Bahagiakan Warganya, Wali Kota Bengkulu Hadirkan APBD untuk Rakyat

Bahagiakan Warganya, Wali Kota Bengkulu Hadirkan APBD untuk Rakyat
PERISTIWA | 16 Mei 2020 15:27 Reporter : Hery H Winarno

Merdeka.com - Tidak banyak daerah di Indonesia yang miliki gebrakan tidak biasa untuk mensejahterakan warganya. Pemkot Bengkulu adalah satu dari yang sedikit tersebut.

Pemkot Bengkulu di bawah kepemimpinan Helmi Hasan sebagai Wali Kota dan Dedy Wahyudi sebagai Wakilnya memiliki visi 'Menghadirkan Kebahagiaan untuk Warga'. Dari visi ini lah kemudian semua program dibuat.

"Visinya kita ingin menghadirkan kebahagiaan kepada masyarakat, tentu ini berbeda dengan konsep banyak negara dan pemerintahan yang orientasinya fisik saja," ujar Wali Kota Bengkulu Helmi Hasan saat berbincang santai dengan merdeka.com, Jumat (14/5) kemarin.

Menurut Helmi, hari ini seluruh rakyat sudah mempercayakan uangnya kepada pemimpinnya melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Nah APBD itu seharusnya bisa menerjemahkan apa yang menjadi keinginan seluruh masyarakat.

"Seluruh masyarakat tidak pandang agama, suka, apakah dia petani apakah dia nelayan, apakah dia profesor apakah dia yang tidak SD sekalipun keinginannya sama yaitu bahagia. Bahagia inilah yang kemudian menjadi target, visi dan tujuan pemerintah dengan bekal APBD dan kewenangan yang dimiliki kepala daerah itu," ujar politisi PAN ini.

Dari visi tersebut, Helmi Hasan dan Dedy Wahyudi kemudian membuat program kecil sebagai turunan. Program yang dibuatpun harus bisa langsung dirasakan oleh warganya.

Salah satu program tersebut adalah APBD untuk Rakyat. APBD Pemkot Bengkulu harus betul-betul bisa dirasakan masyarakat dan terukur. Salah satu contohnya ketika rakyat kesulitan mencari kerja, maka APBD menerjemahkannya dengan membuat program Satu Miliar untuk Satu Kelurahan (Samisake).

"Untuk apa ini uang? untuk modal masyarakat yang kemudian tidak punya penghasilan karena tidak punya modal kerja. Lalu bagaimana distribusinya? ini jadi persoalankan, maka pemerintah (Pemkot Bengkulu) kemudian mengundang ahli-ahli pemberdayaan, dosen, LSM, tokoh media untuk mendiskusikan agar dana bergulir ini bisa berjalan dan kemudian betul-betul ditangkap oleh masyarakat yang membutuhkan," terang Helmi.

Menurut Helmi banyak program bagus yang buat oleh pemerintah tetapi dalam pelaksanaannya hanya menjadi boncengan tim pemenangan saja. Helmi tak ingin hal itu terjadi juga di Bengkulu. Helmi ingin dana satu miliar ini benar benar dikelola secara profesional.

"Kita ajak diskusi banyak pihak maka muncullah formulasinya bahwa dana ini tidak diberikan kepada kelurahan, kalau diberikan kepada lurah khawatir muncul persoalan karena lurah tidak didesain untuk menjadi simpan pinjam. Sebagai contoh dana desa, kan banyak kepala desa yang kemudian masuk ke proses hukum karena memang mereka tidak tidak didesain untuk itu," papar Helmi.

Pemkot Bengkulu lalu mengarahkan agar pengelolaan dana Samisake ini diserahkan kepada Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dan Koperasi lokal. Meski demikian tidak semua LKM atau Koperasi bisa menjadi pengelola uang satu miliar tersebut. Ada syarat sudah berdiri minimal dua tahun bagi LKM dan Koperasi yang bisa mengelola dana Samisake.

"Ini agar tidak ditumpangi orang, nanti orang jadi berbondong bondong bikin koperasi hanya untuk ambil dana Samisake. Yang terjadi kan sekarang begitu, program bagus kemudian muncul organisasi-organisasi yang sudah disiapkan menyambut dananya, akhirnya rakyat hanya menjadi penonton saja, hanya menjadi alamat. Makanya di Bengkulu kita mensyaratkan koperasi yang sudah berdiri minimal 2 tahun, karena sudah teruji, sudah simpan pinjam selama dua tahun artinya masa sulit sudah dilalui," paparnya.

Menurut Helmi, program Samisake ini terbukti berhasil dalam memberdayakan masyarakat di Kota Bengkulu. Bahkan ada kisah sukses di balik program Samisake ini.

"Salah satu kisah saja, ada anak muda yang sudah melamar kerja ke sana ke sini tidak dapat kerja. Kemudian dia dengar di kelurahan tempat tinggalnya di Kelurahan Jembatan Kecil ada dana (Samisake). Yang kita kasih tahap pertama itu sekitar Rp 300 juta waktu itu. Kemudian si anak muda ini coba pinjam ke LKM tersebut dikasih lah modal Rp 5 juta. Dari Rp 5 juta ini kemudian dia buatkan usaha pisang pasir. Dan pisang pasir ini kemudian berhasil dan sukses sampai dia punya cabang di Lubuk Linggau, Sumsel sana, itu salah satu cerita sukses dari Program Samisake," terang Helmi. (mdk/hhw)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami