AS Mengaku Sebar Teror Bom Massal di Jakarta karena Handphone Error

PERISTIWA | 21 Mei 2019 16:47 Reporter : Mochammad Iqbal

Merdeka.com - AS (54), warga Kabupaten Garut, yang ditangkap polisi karena dianggap menyebar teror, mengaku mendapatkan tulisan dari grup WhatsApp Prabowo-Sandi. Dia sendiri ada di dalam grup yang selama ia mengikutinya banyak sekali tulisan-tulisan dari orang yang tidak dikenalnya.

"Saya dapat dari grup WA Prabowo-Sandi. Atas namanya (pengirim) sudah lupa waktu itu," kata AS, di Mapolres Garut, Selasa (21/5).

AS juga mengaku meski mengunggah tulisan dari orang yang tidak dikenalnya belum betul-betul membaca isi dari tulisan tersebut. Bahkan ia mengatakan tidak bermaksud mengunggah tulisan, namun yang terjadi smartphone miliknya error.

"Ada sedikit error di handphone sehingga saat ada masuk pesan itu dan terjadi pengiriman pesan. Jadi sebenarnya saya belum pernah membacanya yang terjadi sebenarnya," ujar dia.

AS sendiri mengaku bisa masuk ke dalam grup WA Prabowo-Sandi karena ada undangan masuk grup namun tidak diketahui nama pengundangnya. Namun AS mengaku dirinya bukanlah relawan 02.

"Kalau ada pesan-pesan suka menyebar. Tapi pas hari Kamis (16/5) pas setelah maghrib terjadi semacam error seperti 'gojlag'. Ada pesan masuk dan ada keluar sehingga saya mematikan handphone tersebut. Mungkin di situ lah terjadi kiriman pesan dari saya itu," ujar dia.

AS sendiri mengaku menerima pesan dari grup sekitar pukul 17.53 WIB dan malamnya di share. Ia memastikan bahwa bukan dirinya yang membuat tulisan tersebut sehingga tidak mengetahui target pengeboman di Jakarta itu di mana.

"Saya menyebar kan saja. Betul ada ajakan, tapi saya enggak baca dulu jadi saya enggak tahu. Selama ini di grup informasi tentang sekitaran Pilpres saja. Banyak yang hoaks. Ada juga beberapa grup yang mengeluarkan saya karena menyebar konten-konten tersebut," katanya.

AS mengaku salah dengan apa yang telah diperbuatnya. Ia pun meminta maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia karena sudah dianggap meresahkan.

"Saya Asep Sofyan meminta maaf atas share saya yang sudah dilakukan dan meresahkan masyarakat Indonesia. Itu sebenarnya tidak kehendak saya sendiri, saya sebar saja. Saya meminta maaf sebenar-benarnya atas kesalahan saya tersebut, sebenarnya tidak patut menyebar selaku guru," ucapnya.

Sebelumnya, AS (54) seorang guru SMA Negeri di Garut yang ditangkap pihak kepolisian, disebut telah menyebarkan pesan yang berisi ancaman teror. Setelah menerima pesan di salah satu grupnya, AS juga menyebarkan ke sejumlah grup dan kontak whatsapp lainnya.

Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko didampingi Kapolres Garut, AKBP Budi Satria Wiguna menyebut bahwa pihaknya mengamankan AS pada Sabtu (18/5). Ia ditangkap di rumahnya, Kampung Jatijajar, Desa Sindangsuka, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut.

"Sebelum kita amankan, awalnya kita menerima laporan polisi pada 18 Mei, lalu melakukan penyelidikan hingga penyidikan. Setelah melakukan pemeriksaan kepada sejumlah saksi, kita dapat tindakan pidana dan lalu kemudian ditetapkan tersangka," ujarnya di Mapolres Garut, Selasa (21/5).

Ia menyebut bahwa AS diketahui sebagai guru ASN yang mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di salah satu SMA Negeri di Garut. Ia membagikan pesan teror ancaman pengeboman massal di Jakarta pada 21-22 Mei. Diantara grup yang dikirimi pesan tersebut adalah PAI, media Islam, sedulur Banten, SGT, dan Indonesia for Palestin.

Baca juga:
Polisi Tangkap Guru SMA Negeri Garut Sebar Teror Bom Massal di Jakarta
Diduga Provokasi dan Ancam Mengebom KPU, Guru SMA di Garut Ditangkap Polisi
Diduga Bawa Molotov, 54 Peserta Aksi 22 Mei Asal Pamekasan Diamankan
Gereja dan Sekolah Katolik di Sri Lanka Tutup karena Ada Info Ancaman Bom
Teror 2 Pimpinan KPK, Polri Minta Bantuan Kepolisian London Analisa CCTV
Polisi Kantongi Sketsa Wajah Pelaku Teror 2 Pimpinan KPK

(mdk/gil)