini 4 orang pelaku ini sudah dinaikkan ke tahap penyidikan," ujar dia.

Kendati menyandang status sebagai tersangka, keberadaan empat orang masih disembunyikan pihak kepolisian. Diduga, keempat tersangka masih menghirup udara bebas.

"Penyidikan sudah menggelarnya seperti itu, nanti kalau masalah dia sudah diamankan ditangkap akan kami sampaikan lagi," ujar dia.

3 dari 3 halaman

Awal Mula Kasus Pencabulan Terkuak

Sebelumnya, sejumlah santriwati menjadi korban pencabulan dan pemerkosaan saat menimba ilmu di Pondok Pesantren Istana Yatim Riyadul Jannah, Depok, Jawa Barat. Kasus pencabulan ini telah dilaporkan ke Polda Metro Jaya.

Tercatat, ada empat ustaz dan satu kakak kelas sebagai terlapor. Pihak pelapor menjalani pemeriksaan perdana hari ini, Rabu (29/6).

Penasehat hukum pelapor, Megawati menjelaskan kronologi secara singkat tindakan asusila di pondok pesantren tersebut. Insiden ini diketahui kliennya usai mendengar cerita dari salah seorang korban. Pengakuannya, korban dan teman-teman suka mendapatkan tindakan-tindakan cabul.

"Korban dipanggil ke sebuah ruangan dan murid-murid lainnya itu, dilakukannya jadi satu ruangan itu hanya 5 santriwati tapi dicampur kelasnya ada yang kelas 2 ada yang kelas 3 ada yang kelas 4. Dan jadi setiap malam mereka datang ke kamar itu dan dibekap dan dilakukan itu (pelecehan). Ada yang di kamar mandi ada yang di ruangan kosong," kata Megawati di Polda Metro Jaya, Rabu (29/6).

Megawati menerangkan, beberapa korban pernah melaporkan kejadian ke pihak pondok pesantren, kepala santriwati. Namun, bukannya mereka bersimpati malah mendapat ancaman.

"Katanya 'jangan kasih tahu sama ibu kamu ya, kasihan nanti ibu kamu malah kepikiran'. Jadi dari ancaman itu anak-anak tidak berani lapor ke orang tuanya," ujar dia.

Menurut Megawati, 11 santriwati menjadi korban pelecehan. Namun, hanya 5 orang, yang berani bicara. Sementara itu, tiga orang korban telah memberikan kesaksian di hadapan penyidik.

"Jadi dari 3 korban itu saya kumpulkan bukti-bukti dan saya mendengarkan kronologinya itu seperti apa dan saya sudah merekam rekaman wawancara saya dengan korban ternyata memang kalau di kami itu sudah ada unsur untuk pelecehan, pencabulan dan pemerkosaan itu menurut kami," ujar dia.

Megawati menyebut, pelaku pencabulan dan pemerkosaan berjumlah 5 orang terdiri dari 4 ustaz dan satu kakak kelas mereka yang di bawah umur. Sementara aksi pencabulan dan pemerkosaan telah berlangsung satu tahun terakhir.

"Dan parahnya lagi seminggu setelah mau dijemput sama orang tuanya, kemarin malamnya itu masih (dilecehkan)," terang dia.

(mdk/gil)

Baca juga:
Beredar Video Kapolres Jombang Berlutut Saat Hendak Menangkap Buronan Pencabulan
Modus Ajak Makan, Siswa SMA di Palembang Cabuli Kakak Kelas
Empat Tersangka Pencabulan Santri di Depok Tak Ditahan, Ini Alasan Polisi
Hamili Anak Usia 15 Tahun, Seorang Remaja Diciduk
Wali Kota Idris: Pelaku Pencabulan 11 Santri di Depok Belum Diketahui
Polisi Tetapkan 3 Guru Ngaji & 1 Santri Pria Tersangka Persetubuhan di Ponpes Depok
Santri Korban Pencabulan Ustaz dan Senior di Depok Berjumlah 11, Hanya 3 Lapor Polisi

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini