Alquran Kuno Kampung Bugis, Jejak Sejarah Islam di Pulau Dewata

PERISTIWA » MAKASSAR | 20 Mei 2019 09:03 Reporter : Moh. Kadafi

Merdeka.com - Kampung Bugis yang berada di Pulau Serangan, Denpasar, Bali, membuka jejak sejarah peradaban Islam di Pulau Dewata. Ditandai dengan adanya Alquran kuno yang masih utuh tersimpan dan diwariskan kepada para generasi di perkampungan Islam Bugis. Alquran tersebut, tersimpan dalam sebuah kotak kayu berkaca yang dibalut dengan kain putih.

"Alquran tua itu, tulisan tangan, covernya dari kulit unta untuk panjangnya sekitar 40 cm lebarnya sekitar 20 cm. Kalau kertasnya, ada yang bilang pelepah pisang ada yang bilang kertas jati. Namun, pastinya saya belum tahu," kata Muhammad Syukur, Senin (20/5).

Muhammad Syukur (40) adalah generasi ke 5 yang mewarisi Alquran kuno tersebut dari kakeknya bernama Datuk Marjui dan diperkirakan Alquran kuno dibuat pada abad 17.

"Saya keturunan ke lima, yang punya itu Datok Marjui diwariskan dari datuknya. Alquran itu berasal dari Arab Saudi, diperkirakan Alquran itu dibuat abad ke 17," ujar Syukur.

Menurut Syukur, awal Alquran kuno berada di Kampung Bugis, karena dibawa oleh datuknya. Dahulu, Alquran tersebut selalu dipakai untuk tadarus atau membaca kitab suci Alquran secara bersama-sama khususnya dalam bulan Ramadhan.

"Karena kakek-kakek kita semua dari Sulawesi dan dari Sulawesi mereka bawa Alquran itu. Dulu setiap tadarus memakai Alquran itu orang tua kita," ujar Syukur.

Syukur juga menjelaskan, bahwa saat ini kondisi Alquran untuk surat-surat di dalamnya sudah tak utuh atau hilang dan banyak yang terlepas. Hingga, pada kemudian Alquran kuno tersebut disimpan dalam kotak agar terawat.

Kemudian, Alquran kuno tersebut sudah mulai disimpan karena juga ada bantuan dari Pemerintah memberikan Alquran yang baru.

"Kondisi Alquran surat-surat sudah banyak yang tercecer karena saking banyaknya orang ziarah untuk melihat. Jadi terlepas-lepas dan seminggu yang lalu sebelum Ramadan ada Dinas kebudayaan meninjau dan mereka menyusunnya kembali," kata Syukur.

Dari cerita Syukur, Alquran kuno tersebut juga pernah mau dibeli dan diminta untuk disimpan di sebuah museum di Jakarta. Namun, kakeknya tidak mau sehingga Alquran tersebut masih berada di Kampung Bugis. Selain itu, Alquran tersebut juga pernah diteliti oleh ahli dari Universitas Udayana, Bali.

"Sudah tiga kali dibawa ke Jakarta untuk dipamerkan atau disyiarkan dan juga pernah diteliti oleh seorang ahli. Kita ada keluarga di Denpasar yang aktif di MUI, beliau-lah yang membawa dan mempromosikan. Kemudian mau dimintai dan tidak dibolehkan oleh Datuk," ungkap Syukur.

Syukur juga menjelaskan, dari umur Alquran tersebut menandai bahwa peradaban Islam di Pulau Serangan sudah tua dan salah satu awal perkampungan muslim di Bali.

"Jadi dari umur Alquran itu, umur orang Islam di sini sudah tua. Jadi kita ini muslim Bali," jelasnya.

Syukur juga berharap kedepannya, akan membuat yayasan rumah tua. Karena kampus Bugis juga ada cagar budaya rumah panggung asli Bugis yang berada di tengah-tengah perkampungan Islam dan masih dalam kondisi terawat.

"Karena ada cagar budaya kemudian ada prasasti dan di dalamnya nanti ada Alquran. Nanti bisa ada tempat wisata religi. Intinya dengan ada Alquran itu ada nilai budaya di sini dan nilai-nilai Alquran di sini bisa membuat gemar membaca Alquran," harap Syukur.

"Kita itu dulu pernah jaya karena Alquran dan datuk-datuk kita itu kuat dengan ibadahnya. Semoga tempat ini menjadi wisata religi, itu lebih bagus untuk dikembangkan dengan adanya situs-situs tua di sini. Hingga, banyak wisatawan mengunjungi peradaban Islam tua dan beribadah dengan baik," ujar Syukur.

Tak sampai di situ, Syukur juga menceritakan awal terbentuknya perkampungan Islam Bugis di Pulau Serangan, dari kisah yang diketahuinya berawal dari 5 kelompok keluarga dari Bugis yang berlayar dari Sulawesi ke Pulau Serangan, Bali.

Konon, kedatangan mereka bertepatan dengan masa-masa sulit pendudukan kolonial Belanda (VOC) di Bali. Selain itu, warga Kampung Bugis juga ikut dalam perang Puputan Badung, Bali, yang terjadi pada kala itu.

"Memang kakek-kakek kita dahulu pelayar dari Sulawesi ke Bali, baik dalam perdagangan rempah-rempah dan pencari ikan. Karena di sebelah utara dahulu di Pulau Serangan memang ada Pelabuhan dan Dermaga besar," ujarnya.

"Kalau menurut sejarah yang saya dengarkan itu ada 5 kelompok keluarga dari Sulawesi dan (Islam) berkembang pesat di sini. Era VOC kita merantau ke sini, makannya kita ikut perang Puputan itu," sambung Syukur.

Berjalan waktu, perkembangan Islam pesat di Kampung Bugis Pulau Serangan. Sehingga, menjadi sebuah persaudaraan antara Islam dan Hindu yang nyata hingga hari ini. Saat ini, warga kampung Bugis kurang lebih ada 100 KK.

"Sehingga, peradaban di sini berkembang dan kita itu dekat dengan orang-orang Hindu di Bali sampai-sampai kita dekat dengan kerajaan Badung, Bali," ujar Syukur.

Syukur juga menceritakan, bahwa dahulunya perkampungan Islam Bugis itu adalah rumah-rumah panggung asli Bugis yang terbuat dari kayu. Namun, berkembangnya waktu beruban menjadi rumah gedung karena harga dan perawatan kayu yang mahal.

"Dulunya semua rumah panggung waktu saya masih kecil. Sekitar tahun 1992 dan 1993 itu sudah berubah. Karena, kayu itu mahal dan susah merawatnya dan akhirnya memilih gedung," ujarnya.

Selain peninggalan rumah panggung Bugis dan Alquran kuno, di Kampung Islam Bugis juga ada kuburan tua yang batu nisannya tertulis dengan huruf Arab serta Masjid tua bernama As-Syuhada, yang konon dibangun pada akhir abad ke-17, dan menyimpan jejak-jejak bersejarah Islam di Kampung Bugis.

Namun, lantaran kondisi masjid sudah tergerus usia, pembangunan serta renovasi pun dilakukan. Masjid As-Syuhada kini berdiri megah di tengah perkampungan.

Syukur juga tidak mengetahui pasti, Ulama yang pertamakali menyebar Islam terdahulu di Kampung Bugis. Namun, dari cerita datuknya ada seorang ulama dari yang dipanggil tuan guru dan menyebarkan ajaran Islam di Kampung Bugis.

"Karena menurut datuk yang menyebar Islam itu tuan guru yang menyebar Islam di sini," ujarnya.

Baca juga:
Mengenang Sejarah Alquran dari Masa ke Masa
Langkah Kaki Nenek Marieta ke Masjid Berjarak 11,2 km dari Rumah
Guyubnya Tradisi Megibung di Bali, Warga Makan Bersama dalam Satu Wadah
Mengenal Alquran Tertua Peninggalan Kerajaan Muna
Masjid Keramat Pelajau Barabai Peninggalan Kerajaan Demak
Menengok Pondok Pesantren yang Didirikan Mantan Teroris di Deli Serdang
Ritual Penyucian Jiwa ala Bugis Makassar Sambut Ramadan

(mdk/rhm)