80 Persen Orangutan Kaltim Tinggal di Luar Area Konservasi, 1 Mati Jadi Sorotan Dunia

PERISTIWA | 30 Januari 2019 01:32 Reporter : Saud Rosadi

Merdeka.com - Satwa Orangutan Kalimantan Timur (Pongo Pygmaeus Morio), kian terjepit aktivitas tambang batubara hingga kebun sawit, lantaran sebagian besar hidup di luar areal konservasi. Kondisi itu riskan bagi populasi orangutan. Sebab, kematian 1 orangutan akibat konflik, bisa jadi sorotan dunia internasional.

"Saat ini, 70 hingga 80 persen, habitat orangutan berada di luar area konservasi. Tersebar ada di HPH, kebun sawit dan pertambangan di Kaltim," kata Kepala BKSDA Kalimantan Timur, Sunandar Trigunajasa, usai jadi pembicara pada seminar "Diseminasi Kehidupan Orangutan di Multi Fungsi Landskap", yang digelar di Samarinda, Selasa (29/1).

Habitat Orangutan, tersebar di sejumlah wilayah di kabupaten Kutai Timur, Bontang, Kutai Kartanegara, hingga sebagian Berau. "Dukungan stake holder, jadi sangat penting untuk perlindungan orangutan. Karena, kematian 1 orangutan saja akibat konflik orangutan dengan perusahaan, dan masyarakat, itu jadi isu nasional bahkan internasional," ujar Sunandar.

Diterangkan Sunandar, pada areal perusahaan sawit, kehutanan dan pertambangan yang di dalamnya terdapat habitat Orangutan, perlahan mulai berkomitmen untuk melindungi satwa yang masuk kategori sangat terancam punah itu.

"Misal perusahaan sawit. Sekarang, sudah banyak tekanan dari RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) dan ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil System), untuk ikut mengelola satwa liar terutama orangutan, agar tidak sampai terzalimi," sebut Sunandar.

"Jejaring ragam organisasi pemerhati orangutan, sangat membantu. Beberapa perusahaan, juga dilatih jadi satgas konflik Orangutan. Kalau evakuasi, tetap mesti koordinasi dengan BKSDA," tegasnya.

Masih dijelaskan Sunandar, sepanjang 2018 kemarin, BKSDA Kaltim, mencatat sedikitnya ada 15 laporan terjadinya konflik Orangutan. "Terbanyak laporan dari masyarakat, soal kebun mereka dimasuki Orangutan, karena sumber pakan mereka di hutan sudah tidak ada," terang Sunandar.

Sementara, akademisi sekaligus peneliti Orangutan dari Ecology and Conservation Center for Tropical Studies DR Yaya Rayadin juga menerangkan, saat ini sudah ada sekitar 600 satgas Orangutan dari berbagai perusahaan.

"Para perusahaan ini ketika dikasih konsesi, harus menangani dan melindungi Orangutan. Di level manajemen atas, harus komitmen untuk perlindungan satwa. Sebab, di level lapangan, berat untuk dilaksanakan. Maka, komitmen itu diwujudkan melalui satgas yang bertugas untuk proses evakuasi dan translokasi, kalau menemukan Orangutan di dalam areal perusahaan," demikian Yaya.

Baca juga:
Deforestasi Ancam Habitat dan Populasi Orangutan Aceh
Warga Aceh Pelihara Anak Orangutan di Kandang Ayam
Kondisi Alba Si Orangutan Albino Langka di Hutan Kalteng Terus Membaik
Usai Direhabilitasi, Orang Utan Albino Dilepas di Hutan Taman Nasional Kalteng
Melihat Kehidupan Alba, Orangutan Albino Usai Dilepas ke Alam Liar Hutan Kalimantan
Akan Dijual Online, Bayi Orangutan Mati

(mdk/bal)