Bakamla Waspadai Ancaman Teroris Maritim

PERISTIWA | 21 November 2019 01:47 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) Laksamana Madya Achmad Taufiqoerrochman hari ini bertemu secara tertutup dengan Menko Polhukam Mahfud MD. Pertemuan itu membahas mengenai tantangan menghadapi maritim Indonesia.

"Kita berikan (laporan) secara keseluruhan. Apa sih tantangan kita itu. Bukan tantangan Bakamla ya, tapi tantangan negara kita apa, di maritim itu," kata Achmad di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Rabu (20/11).

Dia menuturkan, selain konstelasi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan, serta berada di persilangan Samudera Hindia dan Pasifik, juga mempunyai kewajiban menjalankan hukum laut internasional. Serta masalah perbatasan maritim yang belum selesai antara negara yang berdekatan.

"Itu kan berdampak pada kita. Sehingga apa fokus Bakamla untuk dukung itu? Untuk mendukung tugas-tugas pengamanan yang outputnya adalah mendukung tugas atau pencapaian visi poros maritim dunia dari sisi keamanan," ungkap Achmad.

Menurut dia, sejauh ini Menko Polhukam Mahfud MD sepakat apa yang terus dilakukan Bakamla.

"Karena beliau baru, akan mempelajari. Tapi yang jelas, pesannya lakukan terus apa yang sudah dikerjakan. Karena sudah on the track," tegas Achmad.

1 dari 1 halaman

Ancaman Terorisme

Taufiqoerrochman mengatakan, selalu ada tantangan teroris di maritim. Meskipun demikian, sampai saat ini belum pernah dihadapi oleh Indonesia.

"Sekarang sebetulnya kita belum menghadapi itu di Indonesia. Tapi bibit ke arah sana sudah," kata dia.

Karena itu, menurut dia, pihak Bakamla sudah mengantisipasinya. Salah satunya dengan menjalin kerjasama antar negara, selain juga berkerja dengan semua stakeholder di dalam.

"Kita tahu bahwa di laut kita punya ancaman yang sama. Kita punya isu yang sama, dan kita tidak bisa menghadapinya sendirian, maka harus bekerja sama, berkoordinasi. Karena satu kejadian di region satu berdampak ke region lain. Karena itu kita bangun. Sehingga bekerja sama dengan semua di dunia dan sebagai aktor utama jalan informasi. Sehingga kita akan lebih awal tahu apa yang akan kita hadapi," jelas Achmad.

Menurut dia, selama ini yang dihadapi di dunia, adalah penyelundupan senjata. Salah satu contoh pernah terjadi di Somalia.

"Saya mimpin operasi. Ke sana itu ada task force tersendiri untuk counter maritim terrorism. Karena waktu itu ada pergeseran kekuatan amunisi senjata ke Somalia. itu sendiri. kemudian Bagaimana serangan terhadap kapal-kapal Amerika beberapa yang kena itu di Timur Tengah. tidak menutup kemungkinan di sini juga," ungkap Achmad.

Mengingat perairan Indonesia yang luas, maka sangat sulit untuk berkerja sendiri. "Jadi kalau kita bekerja sendiri, kita bisa kedodoran," pungkasnya.

Reporter: Putu Merta Surya Putra (mdk/gil)

Baca juga:
Serangan Taliban Lebih Mematikan dari ISIS Selama 2018
Selain Panci Isi Bahan Peledak, Densus Juga Sita Senjata Api Rakitan, Busur & Pedang
Geledah Rumah Terduga Teroris, Densus Sita 4 Panci Rangkaian Kabel dan Bahan Peledak
Anggota Densus 88 yang Ditusuk Terduga Teroris Masih Dirawat di RS Bhayangkara
Densus 88 Tangkap 71 Orang Usai Peristiwa Bom Medan
Densus 88 Gerebek Sebuah Rumah di Gunungkidul
Pemilik Rumah di Gunungkidul Yang Digerebek Densus 88 Pendatang dan Dikenal Tertutup

TOPIK TERKAIT