Berkenalan Dengan Risa Santoso, Rektor Termuda di Indonesia

PERISTIWA » MALANG | 6 November 2019 15:14 Reporter : Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Risa Santoso ditunjuk sebagai rektor Institut Teknologi dan Bisnis Asia Malang. Dia dilantik Sabtu (2/11). Dara kelahiran Surabaya itu menduduki jabatan itu di usia 27 tahun. Capaian ini membuatnya menjadi rektor termuda di Indonesia. Nama Risa menjadi perbincangan di dunia maya.

Risa lulus Strata-1 dari University of California, Berkeley jurusan Ekonomi. Sementara jenjang Strata-2 ditempuh melalui beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) di Harvard of University. Dua kampus ternama menjadi tempatnya menimba ilmu, khusus jenjang S-2 berkonsentrasi di ilmu pendidikan yang memberinya bekal mengelola perguruan tinggi.

"Dulunya sih ingin membuat sesuatu sendiri, tetapi dapat jalannya yang berbeda. Dulu saya gimana ya, ingin membuat sesuatu sendiri, menginisiasi perusahaan sendiri atau organisasi sendiri. Dulu awalnya gitu," kata Risa Santoso ditanya cita-citanya oleh wartawan yang menemui di kantornya.

Sebelum menjadi rektor, Risa Santoso pernah duduk sebagai salah satu staf di Kantor Staf Kepresidenan (KSP). Selama 1,5 Tahun bekerja di bawah Deputi Isu-Isu Strategis Ekonomi di lembaga yang saat itu dipimpin Luhut Binsar Pandjaitan.

"Masuk awal-awal tahun 2015 masih Pak Luhut. Waktu itu ada 5 Deputi. Saya di bawahnya Deputi Isu-Isu Strategis Ekonomi," tegasnya.

Saat itu KSP membutuhkan staf yang menguasai bidang ekonomi dan dirasakan sesuai jurusan S-1 yang pernah ditempuhnya. Begitu lulus S-2 dari Harvard of University, dia mengajukan diri ke Kantor yang saat ini dipimpin Jenderal (Pur) Moeldoko itu.

1 dari 2 halaman

Ada Peran Luhut Pandjaitan

Risa menjadi salah satu dari sekian mahasiswa yang terpanggil untuk mengabdi pada negeri sendiri. Menurutnya, para alumni-alumni di luar negeri saat itu seolah dipanggil untuk ikut membangun negeri.

"Karena Pak Luhut datang ke Amerika, waktu saya masih di Harvad. Kan banyak memanggil alumni-alumni, 'jangan ke luar negeri tapi balik ke Indonesia untuk membantu'. Waktu 2015, banyak kayak gitu, karena banyak alumni yang akhirnya stay di luar negeri, bagaimana caranya biar balik ke Indonesia," kisahnya.

Saat itu, Risa berkenalan dan berbincang dengan salah satu Deputy di KSP yang memberikan informasi dan memintanya mengajukan aplikasi. Akhirnya, Risa menjadi staf di Kantor Kepresidenan dalam rentang waktu tahun 2015-2017.

"Istilahnya diimbau (untuk kembali ke Indonesia), lalu saya melamar. Tidak harus sih, tapi kan pokoknya diimbau," ungkap perempuan dua bersaudara itu.

2 dari 2 halaman

Dukungan dari Banyak Pihak

Sebelum dipilih dan dilantik sebagai rektor, Risa pernah menjabat Direktur Pengembangan. Lewat kampus tersebut, menginisiasi akselerasi kerja sama dengan Swiss dalam pengembangan startup lewat program AETP (Asia Entrepreneurship Training Program), Asia Hackaton dan program magang ke luar negeri.

Kekasih Michael Sugijanto itu mengaku kaget dengan respons publik atas pengangkatannya sebagai rektor. Dia berharap dapat menjadi momentum bagi dirinya dan institusi guna bekerja lebih keras.

"Jadi tantangan tersendiri lah, ke depannya biar bekerja lebih dari yang kita planning-kan tapi ya bekerja lebih, biar hasilnya maksimal," katanya.

Risa mengungkapkan, dukungan yang datang kepadanya melebihi yang dibayangkan. Keluarga, Dosen dan Mahasiswa mendukung atas jabatan baru yang tidak pernah diimpikannya itu.

"Malah awal masih menjadi calon, banyak mahasiswa yang bilang 'Sudah ibu saja yang jadi rektor'. Padahal belum diumumkan," ungkap Risa yang mengaku bersaing dengan tiga orang untuk menduduki posisi rektor.

Risa menyadari waktunya akan semakin sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan yang harus diselesaikan sesuai tugas tanggung jawab sebagai rektor. Harus dapat membagi waktu dan efektif menggunakannya sehingga sesuai dengan output yang diharapkan. Butuh kerja sama dan kerja keras.

"Gimana caranya waktu di sini membuat waktu lebih efektif, jadi saat di sini rapat, setelah rapat mau apa, sama-sama semua bisa mengatur waktu, tidak hanya saya tetapi juga orang-orang yang bekerja dengan saya. Semua orang juga mengerti ekspektasi outputnya seperti apa," jelasnya. (mdk/noe)

Baca juga:
Hotel Karya Pengusaha Asal Surabaya Ini Jadi Paling Diminati di Australia
Anak Jadi Bupati di NTT, Orang Tua Tetap Bertani dan Jualan Ternak di Pasar
Inspiratif, PNS Ini Temukan Glaucoma Implant Harga 10 Kali Lipat Lebih Murah
Kisah Brigadir Angga, Pengantar Buku untuk Para Siswa di Pelosok Kepri
Olah Ampas Teh Jadi Pupuk Cair, Mahasiswa UNS Raih Penghargaan di Sri Lanka
Lulus S2 ITB, Anak Tukang Becak Ini ingin Bangun Yayasan Pendidikan Gratis

TOPIK TERKAIT