Artis Hannah Al Rashid Ajak Wanita Berani Lawan Pelecehan Seksual

PERISTIWA | 17 Juli 2019 21:28 Reporter : Yunita Amalia

Merdeka.com - "Pelecehan seksual itu ada, itu menyeramkan," dengan lantang artis berdarah Inggris, Hannah Al Rashid mengingatkan agar masyarakat terus aktif mengentas tindakan nista tersebut.

Hannah mengatakan pelecehan seksual bukan sekedar isu perempuan. Sebab, pengalaman seperti itu akan berdampak dan membekas bagi korban sepanjang hidupnya.

Ia bercerita, tanpa menyebut waktu, pernah mengalami pelecehan fisik dari dua laki-laki. Kejadian itu masih membekas hingga saat ini. Jika ada laki-laki yang mendekat, secara refleks tangannya mendekap dada.

"Saya pernah digrepe makanya setiap ada laki-laki yang mendekat saya langsung (mendekap dada). Secara subconscious masih menyimpan itu," ujar Hannah berbagi pengalamannya dalam satu diskusi, Jakarta, Rabu (17/7).

Memang, kata Hannah, menceritakan pengalaman tidak mengenakan seperti itu gampang-gampang susah. Tidak semua masyarakat, termasuk perempuan mendukung dan memberi solusi atas kejadian nahas yang telah dialami.

Oleh sebab itu, ia menyuarakan agar masyarakat peduli akan buruknya dampak pelecehan seksual. Di sinilah manfaat bystander. Bystander merupakan saksi atas pelecehan seksual.

Aktivis Lentera Sintas Indonesia Rastra Yasland mengatakan ada lima strategi yang bisa dilakukan oleh bystander jika melihat adanya tindakan pelecehan.

Pertama adalah direct, teguran secara langsung kepada pelaku. Di era saat ini yang serba viral, Rastra meyakini hal ini mampu memberikan efek bagi pelaku nista pun juga terhadap korban.

"Bystander bisa langsung grab si pelaku dan mengatakan itu adalah pelecehan," ujar Rastra.

Tidak semua bystander memiliki nyali menegur langsung si pelaku. Jika demikian, strategi kedua patut dilakukan yakni mengaburkan perhatian pelaku. Strategi itu disebut distracted. Cara itu setidaknya menggagalkan upaya pelaku yang akan melakukan pelecehan. Langkah ketiga, documentary yang dilakukan oleh bystander.

Keempat, adalah delay. Bystander tahu telah terjadi pelecehan namun membantu korban setelah peristiwa nahas telah terjadi.

"Misal saya lihat ada pelecehan di gerbong ini, korban turun di stasiun A saya sebagai bystander bisa ikut turun meski saya tidak turun di stasiun itu dan menawarkan bantuan kepada korban atas apa yang telah dia alami," ujarnya.

Strategi terakhir adalah delegate. Cara terakhir ini jika memang tidak memungkinkan membantu, menegur, secara langsung terjadinya pelecehan seksual kepada korban.

"Bystander harus bisa identifikasi. Kalau tidak bisa, upaya nya membantu jadi tidak berhasil," tandasnya.

"Intinya, bystander harus bisa identifikasi. Urusan korban menolak dibantu, bukan urusan kita," kata Rasta sebagai mahasiswa prestasi alumni Universitas Indonesia 2016 itu.

Baca juga:
Bersiul, Bentuk Pelecehan Seksual Terbanyak Dialami Wanita
'Pelecehan Seksual Mayoritas Sasar Wanita Pakaian Tertutup'
Hentikan Pelecehan Seksual Terhadap Perempuan!
Polisi Tangkap Guru SD Peremas Payudara Turis Asing di Yogyakarta
Pemerkosa Remaja Depresi di Depok Mengaku Akan Nikahi Korban
Duterte Dinilai Tidak Pantas Sahkan UU Anti-Pelecehan Seksual

(mdk/eko)

BERI KOMENTAR
Join Merdeka.com