Belajar Meracik Kopi, dari Guru untuk Siswa SD di Banyuwangi

Belajar Meracik Kopi, dari Guru untuk Siswa SD di Banyuwangi
PERISTIWA » BANYUWANGI | 23 Februari 2020 17:15 Reporter : Muhammad Ulil Albab

Merdeka.com - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memiliki program agar sekolah-sekolah yang ada di kawasan perkebunan kopi, memiliki mata pelajaran proses pengolahan kopi pasca panen. Salah satunya ada di Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro. Di sana terdapat 5 sekolah dasar (SD) yang memiliki pelajaran muatan lokal proses kopi.

"Jadi ini program dinas pendidikan. Di Gombengsari ada 5 sekolah SD yang mendapat bantuan alat proses kopi, mulai dari roasting, sampai alat seduh," kata Guru SDN 3 Gombengsari, Endang Susilowati, Sabtu (22/2).

Saat ditemui, sekolah SDN 3 Gombengsari sedang memberikan pelatihan proses kopi kepada guru-guru Pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) Gombengsari. Para guru mengikuti pelatihan menggoreng hingga meracik kopi siap minum.

Pelatihan tersebut digelar agar para guru bisa mengajarkan proses pengolahan kopi pasca panen kepada siswa yang tinggal di kawasan kebun kopi.

guru sd di banyuwangi mengajari murid meracik kopi

Guru SD di Banyuwangi Mengajari Murid Meracik Kopi©2020 Merdeka.com

"Ini kebetulan ada Guru TK yang ingin belajar proses kopi. Kalau di sekolah kami sendiri sudah ada pelajaran muatan lokal proses kopi, jadi agar Anak-anak yang memang tinggal di kebun kopi bisa memiliki pengetahuan proses kopi pasca panen sejak dini," kata Endang.

Tidak hanya memberikan edukasi proses kopi kepada para siswa. 5 sekolah SD di Gombengsari tersebut juga memiliki produk kopi kemasan siap seduh yang siap dijual ke pasaran.

"Iya kami juga punya produk kopi, sudah dijual di kawasan Banyuwangi dan luar daerah via online," katanya.

Tidak hanya sekolah, masyarakat Gombengsari yang mayoritas memiliki kebun kopi juga bisa menggoreng kopi dengan fasilitas roasting yang dimiliki sekolah.

"Kadang siswa datang ke sekolah sama orangtuanya sambil bawa kopi untuk diroasting. Jadi harapannya bisa meningkatkan nilai jual kopi milik masyarakat," katanya.

guru sd di banyuwangi mengajari murid meracik kopi

Guru SD di Banyuwangi Mengajari Murid Meracik Kopi ©2020 Merdeka.com

Mesin penggorengan kopi di sekolah SD berkapasitas 2-3 kilogram setiap goreng. Petani kopi yang ingin memanfaatkan cukup membayar Rp 10 ribu.

Endang mengatakan, bantuan alat proses kopi dan munculnya mata pelajaran proses kopi untuk siswa di 5 SD Gombengsari berawal saat Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas berkunjung di acara festival proses kopi di Gombengsari 2019 lalu.

"Saat itu, Pak Anas bilang sekolah sekolah di sekitar kebun kopi ini perlu mendapat bantuan alat proses kopi, agar siswa dan warga bisa belajar dan memanfaatkan alatnya," kata Endang.

Tidak hanya mesin penggorengan kopi, sekolah SD di Gombengsari juga memiliki peralatan seduh kopi modern.

"Ke depan pengen buat kafe di sekolah kalau ada tamu bisa respons. Dan Anak anak bisa memiliki keterampilan," ujarnya.

Sementara itu, Staf Korwil Pendidikan Kecamatan Kalipuro, Hamida Hidayati yang turut hadir dalam pelatihan proses kopi mengatakan, Guru-guru yang mengajar di SD kawasan Gombengsari telah mendapatkan bekal dari kalangan yang sudah memahami proses pasca panen kopi.

"Para guru sudah mendapat pelatihan dari barista lokal. Jadi belajar mulai dari proses pemilahan biji kopi, memahami kematangan roasting kopi hingga cara menyeduh kopi yang tepat," katanya.

Sementara pelajaran muatan lokal proses kopi, para siswa juga mendapatkan serupa dari gurunya.

"Anak anak banyak yang tertarik, karena di rumahnya masing masing sudah mengenal kopi. Para siswa sudah bisa memilah biji kopi robusta, liberika," katanya.

Sejauh ini, dari lima sekolah SD yang mendapat fasilitas proses kopi dari Pemkab Banyuwangi, Hamida menilai SDN 3 Gombengsari menjadi yang paling aktif dan produktif.

"Dari 5 SD di Gombengsari, SDN 3 ini yang paling aktif dan produktif," ujarnya.

Selain SD, pelajaran proses kopi juga ada di pendidikan tingkat SMP dan SMK di Banyuwangi. Namun, kata Hamida, untuk muatan lokal proses kopi tingkat SD hanya ada di Gombengsari.

"Kalau tingkat SD hanya ada di Gombengsari, sini sentranya kebun kopi," ujarnya. (mdk/hhw)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami