Aksi Heroik Warga NTT Bantu Ibu Hamil Seberangi Sungai Arus Deras Demi ke Puskesmas

PERISTIWA | 13 Februari 2019 19:05 Reporter : Ananias Petrus

Merdeka.com - Aliran Sungai Lowo Sesa, Nusa Tenggara Timur (NTT) hari itu begitu deras. Namun Yasinta Wea terpaksa menerjang arus karena harus memeriksakan kehamilannya ke Puskesmas Boawae.

Dibantu warga dan petugas medis, wanita asal Desa Alorawae, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo berjuang melawan kencangnya arus sungai. Beruntung janinnya berusia sembilan bulan tak mengalami masalah apapun.

Jarak rumah Yasinta dan puskesmas lebih kurang 20 kilometer. Aksi heroik itu terpaksa dia lakukan karena di kampung mereka belum ada jembatan yang menghubungkan Desa Alorawae dan Kecamatan Boawae. Jalur alternatif juga tidak ada.

Kepala UPTD Puskesmas Boawae, Wilfrida Daeni, bercerita, kondisi ini memang terpaksa dilakukan warga yang ingin mendapatkan perawatan ke puskesmas. Mereka harus menantang maut saat arus sungai deras di musim penghujan.

"Petugas medis dan masyarakat Desa Alorawe mengantar ibu hamil ke Puskesmas untuk melahirkan itu sekitar pukul 11.00 Wita. Ini terpaksa karena usia kehamilan ibu Yasinta sudah sembilan bulan dan siap untuk melahirkan," ujarnya, Rabu (13/2).

"Sungai Lowo Sesa hampir setiap tahun pasti banjir, sehingga warga jika hendak ke Boawae dan sekitarnya mengalami kesulitan. Apalagi kalau ada pasien darurat, kita harus kerja ekstra dan bertaruh nyawa hadapi kondisi itu," kata Wilfrida.

Dikisahkan Doni, warga mengantar Yasinta, saat membawa ibu hamil itu arus sungai sangat deras. Mereka sangat berhati-hati agar proses menyeberang lancar tanpa kendala.

Menurut Doni, warga lain di kampungnya juga harus menghadapi kondisi sama seperti Yasinta. Jika arus sungai sedang tak bersahabat, warga memutuskan tidak jadi bepergian.

"Kalau musim hujan pasti banjir dan arusnya cukup deras. Tapi kadang warga nekad juga untuk bepergian," kata Doni.

Dia berharap ada perhatian dari pemerintah. Sebab warga butuh infrastruktur dan transportasi agar mobilitas mereka lebih lancar dan tak terancam bahaya.

"Kami meminta pemerintah daerah untuk segera bangun jembatan penghubung, sehingga warga tidak takut untuk bepergian, serta transportasi antar warga di wilayah itu bisa berjalan lancar," ujar Doni berharap.

Baca juga:
Hidup Bocah Yatim Piatu dari Tusuk Cilok Goreng dan Putaran Roda Sepeda
Potret Kemiskinan di RI, Nenek & Kakek di Karawang Ini Hidup di Gubuk Reyot
Nestapa bocah di Cianjur, 7 tahun dikurung dalam ruangan hingga kurus kering
Kemiskinan membuat warga Tangsel ini tinggal di gubuk berbahan spanduk
Mirisnya kehidupan tiga saudara bermental terbelakang di Medan
Anak tewas dianiaya, nenek miskin ditagih RSUD Moewardi Solo Rp 40 juta
Cerita tragis di balik kota - kota mati di negara maju ini

(mdk/lia)

TOPIK TERKAIT