Antisipasi Dampak Erupsi Merapi, Warga Boyolali Galakkan Ronda Malam

Antisipasi Dampak Erupsi Merapi, Warga Boyolali Galakkan Ronda Malam
PERISTIWA | 10 Juli 2020 20:23 Reporter : Arie Sunaryo

Merdeka.com - Meningkatnya aktivitas Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta membuat masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Mereka menggalakkan ronda malam secara bergiliran. Hal tersebut untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu terjadi erupsi.

Seperti yang dilakukan warga di Desa Jrakah Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali. Di setiap RT desa tersebut masyarakat dengan kesadaran pribadi melakukan ronda malam. Kegiatan tersebut bahkan sudah dilakukan sejak lama. Seperti disampaikan Kepala Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Tumar kepada wartawan, Jumat (10/7).

"Dalam 10 hari terakhir ini warga memang sering merasakan adanya lindu (gempa kecil). Mungkin ini dampak aktivitas Gunung Merapi. Kita galakkan lagi ronda malam, untuk berjaga-jaga," katanya.

Kendati harus meningkatkan kewaspadaan, Tumar mengaku warga tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Selain bertani atau berladang, kebanyakan warga juga beternak sapi. Tumar menambahkan, pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait mitigasi Gunung Merapi. Pasalnya Desa Jrakah hanya berjarak sekitar 4 kilometer dari puncak Merapi.

"Kami juga mengimbau kepada para tokoh masyarakat, pengurus RT dan RW agar ikut menyosialisasikan kondisi Merapi saat ini yang rawan erupsi," katanya.

"Kami juga sudah meminta RT, RW mengimbau warga untuk melaksanakan ronda malam, meminta masyarakat untuk mempersiapkan diri untuk dievakuasi jika ada erupsi Merapi," katanya lagi.

Tumar menambahkan, Desa Jrakah termasuk kawasan rawan bencana (KRB) III. Beberapa wilayah yang rawan di antaranya Dukuh Sepi, Kajor, Tosari, Jarak, dan sebagian Dukuh Jrakah yang jaraknya sekitar 3,5 hingga 4 kilometer dari puncak Merapi.

"Kalau tiba-tiba terjadi erupsi Merapi warga Jrakah diarahkan melalui program Desa Persaudaraan. Mereka akan dievakuasi di Desa Karanggeneng, Boyolali Kota," tandasnya.

Menurut dia, setiap terjadi bencana erupsi, masyarakat Jrakah akan berkomunikasi dengan warga Karanggeneng dan pemerintahan desa setempat sebagai tempat pengungsian mereka.

"Kami sudah melakukan pendataan kendaraan persiapan transportasi untuk evakuasi warga menuju ke daerah aman bencana. Jadi kendaraan roda empat di setiap RT sudah didata dan titik kumpul juga sudah ditentukan. Warga sudah pengalaman dari kejadian erupsi tahun-tahun sebelumnya," kata Tumar.

Tumar menambahkan, saat ini jumlah penduduk di Desa Jrakah sebanyak 4.430 jiwa, ternak sapi 824 ekor dan kambing 254 ekor. Jika terjadi erupsi, warga menuju titik kumpul masing-masing RT RW untuk dievakuasi ke tempat yang lebih aman. (mdk/cob)

Baca juga:
Jarak Aman 3 Km, Karakter Erupsi Gunung Merapi Saat Ini Mirip 2006
Mengunjungi Museum Sisa Hartaku, Saksi Bisu Letusan Besar Merapi 2010
Sikapi Gunung Merapi, Sultan HB X Minta Masyarakat Tidak Panik
Meski 'Membengkak', Status Gunung Merapi Tetap Waspada
Gunung Merapi Sedang 'Membengkak', BNPB Koordinasi dengan Bupati Sleman
Ganjar Sebut Perut Gunung Merapi Sedang 'Membengkak'

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami