Berburu Sinyal Sampai ke Puncak Bukit

Berburu Sinyal Sampai ke Puncak Bukit
PERISTIWA | 21 September 2020 06:36 Reporter : Lia Harahap

Merdeka.com - Selepas salat subuh dan sebelum matahari terbit, Iyun Piliang (67), tergopoh-gopoh berjalan keluar masjid. Bagian bawah mukenanya ia singsingkan agar tidak kumuh karena tanah basah semalam diguyur hujan sampai dini hari.

Iyun tidak pulang ke rumah gadangnya. Melainkan ke puncak bukit di atas kampung. Dilewatinya jalan setapak yang licin itu, lalu disibaknya ranting-ranting pohon jeruk yang menghalangi jalan, sambil menekan layar ponselnya.

Beberapa kali tertulis, jaringan seluler tidak ada. Tapi Iyun terus mencoba menjelang sampai ke puncak bukit. Di atas sana, sudah ada dua tetangganya melakukan hal sama dengannya. Mencari sinyal.

"Paling sedikit dua kali seminggu, saya memang harus naik ke bukit ini untuk menelepon anak saya di rantau, bertanya kabarnya di sana, kadang dapat sinyal kadang tidak," kata Iyun. Demikian dikutip dari Antara, Minggu (20/9).

Iyun Piliang merupakan warga di Kampung Sarugo, Jorong Sungai Dadok, Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Limapuluhkota, Sumatera Barat.

Kampung adat yang berlokasi sekitar 176 kilometer dari Kota Padang ke arah utara itu tidak terjangkau sinyal seluler meskipun Indonesia ini sudah 75 tahun merdeka.

Untuk menelepon, warga harus mencari tempat ketinggian agar mendapatkan sinyal. Seperti yang dirasakan Nursyafrida (66), ia biasanya menelepon anaknya di Jambi dari ketinggian.

"Awak manalepon ko, kok dapek di dalam rumah surang-surang, ndak paralu cari-cari sampai ka porak limau (Kalau bisa kita menelepon dari dalam rumah masing-masing, tidak perlu dicari sampai ke kebun jeruk)," kata Nursyafrida berharap.

Kegiatan mencari sinyal biasanya dilakukan pagi dan malam hari. Sebab pada waktu itulah, menurut Nursyafrida, datang SMS masuk di telepon genggamnya.

Tidak jauh dari rumah Nursyafrida, Musri (46), memiliki tempat HP di atas jendela rumah gadangnya, yang diberi pagar menggunakan dua utas tali rafia.

Musri menjejerkan satu unit telepon seluler dan tiga telepon pintar milik keluarganya di tempat itu, agar lebih mudah mendapatkan sinyal.

Musri yang juga bertugas sebagai koordinator agrowisata di kampung wisata Sarugo itu, mengaku kesulitan saat transaksi dengan pembeli jeruk di kebunnya.

Kecamatan Gunung Omeh merupakan sentra penghasil jeruk siam terbesar di Sumatera Barat. Di Kampung Wisata Sarugo, terdapat 200 hektare kebun jeruk yang dikembangkan menjadi agrowisata.

"Karena tidak bisa menelepon, kita kesulitan untuk berjanji dengan pengepul saat menjual jeruk di kebun kami," kata Musri.

Terkadang, kata Musri, pengepul datang ke kebun, saat panen sudah selesai dan jeruknya sudah habis, atau sebaliknya saat petani belum panen.

Di kampungnya, jika ingin menyampaikan pesan, harus langsung datang ke rumah atau sampaikan pesan dari mulut ke mulut.

Baca Selanjutnya: Jaringan Internet Lelet...

Halaman

(mdk/lia)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami