Analisa Dokter Soal Para Caleg Terancam Gangguan Jiwa

PERISTIWA | 28 Februari 2019 20:05 Reporter : Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Kegagalan atau kekalahan seorang calon legislatif (caleg) dalam kontestasi dapat memicu gangguan kejiwaan. Kepala Bidang Medik Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dr Rajiman Wediodiningrat Lawang, dr Gunawan MMRS mengatakan, setiap penyakit memiliki etiologi atau penyebabnya, termasuk penyakit kejiwaan.

"Kalau dalam penyakit jiwa penyebabnya namanya stressor psikologi," jelas Gunawan kepada Merdeka.com.

Ada empat macam stressor psikologi yakni tekanan, konflik, krisis dan frustasi. Sementara dalam kasus kegagalan seorang calon legislatif masuk dalam kategori frustasi.

Kasus yang terkait kegagalan seseorang pada sesuatu yang diinginkan dinamakan frustasi. Seseorang itu mempunyai harapan tinggi meraih impiannya, tetapi pada kenyataannya tidak mendapatkan yang diinginkan.

"Kalau dia tidak bisa memanage frustasi itu, maka yang terjadi disstress atau gagal mengelola stress. Ketika gagal mengelola stres, akhirnya mengalami gangguan kejiwaan. Mulai yang paling ringan sampai yang berat," jelasnya.

Selama ini, pasien caleg gagal yang mengalami gangguan kejiwaan rata-rata di level sedang. Walaupun tidak menutup kemungkinan bisa masuk kategori berat.

"Sedang saja. Rata-rata gangguan penyesuaian saja atau depresi. Kalau sampai jenis yang psikotik sejauh ini tidak," tegasnya.

Gunawan mencontohkan tanda-tanda gangguan penyesuaian. Seseorang yang biasanya sering ngobrol tetapi semenjak gagal berubah pendiam atau mengurung diri. Atau seorang yang semula penyabar dan baik, tetapi mendadak berubah menjadi sering marah-marah. Diajak bicara pun mudah tersinggung.

"Itu gangguan penyesuaian," tegasnya.

Tingkat di atasnya adalah depresi yang memiliki gejala lebih komplek. Biasanya wajahnya murung dan tidak punya semangat hidup, tidak mau beraktivitas, bahkan muncul ide bunuh diri, pikiran buruk tentang kehidupan.

Sedangkan tingkatan Psikotik, biasanya sampai muncul halusinasi. Penderita seperti melihat, mendengar suatu omongan, bayangan-bayangan yang sebenarnya tidak ada.

"Atau dia mengucapkan sesuatu yang aneh. 'Lho saya ini sudah jadi caleg lho, baju saya sudah seperti anggota DPRD, ke mana-mana pakai baju seperti anggota DPRD, padahal dia tidak jadi. Itu sudah menjadi paham dan itu gangguan berat," jelasnya.

Halusinasi, paham dan omongan tidak teratur, meloncat-loncat itu adalah di antara gangguan jiwa berat yang sangat mudah dikenali masyarakat awam. Tetapi selama ini kasus yang dialami caleg hanya di level sedang yakni frustasi.

Baca juga:
RSJ Lawang Siap Terima Caleg Stres karena Gagal Terpilih di Pemilu 2019
RSUD Bayu Asih Purwakarta Siapkan Ruangan Khusus untuk Caleg Stres
Rumah Sakit Jiwa di Lampung Siap Tampung Caleg Alami Depresi
52 Rumah Sakit di Jateng Bersiap Menampung Caleg Gila Akibat Kalah Pemilu
Aksi caleg gagal di Tangerang segel PAUD & Puskesmas disesalkan
Usai nyabu, caleg gagal di Pasaman Barat diangkut polisi

(mdk/noe)