BMKG Ingatkan Jawa, Bali Hingga Sulawesi Selatan Waspadai Cuaca Ekstrem

BMKG Ingatkan Jawa, Bali Hingga Sulawesi Selatan Waspadai Cuaca Ekstrem
Kepala BMKG Dwikorita. ©2019 Merdeka.com/Purnomo Edi
NEWS | 18 Oktober 2021 19:02 Reporter : Supriatin

Merdeka.com - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengatakan sejumlah wilayah di Indonesia mengalami peralihan musim pada Oktober 2021 ini. Wilayah tersebut di antaranya Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi Selatan.

"Pada peralihan musim perlu diwaspadai seperti fenomena puting beliung atau cuaca ekstrem terutama di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi Selatan," katanya dalam konferensi pers, Senin (18/10).

Dwikorita menyebut, hampir 20 persen wilayah di Indonesia telah memasuki musim hujan. Meliputi Aceh bagian tengah, Sumatera Utara, sebagian besar Riau, Sumatera Barat, Jambi, sebagian besar Sumatera Selatan, Lampung bagian barat, Banten bagian timur, dan Jawa Barat bagian selatan.

Kemudian Jawa Tengah bagian barat, sebagian kecil Jawa Timur bagian selatan, sebagian Bali, Kalimantan Utara, sebagian besar Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian selatan dan timur, Kalimantan Tengah bagian timur, Pulau Taliabu dan Pulau Seram bagian selatan.

Sementara itu, sebagian wilayah di Indonesia akan memasuki musim hujan pada Oktober 2021 ini. Wilayah itu meliputi Aceh bagian timur, Riau bagian tenggara, Jambi bagian barat, Sumatera Selatan bagian tenggara, Bangka Belitung, Banten bagian barat, dan Jawa Barat bagian tengah.

Selanjutnya, Jawa Tengah bagian barat dan tengah, sebagian daerah DI Yogyakarta, sebagian kecil Jawa Timur, Kalimantan Tengah bagian timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, serta Kalimantan Utara.

"Beberapa wilayah yang lain akan memasuki musim hujan pada bulan November hingga Desember secara bertahap dalam waktu yang tidak bersamaan. Secara umum, sampai dengan bulan November 2021, diprakirakan 47,7 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan," jelasnya.

Dwikorita meminta pemerintah daerah, pihak terkait, dan masyarakat segera mengambil langkah mitigasi risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, banjir bandang, angin kencang, maupun badai tropis. Terutama pihak yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air dan pengurangan berisiko bencana.

Sebelumnya, Dwikorita mengungkapkan nilai anomali iklim global di Samudera Pasifik telah melewati ambang batas La Nina yakni mencapai -0.61°C. Ambang batas kategori La Nina hanya -0.5°C.

"Saya ulangi sebesar -0.61°C pada dasarian ke satu bulan Oktober 2021, artinya pada 10 hari pertama di bulan Oktober 2021," ungkapnya.

Dwikorita memprediksi La Nina kali ini terjadi hingga Februari 2022. La Nina diperkirakan akan berlangsung dengan intensitas lemah hingga sedang seperti tahun 2020.

"Namun, tentunya berbagai perkembangan terus kami monitor dan akan segera kami informasikan," sambungnya.

Dia meminta semua pihak segera mempersiapkan berbagai hal untuk menghadapi datangnya La Nina. Belajar dari kejadian La Nina tahun 2020, curah hujan mengalami peningkatan pada bulan November, Desember, dan Januari.

Terutama di wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, NTT, Kalimantan bagian selatan, dan Sulawesi bagian selatan. Peningkatan curah hujan bulanan berkisar antara 20 hingga 70 persen di atas normal.

"La Nina tahun ini diprediksi memiliki dampak yang relatif sama dengan tahun lalu yang diikuti dengan berbagai bencana hidrometeorologi secara sporadis di berbagai wilayah terdampak," jelasnya.

Baca juga:
Melihat Alat Pendeteksi Curah Hujan untuk Antisipasi Banjir
BMKG Imbau Masyarakat Bersiap Hadapi La Nina di Akhir Tahun 2021
Hujan Berpotensi Landa Sejumlah Wilayah Indonesia, Sumut Tetap Panas Menyengat
BMKG Sebut Suhu Panas di Wilayah Indonesia Karena Gerak Semu Matahari
BMKG: Waspada Hujan dan Petir Siang Ini di Jaksel dan Jaktim
BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Panas yang Landa Medan

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami