Air PDAM Macet Setahun, Warga Ramai-Ramai Copot Meteran

PERISTIWA | 4 Agustus 2019 22:33 Reporter : Afif

Merdeka.com - Warga Gampong Cot Lamkuweuh, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh ramai-ramai membongkar meteran air PDAM. Sebab, sudah lebih dari setahun, pasokan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Daroy macet. Aksi ini digelar di depan pintu gerbang masuk ke gampong tersebut, Minggu (4/8).

Kaum ibu-ibu dan bapak mulai berkumpul dan meletakkan meteran dan pompa air depan pintu gerbang. Tampak juga ada spanduk dipasang bertuliskan "Pak Wali kami tidak minum dan mandi dengan janji, air mengering sampai jauh."

Seorang warga, Hendra mengatakan, sudah hampir dua tahun pihaknya tidak mendapatkan suplai air yang lancar. Parahnya, warga harus merogoh kocek lebih banyak untuk membeli tempat penampungan air yang besar. Karena air PDAM Kota Banda Aceh hanya bisa mengalir menjelang tengah malam.

"Hampir dua tahun kami tidak mendapatkan suplai air yang lancar, kalau tidak ada penampung air yang besar, air tengah malam mengalir itu untuk mandi saja tidak cukup," kata Hendra.

Katanya, lebih 60 kepala keluarga di Gampong Cot Lamkuweuh sama sekali tidak mendapatkan suplai air. Sementara meteran tetap aktif dan harus membayar beban setiap bulannya kepada pemerintah kota Banda Aceh.

"Permasalahan air yang sudah cukup lama macet, bisa diselesaikan dengan cepat dan warga kembali bisa menikmati suplai air dari PDAM Kota Banda Aceh," harapnya.

Kepala Desa Gampong Cot Lamkuweuh, Afrizal menjelaskan, aksi hari ini digelar bentuk kekecewaan warganya karena sudah cukup lama tidak mendapat suplai air. Padahal air merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang wajib dipenuhi oleh negara.

Dia menuturkan, suplai air biasanya mengalir pada pukul 2 hingga 3 malam setiap hari. Menjelang subuh, atau pada pukul 4.00 WIB suplai air PDAM langsung mati total. Meskipun menggunakan pompa air, tetap saja tidak ada air mengalir.

"Makanya kami tulis itu (spanduk) kami ini bukan kelelawar menjaga air tiap malam," kata Afrizal yang akrab disapa Bang Adek.

Dia menceritakan, warga harus begadang tiap malam untuk menampung air. Jika tidak, maka air tidak cukup untuk kebutuhan mandi, mencuci pakaian dan kebutuhan lainnya. "Bahkan pun sudah bergadang kadang Cuma setengah bak dapat air," ungkapnya.

Dia mengaku sudah beberapa kali menyampaikan keluhan masyarakat kepada pihak pemerintah. Beberapa kali petugas PDAM datang ke lokasi memeriksa instalasi pipa. Namun tidak pernah ada solusi jangka panjang.

"Namun mereka hanya datang saja dan tetap tak bisa diselesaikan," jelasnya.

Saat mengetahui adanya aksi protes warga, Camat Meuraxa Ardiansyah langsung turun ke lokasi bersama Forom Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Muspika). Dia mengaku sudah melaporkan kasus ini kepada pemerintah Kota Banda Aceh dan juga Direktur PDAM.

"Pihak PDAM bilang kepada saya akan prioritaskan penyelesaian macet air di sini (Cot Lamkuweuh)," jelas Ardianyah.

Pihak PDAM tidak berjanji kapan persoalan macetnya suplai air ke gampong Cot Lamkuweuh diselesaikan. Mereka hanya menyebutkan akan segera memperbaiki dan menjadi prioritas perbaikannya. (mdk/noe)

Baca juga:
Peneliti ITB Sebut Permukaan Tanah di Bandung Turun sampai 10 Cm per Tahun
Menteri Basuki: Swasta Boleh Kelola Sumber Daya Air, tapi Kepemilikan Tetap Negara
Tanah di Jakarta Kian Menurun, Anies Sebut Proyek Saluran Pipa Penting
Cium Ketidakberpihakan Pada Rakyat, KPK Surati Anies Kebijakan Swastanisasi Air
Anies Konsultasi dengan KPK Terkait Swastanisasi Air
Anies Sebut Swastanisasi Air Jakarta Rugikan Warga

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.