Angkat Potensi Daerah, 40 Siswa SMA di Solo Bikin Film Standar Internasional

PERISTIWA | 29 Januari 2020 01:32 Reporter : Arie Sunaryo

Merdeka.com - Lembaga Viu Shorts bekerja sama dengan Pemkot Solo akan mengangkat potensi daerah setempat ke kancah dunia melalui film. Sebanyak 40 siswa SMA di kota tersebut mendapatkan kesempatan membuat karya film pendek berstandar internasional.

Karya para remaja tersebut nantinya bisa ditonton melalui Viu, sebuah layanan hiburan streaming dengan 36 juta pengguna aktif bulanan.

"Kami fokus pada pengembangan minat dan bakat dari talenta muda usia SMA dalam membuat karya film pendek berdasarkan atas kecintaan mereka pada mitos lokal," ujar Senior Vice President (SVP) Marketing Viu Myra Suraryo di Solo, Selasa (28/1).

Pada Viu short musim kedua, lanjut dia, digelar di 20 kota di Indonesia selama periode 7 bulan. Yakni mulai Agustus 2019 hingga Maret 2020. Dimulai tahun 2018, Viu Shorts pada musim pertama menghasilkan 17 film pendek lokal yang didistribusikan global melalui platform Viu dan menjadi viral di media sosial.

Menurut dia, film pendek hasil dari Viu Shorts musim pertama juga ditayangkan secara internasional di ajang Marché du Film, Cannes Film Festival 2019.

"Dalam ajang Asian Academy Creative Awards 2019, salah satu film pendek kita, Viu Shorts Maumere–Miu Mai, terpilih menjadi Best of Short Form Content dari Indonesia," katanya.

Kemudian pada penghujung rangkaian inisiatif Viu Shorts musim pertama, Viu memberikan beasiswa kepada peserta berbakat dari Cilegon, Banten untuk melanjutkan pendidikan Sinematografi selama 4 tahun di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Selain itu, juga diberikan kesempatan bekerja paruh waktu bersama tim Viu Original.

Program Viu Shorts musim pertama yang mengarah pada penemuan 17 sutradara muda berbakat, 500 talenta muda kreatif bidang film dan satu sarjana film dari 17 kota di seluruh Indonesia. Melalui inisiatif Viu Shorts di Indonesia, pihaknya berkomitmen untuk membangun ekosistem talenta kreatif Indonesia.

"Pada Viu Shorts musim kedua, kita meningkatkan tingkat partisipasi, baik dalam hal jumlah kota dan peluang yang diberikan. Kami sangat senang dan berharap dapat menyebarkan lebih banyak lagi kisah lokal Indonesia ke pemirsa global melalui Viu Shorts musim kedua," tuturnya.

Melalui kerja sama Viu dan Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) dalam mendukung Program Pengembangan Film Indonesia, Viu Shorts musim kedua juga didukung 20 Pemda, Yayasan Tumbuh Sinema Rakyat, MAV Production, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Badan Perfilman Indonesia (BPI), Komisi Film Daerah, komunitas film lokal, Yayasan BPK Penabur dan Yayasan Tarakanita.

Melanjutkan tema Mitos Lokal Indonesia, 20 kota dan kabupaten yang menjadi tujuan adalah Klungkung, Atambua, Mataram, Majalengka, Cilacap, Kendal, Magelang, Kulonprogo, Solo, Salatiga, Batu, Natuna, Dairi, Sangata, Ambon, Palu dan Rote.

Kepala Produser Viu Shorts, Edo Sitanggang menyampaikan, Viu Shorts musim kedua di Solo mengangkat ide orisinil anak muda setempat. Ada 40 siswa yang mengikuti program.

"Para siswa berasal dari sekolah yang memiliki jurusan multi media atau ekstra kurikuler film. Tema yang dipilih adalah Limo Wasto, film pendek berdurasi 10 menit yang akan tayang perdana 22 Mei 2020," katanya.

Menurut Edo, jika sudah tayang di Viu, secara otomatis akan tayang juga di 16 negara lain di dunia. Edo mengatakan, Viu lebih mengangkat sinema organik dengan produksi film sekitar dua Minggu. Dari ide orisinil, anak-anak muda terpilih kemudian membuat film dengan alat sesuai standar internasional yang difasilitasi Viu. Sehingga mereka bisa bersaing dengan sutradara profesional lain ketika film sudah tayang.

"Cerita Limo (5) Wasto ini diangkat dari budaya tradisional Solo. Seorang laki-laki Jawa harus memiliki 5 hal pokok. Yakni Wisma (Rumah), Garwo (Istri), Curigo (Keris/senjata andalan) dan Turonggo (Kuda), Kukilo (burung)," terangnya.

Sekretaris Dinas Pariwisata Solo Budi Sartono berharap, pembuatan film yang bernuansa lokal ini akan memberikan dampak positif pada pariwisata daerah. Sehingga brand Kota bisa diangkat melalui film tersebut. Sekaligus mengangkat film sebagai sub sektor ekonomi kreatif yang ingin digarap. Dengan edukasi kepada genarasi muda bagaimana memproduksi film, diharapkan Kota Solo bisa turut dikenal dunia.

"Solo ini punya kekayaan budaya yang bisa diangkat dalam film, sekaligus branding Solo untuk kepentingan pariwisata," ucap Budi.

Pada sisi lain, pembuatan film bisa menjadi ladang ekonomi kreatif di Kota Bengawan. Seperti dikatakan Ketua Parfi Solo Tri Harjono. Ia sangat mendukung program Viu Shorts karena memberikan edukasi generasi muda agar lebih mengenal produksi film secara profesional. (mdk/cob)

Baca juga:
6 Potret Cantik Mawar De Jongh, Gantikan Vanessa di Film 'Teman tapi Menikah 2'
Perankan Nur di Film KKN Desa Penari, Ini 7 Potret Cantik Tissa Biani
Film Guru-Guru Gokil Rilis Trailer Pertama
Debut sebagai Produser, Ini Alasan Dian Sastrowardoyo Angkat Profesi Guru
Ini Sinopsis Film Guru-Guru Gokil
Cerita Dian Sastrowardoyo Jadi Produser Film Guru-Guru Gokil

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.