Aturan Polri untuk Massa Aksi 22 Mei

PERISTIWA | 21 Mei 2019 12:44 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Polri mengimbau massa aksi 22 Mei dapat memahami adanya batas toleransi kegiatan unjuk rasa. Dalam kondisi bulan Ramadan, salat tarawih menjadi patokan.

"Jadi dari informasi terakhir yang saya dapat, bahwa batasan akhir toleransi yang bisa diberikan pada massa itu salat tarawih. Usai salat tarawih dimohon untuk tidak mengganggu," tutur Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (21/5).

Massa aksi harus ingat sejumlah poin seperti terkait hak dan kebebasan masyarakat lain, tidak boleh mengganggu keamanan dan ketertiban, dan mesti menaati perundang-undangan yang berlaku.

"Keempat, juga harus taat pada norma moral yang berlaku di masyarakat. Kelima, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa," jelas dia.

Jika aturan tersebut tidak diperdulikan, maka sesuai dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 Pasal 15 bahwa aparat Polri dapat membubarkan kerumunan masyarakat tersebut. Artinya, tidak ada agenda menginap di lokasi.

"Ya enggak boleh. Ditegaskan tidak boleh (menginap). Silakan kembali, kalau mau menjalankan ibadah lanjutan, silakan gunakan masjid dan sarana ibadah yang tersedia. Maksimalnya, selesai salat tarawih semua harus kembali. Itu toleransi yang diberikan aparat," Dedi menandaskan.

Baca juga:
Polisi Mulai Tutup Jalan di Depan KPU
Luhut Sebut Ada Purnawirawan TNI Terlibat Rencana Penyelundupan Senjata Aksi 22 Mei
Bupati Cellica Minta Warga Karawang Tidak Ikut Aksi 22 Mei
Pemprov DKI Siap Tanggung Biaya Pengobatan Warga Terdampak Aksi 22 Mei
Terima Keputusan KPU, Kiai se-Madura Tolak People Power
Anies Baswedan Saat ini di Jepang, Dijadwalkan 22 Mei Sudah di Jakarta

(mdk/eko)