Awal Polemik KPAI - Djarum Foundation: Tudingan Eksploitasi Berakhir Suram Masa Depan

PERISTIWA | 9 September 2019 07:01 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Sebuah foto terpampang di laman resmi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Foto itu diunggah 2 Agustus 2019. Foto itu memuat wajah ceria anak-anak yang memegang tiket emas beasiswa setelah sukses dalam audisi bulutangkis yang digelar klub bulutangkis kenamaan, PB Djarum.

Mereka berfoto di belakang papan bertuliskan Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis. Di sisi lain, papan bertuliskan Djarum Foundation Bakti pada Negeri. Anak-anak itu kompak mengenakan seragam hitam kombinasi merah. Di dada mereka bertuliskan Djarum.

Seragam mereka itu yang jadi pemantik polemik. KPAI menuding Djarum Foundation melakukan eksploitasi anak. Menurut KPAI, anak-anak telah dijadikan bagian dari promosi dagang Djarum. Menjadi sangat sensitif karena berkaitan dengan produsen rokok. karena itu, mereka meminta Djarum Foundation menghentikan penggunaan anak sebagai media promosi citra merek dagang rokok melalui audisi beasiswa bulutangkis.

Dalam laman itu, Ketua KPAI Susanto menyampaikan, pihaknya sepakat pengembangan bakat dan minat anak di bidang olahraga bulutangkis terus dilakukan. Tetapi tidak boleh ada eksploitasi anak. Pernyataan itu disampaikan usai menggelar pertemuan dengan kementerian atau lembaga terkait.

Pertemuan pada 1 Agustus tersebut secara khusus membahas audisi Beasiswa Bulutangkis Djarum. Pertemuan dihadiri perwakilan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Kesehatan, Kementerian Pemuda dan Olahraga, dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Tapi tidak melibatkan Djarum Foundation,

Menurut Susanto, anak yang memiliki bakat harus difasilitasi dan mendapatkan pemenuhan hak untuk berkembang dengan baik. Pernyataan tersebut sekaligus untuk membantah pemberitaan yang seolah-olah menyebutkan KPAI meminta audisi beasiswa bulutangkis tersebut dihentikan.

"Bukan audisinya yang kami minta dihentikan, tetapi eksploitasi anaknya. Kami sepakat bahwa terjadi eksploitasi anak dalam audisi tersebut," kata Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty.

Audisi tersebut diduga melanggar Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Dalam Pasal 35 Ayat (1) huruf c Peraturan tersebut, pengendalian promosi produk tembakau dilakukan dengan tidak menggunakan logo dan/atau merek produk tembakau pada suatu kegiatan lembaga dan/atau perorangan.

Sedangkan Pasal 37 berbunyi sponsor industri rokok hanya dapat dilakukan dengan tidak menggunakan nama merek dagang dan logo produk tembakau termasuk citra merek produk tembakau.

"Logo dan warna yang digunakan dalam audisi bulutangkis tersebut tidak lepas dari brand image produk rokok," kata Hikmawatty.

Dalam Pasal 47, lanjutnya, dinyatakan bahwa setiap penyelenggara kegiatan yang disponsori produk tembakau dan/atau bertujuan untuk mempromosikan produk tembakau dilarang mengikutsertakan anak di bawah usia 18 tahun.

Sementara itu, Asisten Deputi Pembibitan Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga, Washinton mengatakan, semua induk organisasi olahraga internasional, termasuk bulutangkis, telah melarang sponsor rokok dalam kejuaraan olahraga.

"Masalahnya yang dilakukan itu adalah audisi atau seleksi klub, bukan kejuaraan olahraga. Klub bulutangkis di Indonesia ada banyak, salah satunya PB Djarum yang memang disponsori oleh Djarum," jelasnya.

Pihak Djarum Foundation sebelumnya mengaku sudah setuju mengganti nama event dan tidak menyertakan embel-embel Djarum. Anak-anak tidak diwajibkan lagi menggunakan seragam dengan logo bertuliskan Djarum. Namun pihak Djarum tidak bisa menjamin jika anak-anak atau orang tua mereka tetap membeli kaos yang dijual. KPAI tetap menolak dan meminta tak ada brand Djarum dalam bentuk apapun dalam event ini.

Setelah berpolemik, akhirnya Bakti Olahraga Djarum Foundation memutuskan pamit. Mereka memutuskan menghentikan Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis yang digelar PB Djarum mulai 2020. Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin menegaskan, pihaknya menghentikan proses audisi umum beasiswa bulutangkis pada 2020 karena berbagai alasan dan bersifat final.

"Kalau sekarang ini saya jawab iya, final, tahun 2019 ini akan menjadi audisi terakhir," katanya di sela audisi umum beasiswa bulutangkis PB Djarum di GOR Satria, Purwokerto, Jawa Tengah.

Menurut dia, keputusan itu diambil menyusul adanya permintaan dari kementerian/lembaga yang dimotori Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) agar Djarum Foundation menghentikan penggunaan anak sebagai media promosi citra merek dagang rokok Djarum melalui audisi beasiswa bulutangkis.

"Keputusan untuk menghentikan audisi baru kita putuskan sejak rapat hari Rabu (4/9) lalu, tapi ini bukan keputusan emosional, ini sangat rasional," katanya menambahkan.

Hanya saja, Yoppy menyayangkan jika audisi umum dianggap mengeksploitasi anak. Apalagi sudah banyak juara yang lahir dari program tersebut yang salah satunya pemain peringkat satu ganda putra, Kevin Sanjaya.

"Semangat kami adalah semangat untuk menjaring calon bintang bulu tangkis masa depan, lewat audisi umum beasiswa bulutangkis, semangat yang ada dalam setiap audisi adalah sportifitas, jangan dibawa-bawa ke ranah yang tidak ada kaitannya dengan sportifitas," katanya.

Keputusan PB Djarum menghentikan audisi umum beasiswa bulu tangkis pada 2020 setelah berpolemik dengan KPAI menjadi sorotan saat peringatan puncak Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2019 di Banjarmasin, Kalimantan, Selatan, Minggu (8/9). Menteri Pemuda dan Olah Raga Imam Nahrawi angkat bicara. Dia tak ingin PB Djarum pamit dari pembinaan calon atlet bulutangkis.

"Hari ini berita yang berkembang audisi PB Djarum akan berhenti. Jangan pernah memimpikan audisi ini berhenti. Lakukan terus. Ini demi anak-anak kita," kata Menpora Imam Nahrawi di hadapan ribuan masyarakat Banjarmasin dan sekitarnya. Seperti dilansir Antara.

Imam Nahrawi mengapresiasi peran PB Djarum selama ini. Sebagai salah satu langkah nyata melahirkan atlet-atlet potensial untuk mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Hasilnya pun sudah dibuktikan dalam beberapa kejuaraan internasional.

Menpora tidak melihat adanya eksploitasi anak dalam audisi yang dilakukan PB Djarum. "Kami melihat tidak niat untuk mengeksploitasi anak. Jadi para calon juara dunia jangan putus asa," kata tegas Menpora.

Masih Ada Asa Lahirkan Juara Dunia?

Keputusan Djarum membuat sedih juara dunia yang lahir dari asuhan PB Djarum yakni Liliyana Natsir. Liliyana yang akrab disapa Butet ini menyayangkan keputusan itu. Penghentian audisi berpotensi memutus mata rantai penjaringan atlet-atlet Bulutangkis potensial di masa mendatang. Sebagai mantan atlet, dia berharap audisi tetap bisa diselenggarakan. Audisi ini ikut menjaga asa dan mimpi anak menjadi pemain dunia. Karena calon atlet mau tidak mau harus masuk ke klub-klub besar.

"Saya berharap ada solusi. Mungkin ada strategi lain dari PB Djarum. Kecil kemungkinan tanpa ada audisi, atlet yang di daerah sulit terpantau," katanya.

Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) juga menyayangkan keputusan ini. Sekretaris PB PBSI Achmad Budiarto memuji peran PB Djarum terhadap kemajuan dan prestasi bulu tangkis Indonesia. Atlet berbakat dan juara dunia lahir dari tempaan markas PB Djarum di Kudus, Jawa Tengah. Sebut saja Liem Swie King, Christian Hadinata, Alan Budikusuma, Haryanto Arbi, Kevin Sanjaya, Liliyana Natsir, hingga Tantowi Ahmad dan lainnya. Meski sudah mengeluarkan keputusan penghentian audisi, PB Djarum diharap tetap konsisten dan berkontribusi terhadap kemajuan bulutangkis nasional.

"Tanpa mereka, sulit. Kemarin (Olimpiade Brasil), muka kita terselamatkan oleh siapa? itu karena Butet dan Tantowi. Mereka kan dari PB Djarum," tegasnya.

Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Erick Thohir akhirnya bersikap. Di tengah keprihatinannya dan atas nama masa depan atlet bulutangkis, Erick Thohir ingin mencari jalan tengah atas perbedaan dua pihak yang sebenarnya ingin sama-sama membangun Indonesia.

Satu sisi, KPAI ingin memberikan perlindungan kepada anak. Namun di sisi lain, olahraga Indonesia saat ini masih sangat bergantung dari peran dunia usaha dalam upaya membantu pembibitan atlet maupun prestasi.

"Kami secara internal akan berdiskusi dan kemudian memanggil kedua pihak untuk duduk bersama. Karena sebenarnya, baik PB Djarum maupun KPAI memiliki tujuan yang sama ingin membangun negara kita tercinta ini. KPAI dan PB Djarum dua lembaga yang sama-sama dibutuhkan untuk bangsa Indonesia. Oleh sebab itu saya ingin kedua pihak duduk bersama sehingga mendapatkan solusi terbaik untuk bangsa kita khususnya dunia olahraga." ujar Erick Thohir.

Erick yang juga anggota Dewan Olimpiade Dunia ini mengingatkan, cabang olahraga bulu tangkis menjadi satu-satunya yang mampu menyumbang medali emas bagi Indonesia di kancah Olimpiade.

"Saya ingin kita semua tidak terjebak dalam pemikiran yang berbeda tanpa adanya solusi untuk membangun bangsa Indonesia," tegas Erick Thohir.

Jangan Lewatkan:

Ikuti Polling Adakah Unsur Eksploitasi Anak dalam Audisi Bulutangkis PB Djarum? Klik disini

Baca juga:
Menpora Nilai PB Djarum Tak Ada Niat Eksploitasi Anak
Tuan Rumah Audisi PB Djarum Diancam Dicabut Predikat Kota Layak Anak
Jalan Tengah Polemik Djarum Foundation - KPAI: Audisi Tetap Jalan Tanpa Logo Djarum
Adakah Unsur Eksploitasi Anak dalam Audisi Bulutangkis Djarum Foundation?
Ini Moment Lima Atlet Jebolan PB Djarum Harumkan Indonesia
Cari Jalan Tengah, Erick Thohir Akan Panggil KPAI dan PB Djarum

(mdk/noe)