80 WNI Dievakuasi dari Ukraina, 30 Merupakan PMI Asal Bali

80 WNI Dievakuasi dari Ukraina, 30 Merupakan PMI Asal Bali
Kepala BP2MI Benny Rhamdani. ©2020 Liputan6.com/Tira Santia
NEWS | 4 Maret 2022 13:44 Reporter : Muhamad Agil Aliansyah

Merdeka.com - Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) memastikan 30 pekerja migran Indonesia (PMI) telah berhasil dievakuasi dari Ukraina dan telah tiba di Tanah Air bersama dengan rombongan warga negara Indonesia lainnya. 30 PMI itu bagian dari 80 WNI yang telah dievakuasi pemerintah dari Ukraina.

"Di antara 80 orang warga negara Indonesia ada 30 pekerja migran Indonesia yang dievakuasi dari Ukraina kembali ke Tanah Air," kata Kepala BP2MI Benny Rhamdani dalam konferensi pers virtual, diikuti dari Jakarta, Jumat (4/3).

Para pekerja migran itu telah tiba di Indonesia bersama rombongan WNI lainnya pada 3 Maret 2022 pada pukul 17.10 WIB.

Dia menjelaskan bahwa tenaga kerja Indonesia (TKI) yang berhasil dievakuasi dari Ukraina tersebut terdiri dari 29 perempuan dan satu orang laki-laki. Kebanyakan dari PMI yang dievakuasi bekerja sebagai spa terapis dan berasal dari Bali.

2 dari 3 halaman

14 WNI Masih di Rumania

Dia mengatakan bahwa masih terdapat 14 WNI yang berada di Bukares, Rumania, karena mayoritas dari mereka terpapar Covid-19. Dari tes yang dilakukan 12 orang positif Covid-19 dan dua orang memilih tinggal di Bukares untuk menemani anak mereka yang juga terkonfirmasi positif.

"Enam orang di antaranya adalah pekerja migran Indonesia yang diketahui dan dinyatakan positif Covid-19," ujar dia.

Benny memastikan perwakilan Indonesia di Bukares akan terus memantau keadaan 14 orang tersebut dan jika telah memungkinkan akan dievakuasi menggunakan pesawat kembali ke Indonesia.

Untuk PMI yang telah tiba telah dinyatakan tidak terinfeksi Covid-19 setelah menjalani tes di Indonesia dan saat ini menjalani karantina di Wisma Pasar Rumput, Jakarta.

"BP2MI akan membantu memfasilitasi para pekerja migran Indonesia nanti pulang ke daerah asalnya setelah selesai menjalani masa karantina," ujar Benny.

3 dari 3 halaman

Kawal Pemulangan PMI

BP2MI memastikan bertanggung jawab untuk pekerja migran Indonesia yang telah dievakuasi dari Ukraina agar kembali ke kampung halamannya setelah selesai menjalani karantina.

"Khusus untuk pekerja migran Indonesia nanti mereka kembali ke kampung halaman itu dalam tanggung jawab BP2MI, kepulangan mereka," kata Benny.

Fasilitas yang disediakan termasuk penampungan jika belum mendapatkan jadwal kepulangan serta tiket transportasi untuk kembali ke daerah masing-masing.

BP2MI memverifikasi bahwa delapan orang dari 30 PMI yang dievakuasi telah terdaftar di sistem SISKOP2MI. Sisanya, jelas Benny, tidak tercatat dalam sistem BP2MI.

Namun, hal itu bukan berarti 22 orang tersebut adalah pekerja non-prosedural. Karena bisa dikategorikan sebagai pekerja resmi yang berangkat melalui skema mandiri.

Dia menjelaskan bahwa delapan orang yang telah terdaftar di sistem BP2MI telah memiliki jaminan sosial ketenagakerjaan. Sementara untuk 22 orang PMI yang lain, BP2MI akan memverifikasi keberadaan jaminan sosial tersebut.

Terkait kontrak kerja, para PMI tersebut bisa melanjutkan pekerjaannya di tempat yang sama menunggu hingga konflik di negara penempatan telah usai.

"Atau jika mereka memilih untuk tidak melanjutkan pekerjaannya kemudian berkeinginan untuk melanjutkan pekerjaan ke negara lain maka semua akan difasilitasi BP2MI. Dalam arti BP2MI akan menghubungkan mereka dengan pihak user di negara-negara penempatan," kata Benny, dikutip dari Antara.

(mdk/gil)

Baca juga:
Zelenskyy Sebut Tentara Rusia Anak-Anak Bingung yang Diperalat
Ukraina Laporkan Tak Ada Kenaikan Radiasi Usai PLTN Terbakar Diserang Rusia
Reaktor Nuklir Terbesar Eropa di Ukraina Terancam Meledak Diserang Pasukan Rusia
Dibombardir Rusia, Pembangkit Listrik Nuklir Terbesar Eropa di Ukraina Terbakar
Viral Aksi Influencer Cantik Rusia Tunjukkan Cara Mengendarai Tank
Perundingan Kedua Rusia-Ukraina Sepakati Bantuan Kemanusiaan untuk Warga Sipil
Nestapa Satwa Kebun Binatang Kiev Bertahan di Tengah Peperangan

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini