4 Kisah Menegangkan Prajurit TNI Jadi Paspampres Kawal Presiden

PERISTIWA | 21 Februari 2019 05:30 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta

Merdeka.com - Tugas mengawal kepala negara tidaklah mudah. Di Indonesia, tugas mengawal presiden dilakukan oleh pasukan mengamankan presiden atau Paspampres. Anggota Paspampres berasal dari prajurit elite TNI.

Dalam menjalankan tugasnya mengawal presiden, ada banyak cerita yang mendebarkan. Terutama soal ancaman yang dapat membahayakan keselamatan seorang presiden.

Berikut ini kisah para prajurit TNI yang menjadi Paspampres saat mengawal presiden:

1 dari 4 halaman

Cerita Paspampres yang Kawal Jokowi ke Afghanistan

Jokowi di Afghanistan. ©twitter.com/pramonoanung

Mayjen (Mar) Suhartono menceritakan saat dirinya mengamankan kunjungan kenegaraan Presiden Jokowi ke Kabul, Afghanistan. Suhartono saat itu menjabat sebagai Komandan Paspampres. Saat itu kondisi Afghanistan sedang tak stabil. Suara dentuman bom di mana-mana. Tentu kejadian ini sangat membahayakan Jokowi beserta rombongan.

"Bahkan sampai menjelang pesawat akan lepas landas dari Daka, Bangladesh, ke Kabul, Afganistan, masih ada serangan teror di Military University di Kabul," kata Suhartono.

Selama penerbangan, Suhartono terus berkoordinasi dengan Paspampres Afghanistan serta aparat keamanan di Kabul untuk mengetahui perkembangan situasi di negara tersebut. "Dalam kondisi seperti ini, tugas Paspampres harus mampu mengamankan seorang Presiden dan Ibu Negara yang selalu mendampingi dalam kunjungan kenegaraan ini," ucap Suhartono.

Suhartono merasa lega akhirnya kunjungan Jokowi di tengah-tengah teror bom Afghanistan berjalan dengan aman dan lancar. "Rasa syukur pada Allah atas selesainya tugas dalam rangka kunjungan kenegaraan Presiden RI di Kabul - Afganistan dengan aman dan lancar. Lega satu tugas selesai dilaksanakan," tutur Suhartono.

2 dari 4 halaman

Paspampres Saling Todong Senjata dengan Pengawal Israel

Soeharto. ©repro Museum Purna Bhakti Pertiwi

Paspampres Presiden Soeharto sempat bersitegang dengan pengawal Perdana Menteri Israel. Mereka nyaris adu tembak. Insiden ini berawal saat Soeharto berkunjung ke New York, Amerika Serikat. Saat itu Soeharto juga menjabat sebagai Ketua Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Salah satu personel Paspampres saat itu adalah Sjafrie Sjamsoeddin.

PM Israel Yitzak Rabin ternyata ingin menyampaikan keinginannya untuk menemui Soeharto di hotelnya menginap. Kemudian ia dan pengawalnya dari Mossad datang untuk bertemu Soeharto. Namun cara mereka bertindak tidak mematuhi protokol keamanan dan terkesan arogan. Sehingga Rabin dan empat pengawalnya dicegat oleh paspampres Soeharto sebelum masuk lift.

Setelah mengutarakan niatnya, Rabin beserta para personel Mossad itu dikawal oleh Sjafrie menemui Soeharto. Saat hendak memasuki lift terjadilah 'insiden kecil' yang cukup menegangkan.

Tiba-tiba para pengawal Rabin tidak mau satu lift dengan Sjafrie dan para personel Paspampres. Mereka curiga pada Paspampres. Padahal sebelum masuk lift, Sjafrie dan personel Paspampres lainnya sudah dikenalkan dalam protokol Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) PBB yang artinya mereka memang personel resmi pengamanan Presiden Soeharto.

Sempat adu mulut, pengawal Presiden Israel dengan arogannya menodongkan senjata Uzi ke perut Sjafrie yang tetap ngotot masuk dalam lift. Namun kalah cepat dengan kegesitan tangan Sjafrie yang lebih dulu menempelkan moncong pistol ke perut tentara Israel itu. Sambil menatap mata Sjafrie yang tangannya siap menarik pelatuk.

“Sorry I understand it,” ujar pentolan Mossad itu sambil menurunkan arah senjatanya. Bahkan PM Israel pun ikut cemas lantaran dua orang Paspampres lainnya juga sudah siap menumpahkan peluru. Alhasil Yitzak Rabin rela menuruti prosedur pengamanan Paspampres dan menunggu 15 menit karena memang datang lebih awal dari jadwal diterima Pak Harto.

3 dari 4 halaman

Paspampres Lindungi Soekarno dari Serangan Bom

Soekarno. ©Deppen/Cindy Adams

Presiden Soekarno sering mendapat serangan hingga pembunuhan. Peran Paspampres sangat dibutuhkan saat ini. Seperti dalam kejadian pelemparan granat di Sekolah Perguruan Cikini tahun 1957 dan Makassar tahun 1962.

Ledakan granat tiba-tiba muncul saat Soekarno dan rombongannya meninggalkan Perguruan Cikini (PerCik). Lebih dari tiga granat dilemparkan ke arah Bung Karno. Beliau selamat dari kejadian itu berkat kesiap siagaan para Paspampres.

Kemudian saat di Makassar, 7 Januari 1962, Soekarno menghadiri Gedung Olahraga Mattoangin. Saat melewati Jalan Cendrawasih, seseorang melemparkan granat tapi meleset, jatuh mengenai mobil lain.

Tak hanya itu saja, Paspampres juga mampu meloloskan Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Kruschev saat di Indonesia. Saat itu Presiden Soekarno mendampingi saat Kruschev mengunjungi Bandung, Yogya, dan Bali.

Namun dalam perjalanan ke Jawa Barat, saat rombongan keduanya melintas di Jembatan Rajamandala, Cianjur, sekelompok anggota DI/TII menghadang. Beruntung, pasukan pengawal presiden Tjakrabirawa (sekarang Paspampres) sigap meloloskan kedua pemimpin tersebut.

4 dari 4 halaman

Paspampres Lindungi Soeharto Saat di Bosnia

soeharto. ©2012 Merdeka.com

Sjafrie Sjamsoeddin juga mengawal Soeharto saat berkunjung ke Sarajevo, ibu kota Bosnia Herzegovina. Kunjungan itu usai Soeharto bertemu dengan Presiden Kroasia Franjo Tudjman, di Zagreb pada tahun 1995.

Saat menuju Sarajevo di Bosnia, tiba-tiba rombongan Soeharto mendengar kabar pesawat yang ditumpangi Utusan Khusus PBB Yasushi Akashi ditembaki saat terbang ke Bosnia. Namun insiden penambakan itu tidak menyurutkan langkah Soeharto berangkat ke Bosnia. Saat itu Bosnia masih konflik dengan Serbia.

Setelah berdebat, PBB mengizinkan Soeharto terbang ke Bosnia. Syaratnya, Soeharto harus menandatangani surat pernyataan risiko. Artinya PBB tak bertanggung jawab jika suatu hal menimpa Soeharto di Sarajevo.

Presiden Soeharto langsung meminta formulir persyaratan kepada Sjafrie Sjamsoeddin. Dia langsung menandatangani surat itu tanpa ragu. Tak hanya itu saja, Sjafrie juga ketar-ketir saat Soeharto menolak mengenakan helm baja dan rompi antipeluru seberat 12 kg yang dikenakan oleh setiap anggota rombongan.

"Eh, Sjafrie, itu rompi kamu cangking (jinjing) saja," ujar Soeharto pada Sjafrie.

Pak Harto tetap menggunakan jas dan kopiah. Sjafrie pun ikut-ikutan mengenakan kopiah yang dipinjamnya dari seorang wartawan yang ikut. Tujuannya untuk membingungkan sniper yang pasti akan mengenali Presiden Soeharto di tengah rombongan.

Suasana mencekam. Saat mendarat di Sarajevo, Sjafrie melihat senjata 12,7 mm mengikuti pesawat yang ditumpangi rombongan Presiden Soeharto.

Saat konflik, lapangan terbang itu dikuasai dua pihak. Pihak Serbia menguasai landasan dari ujung ke ujung, sementara kiri-kanan landasan dikuasai Bosnia. "Pak Harto turun dari pesawat dan berjalan dengan tenang. Melihat Pak Harto begitu tenang, moral dan kepercayaan diri kami sebagai pengawalnya pun ikut kuat, tenang dan mantap. Presiden saja berani, mengapa kami harus gelisah," beber Sjafrie. (mdk/has)

Baca juga:
Kisah Para Presiden di Dunia Ogah Dikawal Ketat Paspampres
Profil Maruli Simanjuntak, Jenderal Bintang Dua Sopiri Jokowi Saat Blusukan
Pengakuan Danpaspampres Jadi Sopir Jokowi saat Blusukan ke Tambak Lorok
Cerita Haji Sueb jadi 'Paspampres' Dadakan Saat Jokowi Blusukan di Tambak Lorok
Jokowi Tetap Dikawal Paspampres saat Blusukan Malam Hari di Tambak Lorok Semarang
Pasca Ledakan, Paspampres Perketat Pengamanan Lokasi Debat Kedua Capres