Antisipasi Antraks, Pemkab Sleman Perketat Pengecekan Hewan Ternak

PERISTIWA | 21 Januari 2020 23:13 Reporter : Purnomo Edi

Merdeka.com - Penyebaran bakteri antraks ditemukan pada hewan ternak di wilayah Kabupaten Gunungkidul. Bakteri antraks ini menyerang hewan ternak seperti sapi maupun kambing.

Sejumlah daerah di DIY pun melakukan langkah antisipasi agar persebaran bakteri antraks tak meluas. Salah satunya adalah Kabupaten Sleman.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman Harjanto mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai antisipasi agar hewan ternak di Sleman tak terkena antraks.

Dia menjabarkan ada 14 Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) di wilayah Kabupaten Sleman. 14 Puskeswan ini disebut Harjanto akan dimaksimalkan untuk mengecek kondisi hewan ternak utamanya yang mengalami mati mendadak.

"Setiap ada hewan ternak yang mati mendadak, tidak boleh dikonsumsi dan dijual. Setiap ada yang mati mendadak harus pula dilaporkan agar bisa didata dan diteliti," katanya, Selasa (21/1).

Harjanto menyebut setiap transaksi hewan ternak di Sleman pihaknya menekankan agar ada surat keterangan kondisi kesehatan hewan. Adanya surat keterangan itu untuk memastikan hewan ternak yang masuk maupun keluar dari kabupaten Sleman benar-benar dalam kondisi sehat.

"Saat ini kami waspada pada persebaran antraks. Warga diimbau tidak boleh mengambil sapi dari wilayah yang muncul wabah antraks," terangnya.

1 dari 1 halaman

Sedangkan menurut Head of Raw Material Ingredients C&P Danone Indonesia, Agus Budiyanto dampak dari penyebaran bakteri antraks salah satunya jika menyerang sapi perah bisa memengaruhi kuantitas dan kualitas susu yang dihasilkan.

Hal ini disampaikan Agus saat diskusi bersama antara UGM dan Pemkab Sleman bertajuk Program Peningkatan Mutu Susu Sarihusada di Kalasan, Sleman Selasa, 21 Januari 2020.

Meskipun demikian Agus menyebut jika peristiwa di Kabupaten Gunungkidul itu haruslah diteliti dengan benar. Jangan sampai penelitian dilakukan tergesa-gesa dan dipastikan apakah memang betul bakteri antraks atau bukan yang menjadi penyebab hewan ternak di Gunungkidul mati mendadak.

Sebagai pengelola Sari Husada yang menaungi banyak peternak sapi di wilayah Sleman dan sekitarnya sambung Agus, pihaknya memastikan bahwa monitoring selalu dilakukan. Agus bahkan mengklaim seluruh sapi peternak binaan Sari Husada bebas dari bakteri antraks.

Agus menerangkan untuk menjaga agar susu produksi terjaga kualitasnya, pihaknya pun melakukan monitoring secara berkala terhadap sapi-sapi yang dipelihara orang kelompok ternak binaan.

"Bahkan sapi yang tidak sakit berat dan disuntik antibiotik maka sapi itu di-stop dulu (untuk produksi susu). Paling tidak dua minggu, untuk menghindari residu yang masuk. Jadi susu yang dihasilkan adalah dari sapi yang benar-benar sehat," tegas Agus. (mdk/fik)

Baca juga:
Korea Utara sedang uji coba rudal pembawa virus sapi gila
Wabah Antrax merebak, 100 kuda nil di Namibia tewas
Cegah virus antraks menyebar, Kementan vaksinasi 295 sapi kurban
Enam sapi di Maros mati mendadak, tiga diantaranya terjangkit Antraks
Kulon Progo aman dari antraks, Mentan perintahkan tim tetap standby
Jabar siapkan 15.000 vaksin antisipasi penyebaran Anthrax

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.