Bela Mendikbud Nadiem, PBNU Sepakat Kawal Penyusunan Kamus Sejarah RI

Bela Mendikbud Nadiem, PBNU Sepakat Kawal Penyusunan Kamus Sejarah RI
nadiem bertemu pbnu. ©2021 Merdeka.com/istimewa
PERISTIWA | 23 April 2021 09:47 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan akan mendukung langkah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam menyempurnakan konten dalam Kamus Sejarah Indonesia. Keberadaan kamus ini sangat penting untuk memastikan seluruh masyarakat Indonesia memahami perjalanan Bangsa Indonesia dari masa ke masa.

Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj mengapresiasi komitmen Mendikbud Nadiem Anwar Makarim yang berjanji akan memperbaiki dan menyempurnakan draf Kamus Sejarah yang telah disusun sejak 2017 tersebut.

“Kita kecewa dengan draf kamus sejarah itu yang tidak menyebut NU, Hasyim Asy’ari, dan Gus Dur, tetapi itu bukan kesalahan menteri, karena terbit tahun 2017 bukan era Pak Nadiem,” kata Said Aqil setelah menerima kunjungan Mendikbud di kantor PBNU, Jakarta, Kamis (22/4).

Said Aqil pun menyarankan Kemendikbud menyusun ulang naskah kamus tersebut. PBNU siap mendampingi Kemendikbud dalam proses tersebut dengan tim sejarawan yang canggih.

“Penulisan sejarah yang tidak benar akan merugikan bangsa, bukan hanya NU. Kalau sejarah tidak ada Hasyim Asy’ari sejarah bangsa juga rugi dong,” ujarnya

Sekretaris Jenderal PBNU, Helmy Faishal Zaini yang juga ikut mendampingi menyatakan, PBNU telah menugaskan salah satu pengurusnya menjadi tim perumus. Selain itu, PBNU menyampaikan Ensiklopedia NU kepada Kemendikbud.

Hal ini diharapkan dapat menjadi referensi serta masukan agar sejarah dapat diluruskan sesuai perjalanan Bangsa Indonesia.

Khusus terkait Nahdlatul Ulama, Helmy menjelaskan, bahwa kiai, haji, dan ulama NU berperan besar membangun pendidikan Indonesia.

“Sejarah pendidikan Indonesia tidak terlepas dari peran besar kiai, haji, ulama NU dalam konteks membangun sekaligus merintis berdirinya Indonesia,” ungkap Helmy.

nadiem bertemu pbnu
©2021 Merdeka.com/istimewa

Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid atau biasa disapa Yenny Wahid, cicit pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari dan putri dari Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur juga menegaskan, NU dan keluarga Gus Dur menilai bahwa persoalan ini sudah selesai.

“Justru kami akan memberikan asistensi kepada Mas Nadiem dan timnya untuk merevisi kamus sejarah tersebut supaya lebih meningkat,” tegas Yenny.

Yenny juga sangat mengapresiasi sikap Nadiem yang sangat responsif terhadap isu ini, kendati pembuatan naskah kamus sejarah tersebut bukan terjadi di era kepemimpinannya.

“Kita juga bersyukur kejadian ini membawa hikmah karena kamus tersebut dapat diperbaiki sebagai bahan pembelajaran bagi generasi muda ke depan agar lebih mengenal tokoh-tokoh bangsa serta kontribusi mereka terhadap kemerdekaan maupun pengisian kemerdekaan Bangsa Indonesia," kata dia.

Nadiem sendiri menyatakan akan membangun tim yang komprehensif dan lebih ketat dalam menyaring konten untuk buku-buku yang dipublikasikan Kemendikbud, khususnya terkait sejarah.

“Mohon diingat bahwa komitmen kita terhadap ormas-ormas sangat kuat dan kerja sama antara ormas-ormas seperti NU selanjutnya akan kita perkuat,” pungkas Nadiem.

Sebelumnya, polemik Kamus Sejarah Indonesia mencuat lantaran dalam buku itu tak memasukan tokoh sentral sekaligus pendiri NU, yakni KH Hasyim Asy’ari.

Reporter: Yopi Makdori

Sumber: Liputan6.com (mdk/rnd)

Baca juga:
Temui Said Aqil, Nadiem Minta Maaf soal Kontroversi Kamus Sejarah Indonesia
DPR Temukan Kamus Sejarah Indonesia Tetap Beredar dan Dijual di Toko Daring
PSI: Nadiem Makarim Harus Usut Hilangnya Nama KH Hasyim Asy'ari di Kamus Sejarah RI
Nadiem Makarim: Kamus Sejarah Disusun 2017 Sebelum Saya Menjabat
PKB: Nadiem ke PBNU Hanya Cari Suaka Politik Jika Kamus Sejarah RI Tak Dievaluasi

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami