Acit Si Pelestari Opera Wayang Orang China

PERISTIWA | 25 Januari 2020 07:34 Reporter : Irwanto

Merdeka.com - Perkembangan zaman disinyalir menjadi penyebab utama wayang orang China di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir semakin dekat dengan kepunahan. Kaum muda atau lebih dikenal milenial cenderung menggandrungi tontonan di televisi maupun bioskop ketimbang kesenian masa lampau.

Gempuran budaya baru itu menjadi lawan berat bagi pria paruh baya bernama Acit (53). Kakek tiga cucu bernama asli Hasan alias Tan Tiau Guan itu tetap berupaya melestarikan kesenian tradisional opera hokkian.

Merdeka.com pun mengunjungi kediamannya yang berada di Jalan M Isa, Lorong Cinta Damai, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang, belum lama ini. Orangnya bersahaja, pertanyaan demi pertanyaan dijawabnya dengan tegas dan bersemangat.

"Saya ini generasi ketiga penerus opera hokkian atau wayang orang China. Kelompok kami bernama Sam Khau Bun Gei Susah," ungkap Acit belum lama ini.

1 dari 5 halaman

Dia menceritakan, kelompok kesenian ini terbentuk sejak 1947. Perjalanannya banyak mengalami rintangan, sempat vakum beberapa kali karena situasi politik Nusantara.

"Tahun 1965 berhenti karena pemberontakan PKI, terus vakum lagi 1998 ada kerusuhan, terus 2000, saya lupa ada apa waktu itu, tapi cukup berat bagi kami," terangnya.

Acit mengaku sudah lama menggeluti kesenian ini, terhitung puluhan tahun. Ia merasakan menjadi pemain, berlatih secara otodidak, hingga terpilih menjadi ketua kelompok beberapa periode sejak sebelas tahun lalu hingga sekarang.

Selama puluhan tahun, kelompok ini menguasai pergelaran wayang orang China di Palembang. Bahkan, Acit mengklaim kelompoknya adalah tinggal satu-satunya di Indonesia karena yang kelompok serupa di daerah-daerah lain keburu bubar.

2 dari 5 halaman

"Sepengetahuan saya, kelompok wayang orang hokkian dari kelopak kami tinggal satu-satunya di Indonesia, yang lain-lain pada tutup semua," kata dia.

Meski tetap eksis, pecinta wayang orang China, terutama menjadi pemain, sangat sedikit. Kelompok Acit hanya berjumlah 60 orang, usia mereka mulai dari 17 hingga 90 tahun. Semuanya laki-laki.

Jumlah itu tidak sebanding dengan banyaknya etnis Tionghoa di 'Kota Pempek'. Masyarakat lebih memilih menjadi penonton ketimbang memainkan peran dalam drama yang ditampilkan.

"Sedih memang kalau mikir orang tak mau lagi lestarikan budaya nenek moyang," tuturnya.

Menurut Acit, banyak faktor yang menyebabkan wayang orang China tidak lagi menjadi pilihan berkreasi. Semisal kesenian ini tak bisa dijadikan tempat mencari nafkah atau keuntungan. Sebab upah yang diterima sangat kecil, tidak sebanding dengan modal pertunjukan maupun kostum.

3 dari 5 halaman

Kostum yang digunakan terbilang sangat mahal dan harus dibeli dari China langsung. Satu kostum untuk satu orang atau satu peran saja dibutuhkan Rp 8 juta hingga Rp 15 juta. Bagaimana jika dalam satu drama dimainkan lebih dari sepuluh orang atau lebih yang masing-masing memerlukan banyak kostum.

"Bukannya sombong, pemain wayang orang China ini orang-orang kaya, anak-anak tauke semua, yang punya hobi saja. Kalau mau cari duit dari situ tidak bisa, sekali tampil paling dapat seratus ribu, cukup buat beli rokok saja," kata dia.

Kemudian, kemajuan teknologi dan perkembangan zaman mengubah pola pikir masyarakat kekinian. Mereka lebih aktif di bidang kesenian modern ketimbang wayang orang China yang jarang tampil.

"Kalau begini, cepat atau lambat wayang orang China akan punah juga. Apalagi di Palembang tidak ada yang mau mengurus kecuali saya. Jadi selagi saya masih hidup dan sehat, saya akan terus lestarikan budaya ini," ujarnya.

4 dari 5 halaman

"Niat saya tidak muluk-muluk, saya cuma pingin anak-anak yang aktif di kesenangan ini tidak narkoba saja, terus berusaha melestarikan, itu saja," sambungnya.

Acit mengatakan, drama yang pernah ditampilkan oleh kelompoknya sebanyak 200 judul. Satu kali tampil menghabiskan waktu lama, empat sampai lima jam.

Opera yang dipertunjukkan diambil dari kisah-kisah nyata atau legenda negara China. Misalnya ular putih, Sun Go Kong, 6 Jenderal, Han Xiang Che, atau juga cerita kehidupan dalam rumah tangga.

"Semua film memiliki tontonan sekaligus tuntutan, mengajarkan kebaikan," kata dia.

Kelompok ini biasa perfomance setiap ulang tahun kelenteng. Kadang ada juga panggilan dari luas Palembang, seperti Lahat, Lubuklinggau, hingga Jambi dan Medan. Di kota terakhir, mereka kerap diundang setiap tahun dan tampil sebulan penuh.

"Sebentar lagi kami mengisi di Pulau Kemaro ketika Cap Go Meh nanti, setiap tahun tampil di sana, banyak juga yang nonton," ujarnya.

5 dari 5 halaman

Acit berkeinginan besar mengenalkan kesenian tradisional ini ke anak-anak sekolah. Hanya saja, selama ini tak satu pun lembaga pendidikan etnis Tionghoa mengajarkan kesenian ini di kurikulumnya.

"Setahu saya tidak pernah diajarkan," kata dia.

Acit juga menyayangkan minimnya dukungan pemerintah, baik pusat, terlebih daerah setempat. Mereka sama sekali tak pernah mendapatkan bantuan dari APBD maupun APBN.

"Tolong yang ini dicatat, dukungan pemerintah tidak ada sama sekali, apapun bentuknya," pungkasnya. (mdk/cob)

Baca juga:
Menikmati Karya Basoeki Abdullah yang Mendunia
Kumpulkan Donasi untuk Seniman, Didik Nini Thowok Mengamen di Malang
Tarian Kolosal Nyimas Melati Gambaran Pejuang dari Tangerang
DPRD DKI Nilai Revitalisasi Mampu Bantu Seniman Biayai Perawatan TIM
Jakpro Ungkap Konsep Hotel Ramah Seniman yang akan Dibangun di TIM

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.