Agar Tak Jadi Komoditas Politik, Kasus Penculikan 98 Harus Segera Dituntaskan

PERISTIWA | 12 Maret 2019 16:59 Reporter : Sania Mashabi

Merdeka.com - Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Nasir Djamil menyarankan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Agum Gumelar membuka bukti yang dimiliki terkait tragedi penculikan aktivis 1998. Dia menegaskan hal itu perlu dilakukan agar kasus tersebut tidak simpang siur.

"Nah karena itu perlu dipertimbangkan kalau memang sudah punya bukti ya disampaikan ke jalurnya sehingga tidak becek istilahnya, tidak becek disampaikan ke jalurnya," kata Nasir di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (12/3).

Nasir menegaskan tragedi 1998 harus segera diungkap. Sebab dikhawatirkan kasus itu bisa disalahgunakan dan dijadikan komoditas politik oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.

"Karena itu memang siapapun menurut saya yang terpilih menjadi presiden di 2019 ini, maka dia harus menuntaskan ini. Agar kemudian tidak menjadi komoditas apalagi menjadi komoditas politik dari pihak-pihak tertentu karena ini harus diselesaikan," ungkapnya.

Permasalahannya saat ini, lanjut Nasir, Indonesia tidak memiliki regulasi untuk menuntaskan tragedi itu. Karena itu dia berharap Presiden selanjutnya bisa menyelesaikan masalah ini.

"Di undang-undangnya sehingga kita tidak punya rujukan untuk kemudian meng-clear-kan semuanya, ini problem menurut saya. Jadi ini bukan problem 01 atau 02, ini problem bangsa," ucapnya.

Sebelumnya, jagat media sosial diramaikan dengan pernyataan anggota Wantimpres Jokowi-JK, Agum Gumelar soal penculikan aktivis pada 1998 lalu. Agum mengaku tahu dimana para aktivis itu dikubur usai dibunuh.

Agum awalnya menjelaskan mengenai struktur anggota Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang menyidangkan kasus penculikan. DKP diisi oleh perwira TNI bintang tiga. Termasuk di dalamnya Agum Gumelar dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Berjalanlah DKP, bekerjalah DKP, sebulan lebih memeriksa yang namanya Prabowo Subianto, periksa. Dari hasil pemeriksaan mendalam, ternyata didapat fakta bukti yang nyata bahwa dia melakukan pelanggaran HAM yang berat," jelas Agum dalam video itu.

Agum yang juga mantan Danjen Kopassus itu melakukan pendekatan dengan mantan anak buahnya yang berdinas di Kopassus. Dari situ terungkap, dimana para aktivis itu dibunuh.

"Tim Mawar yang melakukan penculikan itu, bekas anak buah saya semua dong. Saya juga pendekatan dari hati ke hati kepada mereka, di luar kerja DKP. Karena mereka bekas anak buah saya dong. Di sini lah saya tahu bagaimana matinya orang-orang itu, di mana dibuangnya, saya tahu betul," ujar dia. (mdk/dan)

Baca juga:
Agum Gumelar Cerita Penculikan Aktivis, TKN Jokowi Tak Mau Ikut-Ikut
Agum Gumelar Bisa Kena KUHP Jika Tutupi Fakta Penculikan Aktivis '98
Demokrat Minta Agum Gumelar Tak Kaitkan Masa Lalu dengan Pilpres 2019
Korban Penculikan: Agum Gumelar Tak Jujur, Lindungi Kejahatan Ya Penjahat Juga
BPN: Pernyataan Agum Gumelar Soal Prabowo Pelanggar HAM Hidangan Basi
Beredar Video Pengakuan Agum Gumelar tentang Prabowo dan Pembunuhan Aktivis '98

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.