Ada Konflik dengan Mahapatih Sebelum Keraton Agung Sejagat Berdiri

PERISTIWA | 18 Januari 2020 16:59 Reporter : Danny Adriadhi Utama

Merdeka.com - Polda Jateng mengungkap motif Raja Totok Santosa (42) dan Fanni Aminadia (41) melakukan aksinya karena ekonomi. Ada dugaan, keduanya hendak mengeruk uang warga yang berminat menjadi pengikut di Keraton Agung Sejagat.

"Tujuan akhir dari pembangunan kerajaan ini untuk mengumpulkan dana dari masyarakat. Dengan memberikan harapan supaya kehidupan menjadi lebih baik. Pejabat-pejabat yang diangkat kerajaan diimingi-imingi dengan rupiah ataupun dolar," kata Kapolda Jateng Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel, Sabtu (18/1).

Dia menyebut Keraton Agung Sejagat itu terlebih dahulu terbentuk di Yogyakarta. Namun karena tidak diterima masyarakat akhirnya Raja dan Ratu serta temannya Wiwik mendirikan Kerajaan di Jawa Tengah, tepatnya di Purworejo.

Namun karena disinyalir saling cekcok internal, akhirnya Totok bersama Fanni memisah dan membangun kerajaan serupa di Purworejo. Di Klaten sendiri berdiri kerajaan serupa dengan dipimpin seorang Mahapatih bernama Wiwik. Wiwik sendiri melainkan teman Totok Santosa dan Fanni.

"Wiwik ini masih di periksa saksi di Polres Klaten. Dia diketahui menjabat sebagai Maha Menteri atau Patih KAS di Klaten," jelasnya.

Direktur Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jateng Kombes Budi Haryanto melihat, terbentuknya KAS disinyalir tersebar hingga Kendal. Namun untuk sementara ini, pihaknya belum bisa membeberkan jumlah pengikut KAS di Kendal.

"Tapi untuk sebaran korban di Kendal, belum ada laporan. Namun ada kemungkinan tersangka baru di balik kasus berdirinya KAS," kata Budi Haryanto.

Untuk melengkapi berkas, pihaknya akan meminta keterangan saksi sejumlah wartawan yang ikut meliput pendeklarasian Keraton Agung Sejagat di Purworejo. Saksi nantinya untuk memberikan keterangan seputar apakah kegiatan itu diundang untuk di publikasi. Sebab dalam keterangan Raja Totok Santosa (42) tidak mengundang para wartawan terkait peliputan kegiatan Keraton Agung Sejagat di Purworejo.

"Ada beberapa wartawan nanti, kami mintai keterangan saksi untuk melengkapi berkas penyidikan. Nantinya saksi apakah pada acara kirab diundang untuk meliput atau tidak," ungkapnya.

Dari keterangan kedua tersangka yang kini ditahan pihaknya mengaku tidak mengundang wartawan saat pendeklarasian KAS di Kecamatan Bayan, Purworejo, beberapa waktu lalu.

Saat ditanya berapa wartawan yang akan dimintai keterangan, Budi belum bisa merinci jumlahnya. Namun, pihaknya menegaskan hanya memanggil demi kelengkapan berkas.

"Maka dari itu, kami ingin tahu kebenarannya seperti apa. Kami butuh keterangan dari para wartawan di sana (Purworejo), seperti apa alur ceritanya. Karena dari pengakuan wartawan di sana, mereka diundang," tutup Budi Haryanto. (mdk/did)

Baca juga:
Pinjam HP Dalih Hubungi Kerabat, Ratu Keraton Agung Sejagat Ternyata Update Status IG
VIDEO: Warga Temukan Makam di Rumah Kontrakan Ratu Kerajaan Agung Sejagat
Makam di Halaman Kontrakan Raja Agung Sejagat Dibongkar, Isinya Kendi Ditutupi Kain
Tempati Lapas Semarang, Kondisi Ratu Keraton Agung Sejagat Dipantau Petugas
Rajanya Ditangkap, Pengikut Keraton Agung Sejagat di Sleman Pindah
Ada Makam Bayi di Halaman Rumah Kontrakan Raja Keraton Agung Sejagat

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.