Bebas Berekspresi di Ruang Seni Rupa Merdeka

PERISTIWA | 21 September 2019 05:21 Reporter : Mochammad Iqbal

Merdeka.com - Setiap anak memiliki potensi dan kelebihannya masing-masing, termasuk dalam membuat karya seni. Namun faktanya di lapangan, tidak jarang mereka dipaksa untuk mengikuti apa yang diinginkan guru hingga orang tuanya.

Jumat (20/9), saya berjalan menyusuri ramainya kawasan Jalan Merdeka Garut di antara terik matahari siang. Di antara ramainya jalan yang memang menjadi akses hidup saat mentari menyinari bumi Garut, ada salah satu tempat dihimpit ratusan bangunan dengan tulisan 'Ruang Seni Rupa Merdeka'.

Karena penasaran akhirnya saya pun mencoba masuk ke dalam ruangan yang tidak terlalu besar dengan puluhan karya seni rupa yang ada di dalamnya.

Yanuar merupakan pemilik Ruang Seni Rupa Merdeka. Suara dan gaya tertawanya khas seperti meledak-ledak dengan intonasi yang cukup tinggi, ditambah janggutnya yang tidak tebal atau juga tipis dengan panjang sekitar lima atau enam sentimeter.

"Dulu sebelum membuka ruang seni ini saya mengajar di beberapa sekolah, berkutat dengan rencana pembelajaran, jam mengajar, bahkan hingga masalah sertifikasi. Di luar itu saya masih terus berusaha menyalurkan hobi saya dalam hal melukis, sebagai bagian dari cara lain saya untuk menjaga idealisme dan mencari materi untuk memenuhi kebutuhan keluarga," ujar Yanuar kepada merdeka.com kemarin.

Ia menyebut bahwa melukis membawanya ke alam yang lebih merdeka tanpa ada keharusan mengikuti aturan baku. Melukis baginya adalah kemerdekaan dalam mengapresiasi setiap permasalahan atau penggambaran keindahan dengan media kanvas, cat, kuas dan lainnya.

Dia mengungkapkan dua alasan dalam pemilihan nama Ruang Seni Rupa Merdeka, yaitu sesuai dengan nama jalan, dan arti filosofis berupa memberikan ruang berkesenian yang merdeka bagi anak didik.

Dia menginginkan anak didiknya berkesenian dengan merdeka, tanpa campur tangan dari siapapun namun tetap terarah.

"Bagi saya, biarkan anak didik saya berimajinasi semau mereka karena pada prosesnya mereka akan mengetahui mana yang sebenarnya. Atau jangan-jangan mereka menggambarkan sesuatu hal karena ada makna yang ingin disampaikan. Seperti contohnya sosok pelukis Vincent Van Gogh dengan lukisan bunga matahari yang tumbuh dalam pot, padahal secara nyata itu tidak mungkin. Tapi ternyata ada makna yang ingin disampaikan, tergantung apresiator memaknainya bagaimana," jelasnya.

Dengan prinsip-prinsip kemerdekaan yang dia anut tersebut, hingga saat ini sudah puluhan anak didik berkegiatan kesenian di sana. Tidak hanya dari Garut, ada juga yang berasal dari luar kota seperti Solo.

"Alhamdulillah akhirnya saya bisa memberikan fasilitas kepada peserta didik dan membangun ruang ini setelah ada karya saya yang terjual dengan harga lebih dari Rp40 juta. Dan dengan uang yang dihasilkan itu, saya mendidik peserta didik saya secara merdeka, tidak hanya soal teknik melukis, namun juga agar mereka bisa mandiri dengan cara membuat kanvas, cat, hingga spantram yang baik," pungkasannya.

Baca juga:
Sebanyak 440 Sepatu Wanita Dijadikan Pameran Instalasi di Turki
Mengais Rezeki Sambil Melestarikan Budaya di CFD Jakarta
Ketua Dewan Kesenian Ponorogo: Yang Betul 'Reyog' Bukan 'Reog'
Bentuk Asosiasi, Perajin Batik Bondowoso Perjuangkan Paten Motif
Anies Ingin Jakarta Jadi Tempat Seniman Bertukar Ide
Thengul, Tarian Asli Bojonegoro yang Nyaris Punah Kini Mendunia

(mdk/cob)

TOPIK TERKAIT