Banyak Warga Belum Dapat Bantuan Covid-19, Mahasiswa Demo di Kantor Gubernur Bali

Banyak Warga Belum Dapat Bantuan Covid-19, Mahasiswa Demo di Kantor Gubernur Bali
Aksi unjuk rasa mahasiswa di depan Kantor Gubernur Bali, Senin (23/8). ©2021 Merdeka.com
NEWS | 23 Agustus 2021 17:27 Reporter : Moh. Kadafi

Merdeka.com - Sekitar 30 mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Bali di Renon, Denpasar, Bali, Senin (23/8). Demonstrasi itu mendesak perbaikan penanganan Covid-19, di antaranya distribusi bantuan.

Pengunjuk rasa terdiri dari perwakilan elemen mahasiswa di Bali, yaitu dari BEM PM Universitas Udayana, BEM PM Universitas Pendidikan Nasional, BEM REMA Universitas Pendidikan Ganesha, BEM IKBM Universitas Hindu Indonesia, BEM ITB Stikom Bali, BEM KBM Politeknik Negeri Bali.

Dalam aksinya, para mahasiswa membawa spanduk bertuliskan,"Gedung ini dijual untuk modal rakyat," serta selembaran tulisan kritikan,"PPKM!!! Covid menurun, kelaparan meningkat bung!!!". Selain itu juga ada selembaran,"Si miskin teriak lapar, si kaya teriak prokes,".

Ketua BEM Universitas Udayana Muhammad Nofriansyah Kusumahpratama yang menjadi salah satu koordinator aksi, menyampaikan, kedatangan mereka ke depan Kantor Gubernur Bali untuk memprotes belum meratanya bantuan pemerintah kepada masyarakat yang terdampak Covid-19.

"Kami berusaha untuk memastikan ada bantuan pemerintah. Di mana yang kami rasa banyak sekali anggaran-anggaran yang belum terfokus terutama di Provinsi Bali," kata Nofriansyah.

Ia menilai, Pemerintah Bali belum merata memberikan bantuan kepada warga terdampak Covid-19, terutama bagi masyarakat kecil. Selain itu, banyak warga Bali yang belum mengetahui mekanisme vaksinasi dan lokasi untuk mendapatkan vaksin.

"Iya (belum rata) itu bisa dilihat bagaimana masyarakat kecil, pedagang, mungkin itu tukang sapu, tukang parkir dan sebagainya. Kalau, kami tanya kepada mereka selama ini, banyak sekali mereka belum dapat bantuan dan belum jelas subsidi pemerintah, serta banyak sekali masyarakat kecil yang tidak tahu apa itu vaksinasi, bagaimana mereka bisa vaksin dan bagaimana mereka bisa survive di masa pandemi Covid-19 ini," ungkapnya.

Mereka juga mengaku sudah tiga kali meminta audiensi kepada Gubernur Bali Wayan Koster. Karena mendapat penolakan, mereka pun melakukan aksi demonstrasi.

"Kami sudah melakukan pengajuan tiga kali audiensi dengan Bapak Gubernur, tapi ketiga-tiganya ditolak. Maka dari itu, kita hadir di sini untuk memastikan, ini suara dari masyarakat dan suara dari mahasiswa yang memang harus didengarkan," ujarnya.

Dia menyatakan, mereka akan kembali melakukan aksi lebih besar jika belum ada perubahan dalam penanganan Covid-19 di Bali dan bantuan kepada masyarakat kecil yang terdampak belum merata.

"Tidak menutup kemungkinan juga akan ada (aksi) besar lagi yang kami lakukan. Karena banyak masyarakat Bali yang memerlukan bantuan dari Pemprov Bali," ujarnya.

Selain itu, mereka juga memasang bendera putih di gerbang Kantor Gubernur Bali, lalu membacakan pernyataan sikap mereka secara bergiliran. Mereka menuntut Pemprov Bali mengevaluasi penerapan kebijakan PPKM yang tidak solutif; segera mendistribusikan bantuan sosial secara adil, merata dan tepat sasaran; dan mengoptimalkan 3T (testing, tracing, dan treatment) dengan sinergi antara pemerintah dan masyarakat; memastikan insentif tenaga kesehatan; serta lebih memperhatikan sektor lainnya sebagai alternatif sektor pariwisata. (mdk/yan)

Baca juga:
Pemkot Makassar Salurkan Bansos Sembako Mulai Pekan Depan
Perjalanan Juliari Korupsi Bansos Covid: Potong Rp10.000 Dulu, Minta Bebas Kemudian
Warga Jayawijaya Tak Terima Bansos Karena Tidak Miliki e-KTP
Bansos di Sragen Belum Cair, Mensos Risma Minta BNI Buka Blokir Rekening Penerima
Polri akan Salurkan Bantuan untuk Pelaku UMKM di Garut Terdampak Pandemi

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami