Anak SMP di Pinrang yang Dijodohkan Ibunya Alami Tekanan Psikologis

Anak SMP di Pinrang yang Dijodohkan Ibunya Alami Tekanan Psikologis
Lamaran anak SMP di Pinrang. ©2021 Merdeka.com
NEWS | 2 Desember 2021 17:03 Reporter : Ihwan Fajar

Merdeka.com - Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Pinrang menerima pengaduan dari anak perempuan yang viral karena dijodohkan oleh ibunya. Anak yang masih kelas III Sekolah Menengah Pertama (SMP) itu kini mengalami tekanan psikologis.

Koordinator P2PT2A Kabupaten Pinrang, Bahtiar Tombong membenarkan jika pihaknya menerima pengaduan dari ayah yang anaknya dijodohkan dengan seorang pria. Ia mengaku pengaduan tersebut dilayangkan karena kasus lamaran yang tak lazim itu membuat sang anak mengalami tekanan psikologis.

"Dia melapor karena ini anak setelah kasus lamaran yang tidak lazim itu viral di medsos merasa di-bully orang lain, dikata-katai di medsos sehingga dia sangat malu. Secara psikis dia tertekan," ujarnya kepada merdeka.com, Kamis (2/12).

Bahkan, kata Bahtiar, anak tersebut sempat enggan masuk sekolah setelah berita ibunya yang melamarkan dirinya ke seorang pria viral di medsos. Ia mengaku anak tersebut tidak mengetahui tentang lamaran tak lazim tersebut.

"Padahal kejadian itu tanpa sepengetahuan dirinya. Ibunya tidak pernah menyampaikan sedikit pun kepada dirinya tentang lamaran itu," bebernya.

Bahtiar menambahkan anak tersebut telah dibawa ke UPT PPA Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3APDKB) Sulsel untuk pemeriksaan dengan psikolog.

"Tanggal 29 November saya antar ke Makassar untuk melakukan pemeriksaan di UPT PPA Provinsi. Karena di kami belum ada fasilitas psikolog sehingga dirujuk ke Makassar," kata dia.

Bahtiar mengaku pihaknya belum menerima hasil tes psikologi anak tersebut. Diperkirakan hasil tes psikologi tersebut akan diketahui 2-3 mendatang.

"Penyidik (polisi) juga menunggu hasil tes psikologi itu. Karena kalau ayahnya melapor ke polisi perlu melampirkan hasil tes psikologi itu," kata dia.

Terpisah Kepala UPT PPA DP3APDKB Sulsel, Meisy Papayungan membenarkan pihaknya telah melakukan tes psikologi terhadap anak yang dijodohkan oleh ibunya di Pinrang. Ia mengaku pemeriksaan psikologi tersebut berdasarkan rujukan dari P2TP2A Kabupaten Pinrang.

"P2TP2A Pinrang merujuk ke kami untuk diberikan pendampingan anak yang viral karena ibunya melakukan lamaran yang tak lazim. Anak perempuan yang akan dinikahkan ibunya itu diduga mengalami gangguan psikologis karena di bully sama teman-temannya," ucapnya.

Sebelumnya, jagat maya dihebohkan dengan acara lamaran yang berlangsung di Kelurahan Marawi, Kecamatan Tiroang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Bagaimana tidak, dalam acara dalam bahasa bugis disebut Mappettu Ada itu maharnya cukup fantastis yakni uang Rp500 juta, 5 sak gula, 5 sak terigu, 200 rak telur, hingga seluruh kebutuhan dapur lainnya.

"Kesepakatan dalam acara mappetuada ini disepakati uang panaik Rp500 juta, 5 sak gula, 5 sak terigu, telur 200 rak, bumbu-bumbu dan kue-kue," kata seorang pria yang menjadi pembawa acara dalam kegiatan tersebut.

Selain itu, pria juga mengatakan bahwa ada hal langka dalam proses lamaran itu. Hal langka itu lantaran pihak keluarga mempelai wanita yang melayangkan lamaran kepada pihak lelaki. Kejadian seperti ini pun dianggap masih tabu bagi kalangan Bugis-Makassar, lantaran umumnya pihak keluarga lelakilah yang melamar wanita.

"Ini baru kali ini terjadi, pihak perempuan yang mappanai (melamar) untuk laki-laki," sebutnya.

Tak hanya itu, calon mempelai wanita dalam prosesi lamaran tersebut merupakan siswi yang masih duduk di bangku Kelas 3 SMP. Sementara mempelai prianya adalah seorang mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan di salah satu universitas yang ada di Jakarta.

Adapun jadwal pernikahan kedua calon mempelai tersebut akan dilakukan 3 sampai 4 tahun ke depan sembari menunggu sang calon mempelai wanita cukup umur. Sementara identitas dari kedua calon mempelai juga masih dirahasiakan oleh seluruh pihak keluarga. (mdk/bal)

Baca juga:
Pernikahan Dini di Lombok Tengah Meningkat saat Pandemi Covid-19
Harusnya Belajar Online, 300 Pelajar di Kalteng Diam-Diam Malah Menikah
Viral 'Istriku adalah Guru SMA-ku', Selisih Usia 15 Tahun Tak jadi Masalah
Tekan Pernikahan Dini di Masa Pandemi, Pemerintah Dorong Penguatan Keluarga Berencana
Heboh Calon Mertua Hajar Menantu Saat Akad, Ternyata Ini Penyebabnya
Aksi 'Pengantin' AS Tuntut Diakhirinya Pernikahan di Bawah Umur

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami