Analisis Citra Satelit LAPAN Terkait Bencana Banjir di Flores Timur

Analisis Citra Satelit LAPAN Terkait Bencana Banjir di Flores Timur
Banjir di Flores Timur NTT. ©2021 Merdeka.com
PERISTIWA | 8 April 2021 15:44 Reporter : Muhamad Agil Aliansyah

Merdeka.com - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) melakukan analisis daerah terdampak bencana banjir Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menggunakan citra satelit. Tim tanggap darurat bencana Lapan mendapati Desa Nelelamadike sebagai wilayah potensi terdampak bencana banjir dan longsor.

Dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (8/4), Lapan menyatakan Desa Nelelamadike, Kecamatan lle Boleng, Kabupaten Flores Timur, terletak di kaki Gunung Api lle Boleng dengan ketinggian antara 140 -300 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Analisis dilakukan dengan menggunakan data citra satelit Pleiades terkait daerah terdampak bencana banjir sebagai respon terhadap bencana banjir dan longsor yang terjadi di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur pada 4 April 2021.

Desa Nelelamadike beriklim tropis dengan rata- rata kemarau yang panjang sehingga vegetasi yang tumbuh di daerah tersebut sangat sarang.

Terdapat alur sungai yang melewati Desa Nelelamadike, akan tetapi jarang terdapat aliran air mengingat daerah tersebut memiliki kemarau yang panjang.

Di sekitar alur sungai juga teramati banyak permukiman penduduk sehingga berpotensi terdampak luapan banjir apabila terjadi curah hujan yang sangat tinggi.

Lokasi desa Nelelamadike pada area lereng gunung yang terjal curam dengan sedikitnya vegetasi di daerah tersebut berpotensi untuk terjadinya bencana longsor.

Sebelumnya diberitakan, sebanyak 56 jenazah korban banjir di Desa Nele Lamadiken, Kecamatan Ile Boleng, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) dimakamkan secara massal.

"Ada 56 jenazah warga Desa Nele Lamadiken yang langsung dimakamkan massal di sebelah pemakaman umum desa. Pastor paroki di sini yang memimpin upacara pemakaman," kata Kepala Desa Nele Lamadiken, Pius Pedang Melai, Selasa (6/4).

Dia menambahkan, saat ini ada 758 warga yang mengungsi di tiga lokasi. Rinciannya 281 orang mengungsi di SDN Nele Lamadiken, 452 orang di Kantor Desa Nele Lamadiken, dan 25 orang di Neleblobong.

Para pengungsi memilih tidur di pos pengungsian pada malam hari. Siangnya kembali ke rumah untuk membersihkan sisa banjir dan memberi makan ternak.

"Sisanya lebih memilih tinggal di keluarga mereka di desa lain," Jelas Pius.

Lokasi terparah badai ini yakni, di Desa Lamanele, Kecamatan Ile Boleng, Desa Waiwerang dan Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, serta Desa Oyang Barang, Kecamatan Wotan Ulumado.

Desa Nelelamadike yang berada di Kecamatan Ile Boleng, Pulau Adonara merupakan salah satu desa dengan penyumbang korban meninggal dunia terbanyak, akibat banjir bandang dan longsor yang terjadi Minggu (4/4) kemarin. (mdk/gil)

Baca juga:
Mewakili Semua Agama, Menag Yaqut Tolak Pimpin Doa Bela Sungkawa Bencana NTT
Jokowi Kirim Puluhan Ribu Paket Sembako untuk Warga Terdampak Bencana NTT-NTB
Cerita Nenek Yana Detik-Detik Rumahnya Hancur Diterjang Siklon Tropis Seroja
Diterjang Banjir Bandang hingga Tanah Longsor, NTT Tetapkan Tanggap Darurat Bencana
Korban Siklon Tropis Seroja di Kabupaten Alor, 25 Orang Meninggal dan 20 Hilang

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami