Berbagi Tempat di Kampung Pecinan Tambak Bayan Surabaya

PERISTIWA | 25 Januari 2020 06:32 Reporter : Erwin Yohanes

Merdeka.com - Pernak-pernik khas hari raya Imlek seperti lampion atau ornamen bernuansa kebudayaan Tionghoa mulai terlihat di Kampung Tambak Bayan. Daerah ini merupakan salah satu kampung yang disebut sebagai Pecinan-nya Surabaya.

Kampung tersebut terletak di Kelurahan Alun-Alun Contong, Kecamatan Bubutan, Surabaya. Bukan tanpa alasan mengapa disebut sebagai salah satu Pecinan-nya Surabaya, sebab kampung itu rata-rata dihuni oleh warga keturunan etnis Tionghoa.

Uniknya di tengah Kampung Tambak Bayan, terdapat sebuah bangunan besar yang sebenarnya cukup mencolok. Baik dari sisi bentuk, maupun luas bangunan. Sayangnya bangunan tua itu harus tertutup oleh bangunan-bangunan baru yang ada di sekitarnya.

Ketua Rukun Tetangga (RT) 02 RW 02, Kelurahan Alun-Alun Contong, Suseno Karja atau bernama asli Asen mengatakan, bangunan tua yang ada di Kampung Tambak Bayan ini aslinya adalah sebuah bangunan bekas istal atau sebutan untuk kandang kuda. Dari cerita yang didengarnya, bangunan itu sudah ada sejak 1866.

1 dari 5 halaman

Istal tersebut berada pada sebuah lahan dengan luasan tanah mencapai 3.800 meter persegi. Kini kandang kuda dihuni oleh sekitar 50 kepala keluarga. Mereka menetap sejak dari turun temurun.

"Yang tinggal di sini semuanya sudah turun temurun. Mereka sudah dari generasi ke generasi ada di sini," ujar Suseno membuka pembicaraan.

Suseno lalu mengajak merdeka.com berkeliling mengitari bangunan istal tua itu. Jejak pertama ditunjukkan pada sebuah ruangan besar di bagian tengah yang sebenarnya agak menjorok ke depan.

Ruangan ini disebut sebagai tempat tinggal pemilik kandang kuda kala itu. Sebuah pintu berukuran 1 kali 2 meter layaknya pintu rumah dengan warna dominan magenta dan merah kuning menyambut langkah pertama kami.

2 dari 5 halaman

Memasuki ruangan, aroma mistis layaknya film-film hantu Mandarin pun sempat menyeruak dalam pikiran. Sebab bangunan dengan ruangan yang besar ini tampak kurang terawat. Ditambah lagi, sudut-sudut ruangan yang kurang cahaya, menambah keseraman suasana meski saat siang hari.

Dinding batu bata tebal khas bangunan lama, terlihat sudah mengelupas di sana-sini. Sedikit melangkah ke dalam, tercium aroma debu yang lembab di dalam gedung. Terlihat juga ada empat ruangan besar tersekat tembok.

Ada dua ruangan di sebelah kanan dan dua ruangan sebelah kiri. Melongok ke dalam, tampak barang-barang milik warga yang disimpan. "Ruangan-ruangan ini dulunya adalah kamar-kamar pemilik rumah," katanya.

Di dinding-dinding ruangan, terdapat beberapa poster dan bingkai-bingkai foto yang menghiasi. Selain itu, ada juga beberapa peralatan pertukangan, seperti gergaji dan palu ikut menempel di dinding. Di langit-langit ruangan yang terbuat dari kayu juga tampak lampion. Sebagian besar, lampion berwarna merah itu terlihat sudah berdebu, namun ada juga yang terlihat baru. Lampion itu tergantung tidak merata lantaran sebagian langit-langitnya sudah tidah utuh lagi.

3 dari 5 halaman

Beranjak dari ruang utama, kami pun mulai mengitari gedung. Di sisi kanan dan kiri, terlihat bangunan tambahan yang sengaja disekat dengan papan-papan kayu. Beberapa ruangan mungil berukuran rata-rata antara 4 x 5 meter persegi, digunakan sebagai tempat tinggal warga.

Pernak pernik Imlek bernuansa warna merah menghiasi ruangan yang dijadikan tempat tinggal tersebut. Tempat sembahyang dengan asap dupa tampak mengepul di beberapa ruangan.

"Ya begini kami berbagi tempat tinggal. Ada 50-an KK tinggal di sini. Semuanya keturunan (Tionghoa)," katanya.

Suseno mengaku, meski tinggal berhimpitan dari turun temurun, mereka selalu hidup rukun. Bahkan tidak jarang ada warga yang sudah kawin campuran etnis, masih memilih hidup di tempat tersebut. Alasannya, karena betah dengan suasana kekeluargaan yang sudah terjalin sejak nenek moyang.

4 dari 5 halaman

"Kami ini sudah saling mengenal sejak beberapa turunan. Sehingga semua saling tahu asal usul keluarganya. Jadi kami ini sudah seperti keluarga sendiri," tegasnya.

Lalu mengapa warga keturunan di Tambak Bayan rata-rata kalangan ekonomi menengah ke bawah, Suseno bercerita, hal itu tidak lepas dari sejarah nenek moyang mereka.

Sejak pertama kali di Tambak Bayan, nenek moyang mereka banyak yang berprofesi sebagai tukang kayu. Hal ini ditandai dengan masih banyaknya peralatan bekas pertukangan yang ditinggalkan oleh nenek moyangnya. Bagi warga keturunan yang ingin memperbaiki nasib, mereka harus keluar dari Tambak Bayan.

"Biasanya di sini akan ramai kalau ada perayaan seperti Imlek. Keluarga dari jauh juga datang ke sini," tegasnya.

5 dari 5 halaman

Sementara itu, Sumiati atau bernama Tionghoa Lie Syume, warga Tambak Bayan mengatakan, sejak kecil hingga menikah dia telah tinggal di tempat tersebut.

Di tempat itu pula ia berjodoh dengan Supriadi, warga dari etnis Jawa. Sejak menikah pada 1994 lalu, ia mulai mengikuti agama dari sang suami.

Namun sebagai keturunan Tionghoa, dia tidak melupakan sejarah budaya dari nenek moyang. Berbagai ornamen khas kepercayaan Tionghoa masih tampak memenuhi ruangan tempat tinggalnya.

Dia pun menyebut, bahwa hal itu adalah bagian dari kebudayaan yang tak akan dilupakan dan ditinggalkan. Sebab ia masih percaya bahwa leluhurnya akan menjaganya sebagaimana dia menjaga kebudayaan.

"Inilah wujud kebhinekaan kami. Meski saya sudah beragama lain, tapi kebudayaan asal tak kami lupakan. Kalau saatnya hari raya Idul Fitri, kami pun juga turut merayakannya dengan keluarga suami," ungkapnya. (mdk/cob)

Baca juga:
Menjaga Keberagaman Beragama di Jember Saat Tahun Baru Imlek
Klenteng TITD Pay Lien San, Potret Toleransi Umat Beragama di Jember
Narapidana di Bangka Belitung Penerima Remisi Imlek 2020 Terbanyak
Pedagang Burung Pipit dan Bunga Raup Untung Berlipat di Hari Imlek
Libur Tahun Baru Imlek, Penumpang PT KAI Naik 7 Persen

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.