BKSDA Bali Sebut Fenomena Ribuan Burung Pipit Mati Bisa karena Virus dan Stres

BKSDA Bali Sebut Fenomena Ribuan Burung Pipit Mati Bisa karena Virus dan Stres
Fenomena ribuan burung mati di Bali. Istimewa
NEWS | 10 September 2021 16:37 Reporter : Moh. Kadafi

Merdeka.com - Fenomena ribuan burung pipit di Bali mati tidak hanya terjadi sekali. Lima tahun yang lalu hal yang sama juga terjadi di wilayah Denpasar dan Kabupaten Tabanan.

Kepala Seksi Wilayah ll, Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bali, Sulistyo Widodo menerangkan, kematian ribuan burung pipit pernah terjadi di area RSUP Sanglah, Denpasar, dan di Desa Selemadeg, Kabupaten Tabanan.

"Kejadian ini bukan yang pertama di Bali ataupun bukan pertama di Indonesia. Di Bali dalam lima tahun terakhir juga pernah ada kejadian di area Sanglah Kota Denpasar, juga di Selemadeg Kabupaten Tabanan, juga di Sukabumi Jawa Barat, Bulan Juli tahun 2021," kata Widodo dalam keterangan tertulisnya, Jumat (10/9).

Ia juga menerangkan bahwa BKSD Bali bersama Dinas Kesehatan Hewan Kabupaten Gianyar telah memeriksa lokasi matinya ribuan burung pipit di Desa Pering, Kecamatan Blabatuh, Kabupaten Gianyar.

"Juga mengambil sample bangkai burung dan kotoran burungnya untuk dibawa ke laboratorium kesehatan hewan guna mencari tahu penyebab kejadian tersebut," imbuhnya.

Selain itu, ia menyebutkan bahwa matinya ribuan burung pipit secara bersamaan, karena burung itu adalah satwa koloni yang hidup berkelompok dalam jumlah besar.

"Ukuran burung yang kecil, menyebabkan kecenderungan berkoloni dalam jumlah besar untuk mengurangi risiko terhadap predator. Termasuk saat beristirahat pun bergerombol, biasanya di satu pohon yang besar bisa sampai ribuan burung," ungkapnya.

Sementara, kenapa burung tersebut mati mendadak, harus dibuktikan secara saintifik melalui proses autopsi dari bangkai dan kotoran burungnya. Namun ada beberapa kemungkinan yang mungkin terjadi, yaitu burung-burung itu bisa memakan pakan yang terkontamisasi atau tercemar atau mengandung herbisida dan pestisida yang sifatnya toxic bagi burung.

"Setelah memakannya tentu burung tidak langsung mati, karena proses toxifikasi juga memakan waktu untuk sampai tingkatan mortalitasnya. Kemungkinan besar saat burung-burung tersebut beristirahat malam dan paginya bangkai burung berserakan. Jadi bukan akibat lokasinya di makam setra (kuburan)," sebutnya.

Sementara, kemungkinan kedua adalah tertular penyakit tertentu. Mengingat burung hidupnya berkoloni dalam jumlah besar. Maka penularannya akan cepat. Sehingga angka kematiannya juga dalam jumlah besar.

"Bisa juga akibat virus atau penyebab yang lain yang harus dibuktikan dengan analisa bangkai dan analisa kotoran burung," jelasnya.

Ia juga mengatakan, bisa saja akibat ada perubahan drastis iklim. Contoh yang gampang bisa dilihat matinya ikan koi di kolam terbuka saat hujan pertama kali turun atau matinya ribuan ikan dalam keramba akibat adanya upwheeling endapan bahan kimia, atau cuaca panas dan kemudian tiba-tiba turun hujan.

"Misalnya saja, cuaca di Bali sedang panas, pada saat burung-burung beristirahat malam, tiba-tiba hujan lebat turun, suhu dan kelembaban udara berubah drastis, burung kaget, stres, dan kemudian mati massal. Ingat tingkat stres pada satwa sangat potensial menjadi penyebab mortalitas massal. Atau, sebab lain yg kita belum tahu," ujar Widodo. (mdk/cob)

Baca juga:
BKSD Bali Duga Ribuan Burung Pipit Yang Mati di Gianyar Keracunan
Kesaksian Warga Gianyar Saat Ribuan Burung Pipit Jatuh di Tanah: Biasanya Tak Pernah
Viral Burung Pipit Berjatuhan di Gianyar, Warga Kubur Ratusan Bangkai
Viral Video Fenomena Banyak Burung Pipit Jatuh Berhamburan di Bali
6 Kondisi Cuaca di Indonesia yang Beriklim Tropis, Ketahui Faktor Pengaruhnya
4 Fakta Menarik Sungai Luk Ulo di Kebumen, Jadi Surganya Batu Akik

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami