Banjir di Kawasan Bandung Raya Diduga Akibat Terowongan Air Tersendat Lumpur

PERISTIWA | 25 Januari 2020 22:01 Reporter : Aksara Bebey

Merdeka.com - Sejumlah wilayah di Bandung Raya terendam banjir setelah diguyur hujan dengan intensitas tinggi tiga hari terakhir. Padahal, sebelumnya Pemprov Jabar beserta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengklaim bisa mengatasinya dengan proyek tol air Terowongan Curug Jompong yang dibangun di Kabupaten Bandung.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat Supriyatno mengatakan, banjir yang terjadi di wilayah Bandung Raya, terutama di Kabupaten Bandung terjadi setelah curah hujan yang tinggi selama tiga hari beruntun.

Berdasarkan data BPBD Jabar, 3.744 rumah, empat sekolah, dan 17 rumah ibadah, terendam. Sebanyak 77 KK atau 225 jiwa mengungsi, dan 5.640 KK atau 18.636 jiwa terdampak banjir.

Kehadiran Terowongan Nanjung dapat membuat genangan air cepat surut. Namun, kata dia, arus sungai Citarum di Kabupten Bandung menuju terowongan tersebut sedikit tersendat karena endapan lumpur.

"Kementerian PUPR, khususnya BBWS Citarum, untuk memperhatikan sedimentasi yang ada di alur Baleendah dan Curug Jompong. Karena air dari Kertasari yang masuk ke sungai Citarum itu membawa lumpur, sehingga mempercepat perdangkalan di jalur," ucap dia melalui siaran pers yang diterima.

1 dari 2 halaman

Kembali akan Bangun Proyek Pengendali Banjir

Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan akan membangun sejumlah infrastruktur pengendali banjir. Salah satunya adalah Flood Way Cisangkuy yang proses pembangunannya sudah berjalan.

"Dayeuhkolot salah satu pengendali banjirnya sodetan Cisangkuy yang pengerjaannya sudah 50 persen, harusnya air di Dayeuhkolot bisa dibelokkan sampai 90 persen ke (sodetan/flood way) Cisangkuy," kata dia melalui siaran pers.

"Nanjung juga sudah berjalan dua duanya terowongan sudah bisa dibuka, pompa-pompa disiagakan, mudah-mudahan kalau sodetan Cisangkuy nanti potensi banjir seperti hari ini bisa dikurangi," tambahnya.

Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Linda Al Amin menyatakan, selain Flood Way Cisangkuy, kolam retensi dan folder-folder air di wilayah Bandung Selatan akan dibangun.

"Dengan kolam retensi yang dibangun tahun ini seluas 4,8 hektare, mudah-mudahan di 2021 selesai, banjir di Baleendah teratasi," kata Linda.

"Selain itu, infrastruktur pengendali banjir di wilayah Citarum Hulu antara lain Flood Way Cisangkuy. Ini untuk mengurangi debit air yang masuk ke area banjir di Baleendah. Apalagi folder-folder yang tabungan lebih kecil 1-2 hektare itu akan banyak dibangun di Citarum hulu ini," tambahnya.

2 dari 2 halaman

Kawasan Gede Bage Paling Parah Dilanda Banjir

Dari pantauan, wilayah Kecamatan Gede Bage, Kota Bandung air merendam ratusan rumah. Salah satunya di perumahan mewah RW 8 Kelurahan Rancabolang, Komplek Adipura, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung sejak kemarin hingga Sabtu (25/1).

Ketua RW, Oping Arifin menyebut kedalaman air di sana sekitar 60 sentimeter atau setinggi lutut orang dewasa. Kawasan tersebut memang termasuk daerah langganan banjir, namun kali ini dirasa yang paling parah. Saat ini, sebagian warga memanfaatkan masjid sebagai tempat pengungsian.

"Ini memang yang terparah selama ada banjir. Tapi ini penyebabnya masih simpang siur, ada yang bilang debit air sedang tinggi di sungai Cinambo, ada juga yang bilang karena proyek (pemerintah pusat) kereta cepat," kata Oping.

Pemerintah Kota Bandung menyediakan dua perahu untuk evakuasi dan memperlancar distribusi logistik. Selain itu, disediakan pula mesin penyedot untuk mengurangi air.

Ditemui di sela kunjungan ke lokasi, Wali Kota Bandung, Oded M Danial menyebut total korban dari banjir di Gede Bage sebanyak 259 kepala keluarga (KK) atau 1.100 warga. Ia menginstruksikan jajarannya untuk mencari penyebab banjir sekaligus memenuhi kebutuhan para korban.

"(data dari kantor Kecamatan) saya terima, ada kurang lebih dari 259 KK itu sekitar 1100 jiwa yang jadi korban banjir," kata dia, Sabtu (25/1).

Di singgung mengenai adanya kemungkinan banjir terjadi karena proyek Kereta Cepat, Oded mengaku akan melakukan analisa lebih lanjut, termasuk berkoordinasi dengan pihak Pemerintah Kabupaten Bandung dan PT. KCIC.

Sementara itu, banjir pun sudah menerjang sejumlah wilayah Kabupaten Bandung sejak tiga hari lalu. ketinggian air lebih variatif, bahkan yang terparah mencapai 1,4 meter atau dada orang dewasa.

Sedikitnya, ada empat kecamatan yang terdampak banjir akibat luapan sungai Citarum tersebut. Yakni Kecamatan Dayeuhkolot, Bojongsoang, Baleendah, dan Kecamatan Rancaekek.

Contoh banjir terparah terjadi di Jalan Katapang Andir, Desa Rancamanyar Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. Akses transportasi menuju lokasi terbilang sulit. Ada sejumlah perahu yang terlihat lalu lalang.

Wilayah tersebut memang kerap menjadi langganan banjir setiap musim hujan. Upaya yang dilakukan pemerintah untuk menanggulangi banjir adalah dengan membuat kolam retensi, di RW 13 dan di RW 05. Namun, dampaknya ternyata tidak signifikan.

Sebelumnya, Kementerian PUPR dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengklaim proyek infrastruktur pemerintah dalam mengatasi banjir di Bandung Raya sudah berfungsi secara maksimal. Sejumlah proyek lain bahkan akan segera dibangun dan sebagian akan diresmikan Presiden Joko Widodo.

Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil usai meninjau beberapa proyek di wilayah Jawa Barat, salah satunya Terowongan Nanjung di Curug Jompong, Margaasih, Kabupaten Bandung, Senin (13/1).

Basuki menyebut, terowongan tersebut bisa maksimal mengatasi banjir di wilayah Bandung Raya, khusunya kawasan Dayeuh Kolot, Kabupaten Bandung. Ia mencontohkan, banjir pada 17 Desember 2019 lalu, air surut dengan cepat ketika terowongan air dibuka.

Pembangunan terowongan air yang sempat mangkrak beberapa tahun ini sudah dioperasikan. Rencananya akan diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo.

"Tinggal tunggu Pak Gubernur mengundang Pak Presiden," ungkap Basuki.

Di lain pihak, kementerian yang dipimpinnya itu segera membangun floodway atau sodetan Cisangkuy, Kabupaten Bandung untuk lebih memaksimalkan penanganan banjir di wilayah Bandung Raya. Proyek itu memiliki panjang total 1,7 kilometer, bisa menampung 225 meter kubik air per detik.

Tujuan pembangunan itu untuk mengurangi beban tampung Sungai Citarum. Ia menilai rangkaian proyek ini ditargetkan rampun akhir tahun nanti sekaligus dengan penanganan sungai Citarum di bagian hulu.

"Supaya saya tahun depan bisa fokus ke hilir. Makanya saya harus selesaikan ini baru saya fokus. Karena kalau disebar uangnya jadi malah ecer-ecer. Tahun ini selesai tahun depan di sana pasti lebih bermanfaat," tutur Basuki.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan bahwa pemerintah pusat mengebut dua proyek berkaitan dengan penanganan banjir. Yakni Waduk Sukamahi dan Bendungan Ciawi.

"Kemudian untuk solusi banjir Bekasi kita ada bendungan juga pekerjaan tata air nilainya Rp 4,6 triliun itu di area pertemuan Sungai Cikeas dan Cileungsi sampai ke muara. Untuk Karawang di Cibeet sudah siap tinggal pembebasan lahan ada beberapa yang akan kita kebut oleh Pemda Karawang atau Pemprov," ucap Ridwan Kamil. (mdk/gil)

Baca juga:
Menteri PUPR Klaim Terowongan Nanjung Efektif Atasi Banjir di Bandung Raya
Hujan Deras Sebabkan Kota Bandung Dikepung Banjir
Mulyadi Gerindra: Sudah Dua Gubernur, Banjir di Bandung Tak Pernah Selesai
Jokowi: Terowongan Nanjung 15 Tahun 'Dikoja-kaji', Sekarang Kita Kerjakan
Jokowi Tinjau Pembangunan Terowongan Air, Solusi Banjir Kabupaten Bandung
6 Daerah di Kabupaten Bandung Terendam Banjir
Meski Banjir, Warga Kabupaten Bandung Tetap Sukseskan Pemilu 2019

TOPIK TERKAIT

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.