Bio Farma Ungkap Alasan Pfizer Minta Klausul Bebas Hukum Jika Vaksin Bermasalah

Bio Farma Ungkap Alasan Pfizer Minta Klausul Bebas Hukum Jika Vaksin Bermasalah
PERISTIWA | 14 Januari 2021 17:47 Reporter : Ahda Bayhaqi

Merdeka.com - Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengungkap alasan Pfizer meminta klausul khusus dalam kontrak penjualan vaksin Covid-19. Klausul itu berupa Pfizer ingin bebas hukum jika ada masalah dalam vaksinasi.

Honesti menjelaskan, Pfizer merupakan vaksin platform baru. Efek jangka panjang dari vaksin Pfizer ini belum terbukti.

"Khusus untuk Pfizer, karena ini vaksin platform baru yang efek jangka panjangnya belum terbukti," ujar Honesti dalam rapat dengan Komisi IX DPR RI, Kamis (14/1).

Sehingga Pfizer meminta perlakuan khusus dari pemerintah agar bebas hukum jika ada efek samping jangka panjang atau jangka pendek setelah divaksinasi.

"Mereka memang minta perlakukan khusus dari pemerintah untuk dibebaskan dari klaim hukum baik jangka pendek ataupun jangka panjang terhadap kasus efek samping dari vaksin mereka," kata Honesti.

Alasan itu juga mengapa Pfizer hanya ingin negosiasi langsung dengan pemerintah. Bukan dengan badan bisnis.

"Itulah sebabnya, Pfizer dengan di manapun mereka melakukan deal, mereka minta itu langsung dilakukan dengan pemerintah," jelasnya.

Berbeda dengan Sinovac, Novavax, dan AstraZeneca. Produsen vaksin ini menggunakan platform yang sudah teruji. Dengan perusahaan itu hanya perjanjian langsung dengan Bio Farma.

"Misalnya gini, Sinovac dia produksi kirim ke Bio Farma kalau ada kerusakan akibat kesalahan di Bio Farma, mereka enggak mau dikenakan ganti rugi dan begitu sebaliknya. Novavax juga seperti itu," jelas Honesti.

Sebelumnya, Honesti mengungkap, Pfizer memberikan syarat penjualan vaksin kepada Indonesia. Pfizer memberikan klausul bebas dari tuntutan hukum jika vaksin tersebut bermasalah.

"Karena ada beberapa klausa yang mereka minta diberikan semacam kebebasan atau dilepaskan klaim tuntutan hukum kalau seandainya ada masalah," ujar Honesti dalam rapat dengan Komisi IX DPR RI, Selasa (12/1).

Persyaratan itu yang membuat Indonesia masih bernegosiasi dengan Pfizer. Adapun Indonesia akan membeli sebanyak 50 juta dosis vaksin dari Pfizer.

Honesti mengatakan, klausul tersebut masih dinegosiasikan dengan Pfizer. "Bagaimana klausul ini kita negosiasikan dengan Pfizer/Biontech," kata dia. (mdk/bal)

Baca juga:
Bukan Sultan HB X, Ini Orang Pertama yang Menerima Vaksin Corona di DIY
Satgas Covid-19 Harap Kejadian Raffi Ahmad Jadi Pelajaran Penting
Polisi Sebut Kerumunan Acara Dihadiri Raffi Ahmad Cs Tak Sampai 30 Orang
Penjelasan Dinkes DKI Jakarta Penyintas Covid-19 Tak Jadi Prioritas Vaksinasi
Dinkes Solo Belum Terima Laporan Efek Samping Vaksin Covid-19 dari 11 Tokoh

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami