Hot Issue

Berharap Vaksin dari China

Berharap Vaksin dari China
PERISTIWA | 23 Juli 2020 07:01 Reporter : Raynaldo Ghiffari Lubabah

Merdeka.com - Kurva penyebaran virus corona (Covid-19) belum menunjukkan grafik menurun. Data Selasa (21/7), jumlah kasus Covid-19 di Indonesia mencapai angka 89.869. Bertambah rata-rata 1.500 kasus dalam beberapa sepekan terakhir. Indonesia dan banyak negara terdampak tentu berharap pada vaksin Covid-19 untuk menuntaskan 'perang' melawan pandemi.

Indonesia memilih produk vaksin yang tengah dikembangkan oleh China, negara virus Covid-19 berasal. Vaksin tersebut bernama Sinovac. 2.400 vaksin Covid-19 tiba ke Tanah Air pada Minggu, (19/7). Selanjutnya vaksin tersebut bakal menjalani proses uji klinis tahap tiga.

Uji klinis tahap tiga rencananya dilaksanakan pada Agustus 2020 dan rampung pada Januari 2021. Pemerintah menggandeng Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Padjajaran Bandung, Jawa Barat untuk uji klinis vaksin.

Uji klinis belum dilakukan karena masih ada tahapan yang mesti dilewati, antara lain pengujian di dalam Laboratorium Induk Holding BUMN Farmasi Bio Farma dan beberapa proses perizinan lainnya.

Bila uji klinis berhasil, vaksi akan diproduksi massal oleh PT Bio Farma hingga 100 juta dosis per tahun. Ditunjuknya Bio Farma karena dianggap sudah memiliki pengalaman dalam pembuatan vaksin, seperti vaksin Pertusis.

1 dari 5 halaman

Butuh 1.620 Orang Relawan

Uji klinis vaksin Covid-19 ini akan mengambil contoh sebanyak 1.620 subjek dengan rentang usia antara 18–59 tahun dengan kriteria–kriteria tertentu. Sebelumnya diuji, para relawan bakal menjalani pemeriksaan kesehatan dengan teliti untuk memastikan bahwa mereka benar-benar sehat. Yang diperiksa antara lain darah, jantung, dan paru.

Penyuntikan kepada relawan, kata Kusnandi, bakal dilakukan dua kali per 14 hari. Secara berkala tim akan melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap setiap relawan yang dilakukan selama tujuh bulan.

"Kita cari orang sehat, lalu kita suntikkan vaksinnya, apakah vaksinnya memunculkan zat anti terhadap penyakit atau tidak,” kata Koordinator Uji Klinis Vaksin Covid-19 Kusnandi Rusmil dikutip laman resmi Unpad.

Sedangkan sisa dari vaksin tersebut, akan digunakan untuk uji lab di beberapa lab antara lain di Bio Farma dan Pusat Pengujian Obat Dan Makanan Nasional (PPOMN).

Dalam uji klinis vaksin itu, Bio Farma berperan sebagai sponsor, berkolaborasi dengan berbagai pihak antara lain degan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan RI, sebagai medical advisor dan pelaksanaan uji titer antibodi netralisasi.

Selain dengan Baltbangkes, Bio Farma juga bekerjasama dengan BPOM RI sebagai regulator, dan tentu saja dengan FK UNPAD sebagai insititusi yang sudah berpengalaman dalam pelaksanaan uji klinis vaksin–vaksin yang beredar di Indonesia.

Pengembangan vaksin Covid-19 ini, merupakan satu dari lima skenario Bio Farma, dalam menangani penyebaran virus SARS COV2 penyebab Covid-19, antara lain, produksi Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), Terapi Plasma Konvalesen, Mobile Laboratorium BSL 3, dan Pembuatan Viral Transport Media (VTM).

2 dari 5 halaman

Seberapa Efektif Vaksin Sinovac?

Efektivitas vaksin Covid-19 buatan perusahaan China itu terhadap orang Indonesia memang belum diketahui. Untuk itulah dilakukan uji klinis di Indonesia seperti disampaikan peneliti yang juga Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio.

"Kita harus menunggu uji klinis yang di Indonesia apakah dia (vaksin Sinovac) bisa membangunkan antibodi kemudian bisa melindungi orang Indonesia dan apakah cukup aman. Itu yang mau dibuktikan untuk saat ini kata Amin saat dihubungi Health Liputan6.com.

Jika ditinjau dari Virus Corona yang ada di China dan Indonesia, memang ada kesamaan meski juga ada sedikit perbedaan. Namun, belum diketahui strain virus mana yang digunakan oleh China. Menurutnya, hal ini juga terkait dengan rahasia perusahaan vaksin tersebut. Meski begitu, hal terpenting adalah keefektivan vaksin.

"Yang penting kan apakah efektif dan aman untuk orang-orang Indonesia. Itu yang sedang akan dimulai dan dilakukan di Indonesia," terang ahli Mikrobiologi Klinik Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), Depok, Dr Budiman Bela.

vaksin corona

©REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo

Amin mengatakan keragaman Indonesia memang berpotensi menjadi tempat uji klinis dari vaksin Covid-19. Hal ini karena Indonesia memiliki banyak penduduk dan multi etnis sehingga menarik untuk uji klinis.

"Sehingga mereka setidaknya akan melakukan uji klinis juga di Indonesia, tapi tentunya pihak Indonesia juga memberikan persyaratan bahwa mereka juga harus menyediakan sejumlah vaksin untuk Indonesia," ungkap Amin.

3 dari 5 halaman

Hanya 10 Persen yang Berhasil

Soal kefektifitasan vaksin tersebut dipertanyakan Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono. Dia pesimis vaksin tersebut bakal berhasil jika dilihat dari statistika.

"Saya masih pesimis karena dari secara statistik, hanya 10 persen yang berhasil di fase 3," ujar dia.

Untuk uji klinis vaksin Sinovac itu sendiri, Pandu mengakui tidak bisa memperkirakan berapa persentase keefektifannya. Efektif atau tidaknya suatu vaksin harus benar-benar dicoba terlebih dahulu. "Belum tahu, nanti kan masih dievaluasi. Tidak bisa ditebak, harus dicoba dulu," ujar Pandu

Uji klinis vaksin Sinovac tahap pertama dan kedua sudah dilakukan di negara asalnya, yaitu di Tiongkok. Berbeda dengan vaksin Merah Putih yang diuji Eijkman, semua tahapan dilakukan di Indonesia. Sehingga virus yang diuji juga virus dari Indonesia. Karakteristik virus Indonesia dengan virus setiap negara lainnya berbeda.

Galur atau strain Covid-19 yang ada di Indonesia mungkin berbeda dengan galur Covid-19 di negara lain. Sehingga jenisnya harus dipastikan terlebih dahulu agar vaksin virus corona dapat bekerja dengan efektif.

"Ya mungkin karakteristik virusnya bebeda. Kalau vaksin itu tidak efektif, jangan dipakai. Dicari lagi vaksin yang lebih bagus," ujarnya.

Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Scripps Research Institute, Florida, Amerika Serikat (AS), menemukan fakta bahwa virus Corona telah bermutasi. Varian mutasi virus corona yang dinamakan D614G dianggap lebih menular dari para leluhurnya.

Terkait mutasi virus corona ini, Pandu hanya berharap agar para peneliti Indonesia bisa tetap membuat vaksin yang efektif. Dengan segala metode yang digalakkan.

4 dari 5 halaman

Diproduksi Awal Tahun 2021

Bila tahap uji klinis berjalan lancar dan hasilnya vaksin bisa memberikan perlindungan, Bio Farma siap memproduksi massla vaksin Sinovac.

"Kami dari Bio Farma mendapat tugas untuk memastikan kapasitas produksi vaksin ini bisa dikelola dengan baik, sampai saat ini kami sudah menyiapkan 100 juta dosis per tahun," kata Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir.

"Kita akan expand menuju 250 juta dosis per tahun tapi untuk tahap pertama sesuai target penyelesaian uji klinis Januari 2021, pada saat selesai uji klinis dan izin edarnya keluar, kami sudah menargetkan untuk bisa selesai sekitar 40 juta dosis per tahun," ujarnya.

Saat ini, vaksin dari Sinovac tersebut, Honesti menambahkan, berada di Bio Farma dan masih disimpan sesuai dengan ketentuan-ketentuan penyimpanan vaksin internasional.

5 dari 5 halaman

Pemerintah Siapkan Anggaran

Setelah uji klinis rampung, produksi vaksin akan disokong anggaran dari Kementerian Kesehatan. Kemenkes akan menyiapkan tenaga medis untuk melakukan imunisasi sekaligus berkoordinasi dengan Menteri Keuangan terkait anggaran.

Dukungan pemerintah terhadap uji klinis vaksin tersebut juga disampaikan Presiden Jokowi. Bahkan Jokowi meminta penelitian vaksin dilakukan dalam tiga bulan. Hal tersebut disampaikannya saat rapat terbatas yang digelar di Istana Merdeka, Jakarta Pusat.

vaksin corona covid 19

©2020 Merdeka.com

Kusnandi mengakui bahwa Presiden Jokowi memintanya agar uji klinis bisa dipercepat menjadi tiga bulan saja. Namun, ia menolak dengan memberikan alasan ilmiah.

"Saya sampaikan tidak bisa tiga bulan karena kita harus melakukan dengan hati-hati dan benar. Karena untuk uji klinis medis ada tata cara yang sudah diatur WHO," kata pria yang juga Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak FK Unpad ini.

"Tidak boleh dipercepat karena nanti akhirnya tidak baik, malah vaksin ini tidak terpantu efek samping dan manfaatnya," lanjut pria yang dalam kariernya sudah melakukan uji klinis vaksin sebanyak 30 kali ini. (mdk/ray)

Baca juga:
Kalbe Farma Sebut Vaksin Virus Corona Mengandung Jahe Merah dan Jamur
Dokter Reisa Beri Tips Aman Nongkrong Bareng Teman selama Pandemi Covid-19
Pasien Positif Virus Corona di DIY Didominasi Orang Tanpa Gejala
Harga Minyak Dunia Meroket Didorong Harapan Vaksin Corona
Tiga Cara Sederhana Hentikan Pandemi Covid-19 Tanpa Perlu Vaksin

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami