Ahli Epidemiologi: Rapid Test Tidak Ada Gunanya

Ahli Epidemiologi: Rapid Test Tidak Ada Gunanya
Rapid test peserta UTBK SBMPTN. ©HO Pemkot Surabaya
NEWS | 13 Juli 2020 12:53 Reporter : Supriatin

Merdeka.com - Ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Pandu Riono meminta pemerintah setop menggunakan rapid test untuk mendeteksi pasien positif Covid-19. Terlebih, rapid test menjadi syarat wajib untuk mereka yang mau bepergian.

Pandu menilai, pemerintah sebaiknya hanya menggunakan polymerase chain reaction (PCR). Alasannya, rapid test hanya metode skrining awal untuk mendeteksi antibodi.

Sedangkan PCR, pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, atau virus dalam tubuh manusia.

"Rapid test tidak ada gunanya. Maksudnya dari segi programnya tidak ada manfaatnya untuk skrining, surveillance, tidak ada manfaatnya untuk testing-testing," katanya saat dihubungi merdeka.com, Senin (13/7).

Pandu menyebut, dari 34 provinsi di Indonesia, hanya Sumatera Barat yang sudah menggunakan PCR secara utuh untuk mendeteksi orang terpapar Covid-19. Sumatera Barat sama sekali tidak menggunakan rapid test.

Berbeda dengan Sumatera Barat, Jawa Timur justru cenderung menggunakan rapid test ketimbang PCR. Akibatnya, Jawa Timur kewalahan menghadapi masifnya kasus Covid-19.

"Jawa Timur itu salah dari awal," ujarnya.

Baca Selanjutnya: Pandu juga menyoroti tingginya kasus...

Halaman

(mdk/rnd)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami