ASN di Klaten Terlibat Mafia Tanah, Gelapkan Uang Perusahaan Garmen Rp2,1 Miliar

ASN di Klaten Terlibat Mafia Tanah, Gelapkan Uang Perusahaan Garmen Rp2,1 Miliar
ASN di Klaten Tersangka Mafia Tanah. Arie Sunaryo
NEWS | 18 Januari 2022 23:33 Reporter : Arie Sunaryo

Merdeka.com - Polisi menahan seorang ASN berinisial SK (55), usai terlibat kasus mafia tahan di wilayah Kecamatan Pedan, Klaten, Jawa Tengah. Warga Kecamatan Kartasura, Sukoharjo tersebut ditetapkan sebagai tersangka bersama EP (52) rekannya.

KBO Satreskrim Polres Klaten Iptu Eko mengatakan, kasus mafia tanah tersebut terjadi dalam kurun waktu bulan Januari hingga Juli 2017. Namun kasus tersebut baru dilaporkan ke Polres Klaten pada 17 Januari 2020.

"Jajaran Polres Klaten berhasil melakukan pengungkapan target operasi (TO) Satgas Mafia Tanah sampai dengan pemberkasan dan sudah dianggap lengkap (P21) oleh JPU,” ujar Eko, saat konferensi pers di Mapolres Klaten, Selasa (18/1).

Eko mengatakan, awal mula kejadian yakni pada Januari 2017, saat PT Majuel berniat mencari tanah di Klaten untuk pengembangan pabrik garmen. Pihak PT Majuel kemudian meminta tolong kepada tersangka EP untuk memuluskan proses investasinya tersebut.

"Tersangka EP selanjutnya memberitahu kalau ada tanah seluas 325.661 meter persegi (blok 1 sampaai 5) di daerah Desa Troketon, Kecamatan Pedan. Mr HM (WNA Korea) kemudian cek lokasi dan setelah cocok disepakati harga Rp325 ribu per meter persegi,” ujar Eko.

Salah satu orang yang mengaku sebagai pemilik lahan, lanjut Eko, adalah tersangka SK. Dia mengatakan blok nomor 2 adalah miliknya, padahal pemilik sebenarnya adalah PS dan tanah tersebut saat ini sudah dibeli oleh HS.

"Saat di kantor notaris, tersangka SK mengatakan bahwa tanah blok nomor 2 adalah miliknya. Dinyatakan clean dan clear bisa ditransaksikan dengan PT Majuel. Sampai dengan Juli 2020, lahan selain milik SK sudah proses peralihan hak dan hanya blok nomor 2 milik SK saja yang belum padahal untuk uang pembayaran sudah diterima,” kata dia.

Kanit 2 Sat Reskrim Iptu AA Ngurah Made Pandu Prabawa menambahkan, tersangka SK awalnya sempat menjadi penampung rekening untuk pembayaran kelima blok tanah tersebut pada cicilan pertama dan cicilan kedua. Namun karena penyaluran kepada pemilik blok 1, 3, 4 dan 5 tersendat akhirnya transfer pembayaran dialihkan kepada tersangka EP.

"Oleh EP uang pembayaran untuk blok 2 juga tidak disalurkan sebagaimana mestinya. Dan akhirnya blok 2 tidak bisa terbeli. Akibat perbuatan kedua tersangka ini PT Majuel menderita kerugian sebanyak Rp2.153.125.000,” kata Ngurah.

Polisi kemudian menetapkan EP dan SK sebagai tersangka. Keduanya dijerat pasal 378 KUHP atau 372 KUHP jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP dengan ancaman penjara paling lama 4 tahun. (mdk/gil)

Baca juga:
Notaris Tersangka Mafia Tanah Ibunda Dino Patti Djalal Diserahkan ke Kejaksaan
Pensiunan Guru di Tangsel Cari Keadilan Soal Status Tanah Miliknya
Korban Mafia Tanah dengan Tersangka Kadishub Depok Adalah Purnawirawan Mayjen TNI
4 Tersangka Mafia Tanah di Depok Tak Ditahan
Kasus Mafia Tanah, Bareskrim Polri Periksa Anggota DPRD Depok
Hari Ini, Bareskrim Periksa Kadishub Depok Sebagai Tersangka Kasus Mafia Tanah
Mantan Pegawai Honorer Kemenkeu jadi Gembong Pemalsuan Tanah di Bogor

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami