8 Perahu nelayan rusak, pengelola kawasan reklamasi Losari tolak tanggung jawab

PERISTIWA » MAKASSAR | 15 Maret 2018 02:04 Reporter : Salviah Ika Padmasari

Merdeka.com - Sejumlah nelayan berasal dari Kecamatan Mariso berkumpul di lokasi reklamasi Center Point of Indonesia (CPI) yang berada di bentangan Pantai Losari, Makassar, Rabu, (14/3). Mereka menuntut ganti rugi ke pihak manajemen proyek reklamasi atas kerusakan delapan unit perahu nelayan saat melintas di bawah jembatan CPI.

Para nelayan dari tiga kelurahan di Kecamatan Mariso yakni Kelurahan Bontorannu, Kelurahan Mariso dan Kelurahan Pannambungan itu memastikan perahu-perahu kecil 7,5 PK (Paarden Kracht) hingga 14 PK itu hancur karena desakan arus yang begitu kuat di bawah jembatan. Akibatnya nelayan tak mampu mengendalikan perahu dan perahu pun terbalik. Semua isi kapal jatuh termasuk hasil tangkapan seperti ikan dan cumi.

"Semalam sejumlah nelayan melaut dan pulang subuh-subuh dalam situasi hujan deras. Saat melintas di bawah jembatan CPI, ada delapan perahu yang tidak selamat karena desakan arus kuat. Empat perahu yang hancur, empat lagi rusak. Nelayannya selamat karena mereka melompat ke atas beton persegi di tiang beton jembatan," kata Yusuf, (37), ketua nelayan Bontorannu.

Menurut Yusuf, terjadi pendangkalan laut di bawah jembatan CPI lantaran merosotnya tumpukan pasir masuk ke laut karena tidak dibatasi dengan tanggul. Akhirnya, arus di pertemuan air pembuangan dari daratan dan lautan menjadi berputar kuat. Bagi perahu yang kemudi dan mesinnya sudah tua, tidak mampu melawan arus, pasti terbalik. Kalaupun ada perahu yang selamat melintasi bawah jembatan menuju dermaga di pelelangan Rajawali atau ke kanal di Jalan Manunggal, itu dikarenakan gesitnya nelayan menguasai perahunya.

"Pihak proyek CPI harus bertanggung jawab atas kerusakan perahu-perahu nelayan. Kerugian satu kapal itu sekira Rp 7 juta, itu baru fisik perahu belum termasuk mesin dan alat tangkap yang hilang," kata Yusuf seraya menambahkan, soal pendangkalan laut yang menjadi rute nelayan menuju laut lepas itu sudah berkali-kali disampaikan langsung ke pihak proyek agar segera dikeruk lagi untuk mempermudah akses perahu nelayan tapi permintaan itu tidak pernah digubris.

Soeprapto Budisantoso, penanggung jawab kerjasama reklamasi kawasan CPI yang dikonfirmasi menolak untuk bertanggung jawab atas kerusakan perahu nelayan tersebut.

Alasannya, mereka belum tahu persis penyebab terbaliknya perahu tersebut meski kejadiannya dalam kawasan proyek. Jika disebut perahu rusak karena desakan arus kuat imbas dari aktivitas reklamasi, Soeprapto membantahnya.

"Tidak ada arus kuat di bawah jembatan, itu adalah kawasan air mati sebagaimana hasil penelusuran ahli-ahli kelautan. Sehingga di situ tidak ada air mengalir dan tidak menimbulkan ombak.

"Mungkin perahunya terbalik sendiri karena tidak ada juga kejadian perahu yang terbalik dan rusak karena menabrak alat kita misalnya. Jadi kita tidak bertanggung jawab," tandas Soeprapto Budisantoso.

Dia menegaskan lagi, karena di bawah laut itu adalah air mati, tidak mengalir makanya di situ berbau. Di titik itu adalah pertemuan saluran pembuangan warga dari wilayah Kelurahan Jongayya dan Hotel Rindra. Artinya sama sekali tidak ada arus deras yang disebut penyebab terbaliknya perahu nelayan dan alami kerusakan berat.


Menteri Susi bongkar modus 4 kapal ikan asing selundupkan narkoba
Susi sebut penyelundupan narkoba dengan kapal ikan kejahatan terorganisir
KKP salurkan 148 kapal ikan kepada nelayan Morotai
Hampir sepekan terombang-ambing di laut, 2 nelayan ditemukan berkat ponsel
Kapal hilang di perairan Kaltim, 2 nelayan ditemukan di laut dalam kondisi selamat
Menengok perbaikan kapal di Pelabuhan Muara Baru

(mdk/bal)