Bawa Keranda dan Replika Mayat, Mahasiswa Solo Geruduk KPU

PERISTIWA | 20 Mei 2019 16:09 Reporter : Arie Sunaryo

Merdeka.com - Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Solo Raya demonstrasi di kantor KPU Solo, Jalan Kahuripan Utara No.23, Sumber, Banjarsari, Senin (20/5) sore. Para mahasiswa berasal dari BEM Universitas Sebelas Maret (UNS), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), BEM Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta dan lainnya.

Dalam orasinya mereka menyoroti banyaknya petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia usai pencoblosan 17 April lalu. Sebelum ke KPU, ratusan mahasiswa sempat bersitegang dengan polisi, lantaran mereka menggelar aksi di simpang lima Sumber, yang hanya berjarak 300 meter dari kediaman pribadi Presiden Joko Widodo alias Jokowi.

Aksi para mahasiswa sempat membuat arus lalu lintas di jalan arteri tersebut tersendat. Namun setelah bernegosiasi dengan polisi, mereka segera meninggalkan lokasi dan melakukan longmarch ke kantor KPU yang berjarak 450 meter. Selain spanduk dan poster, para mahasiswa yang datang sekitar pukul 14.30 WIB tersebut juga membawa replika mayat dan keranda.

"Berdasarkan data petugas KPPS yang meninggal sudah mencapai 527 orang. Yang sakit sudah mencapai 11.239 orang. Fenomena tersebut tidak bisa dianggap remeh, bahkan dunia Internasional mulai menyorot kasus kematian yang tidak biasa ini," ujar Koordinator Aliansi Mahasiswa Solo Raya, Agil Setiawan.

Peristiwa tersebut, lanjut Agil menjadi bentuk kegagalan pemerintah mengantisipasi dampak buruk dari sistem Pemilu yang dibuat. Pemerintah dan penyelenggara Pemilu, kata dia, harus mengevaluasi secara menyeluruh dari sistem Pemilu serentak yang sudah berjalan.

"Negara harus bertanggung jawab, harus menyelidiki kasus ini secara komprehensif dan transparan agar penyebab kematian diketahui dengan jelas," tandasnya.

Selain prihatin, para mahasiswa juga menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah. Di antaranya mendesak pemerintah membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang independen. Menuntut pemerintah dan penyelenggara Pemilu (KPU, Bawaslu dan DKPP) mengevaluasi Pemilu serentak secara terbuka dan independen.

"Kami juga menuntut pemerintah segera merealisasikan pemberian santunan kepada korban. Kemudian kami juga mengajak dua kubu peserta Pemilu berhenti memanfaatkan isu kemanusiaan untuk kepentingan politik praktis dan elektoral semata," tegasnya.

Dalam aksi tersebut, ratusan aparat gabungan TNI dan Polresta Surakarta melakukan pengamanan. Pintu masuk ke halaman kantor KPU juga dipasang gulungan kawat berduri.

Baca juga:
Dokter Ani Hasibuan Laporkan Media Online yang Sebarkan Hoaks Soal KPPS Meninggal
Ombudsman Desak Pemerintah Minta Maaf soal Kematian Petugas KPPS
Ratusan Petugas KPPS Meninggal, Ombudsman Temukan Indikasi Maladministrasi
Ani Hasibuan Tak Hadir Lagi, Kuasa Hukum Minta Polisi Tunggu Proses dari MKEK IDI
IDI Ingatkan Seluruh Pihak juga Perhatikan Petugas KPPS yang Sakit
Ombudsman: Banyak Petugas KPPS Tidak Paham Hak Kerja Saat Bertugas

(mdk/cob)