BNPB: Hingga Agustus 2018 terjadi 1999 bencana, ribuan orang tewas

PERISTIWA | 25 Oktober 2018 19:52 Reporter : Henny Rachma Sari

Merdeka.com - Indonesia berdiri di wilayah yang rawan bencana. Sebut saja, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, erupsi gunungapi, banjir, kekeringan, kebakaran hutan, puting beliung hingga cuaca ekstrem kerap melanda.

Malah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat trend terjadinya bencana meningkat dari tahun ke tahun. Tingginya bahaya bencana berbanding lurus dengan kerentanan serta masih rendahnya kapasitas menyebabkan tingginya risiko bencana.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bencana adalah multidisiplin, multisektor, multidimensi dan multikomplek yang satu sama lain saling berkaitan sehingga memerlukan penanganan yang komprehensif yang berkelanjutan.

BNPB, lanjutnya, mencatat selama tahun 2018, hingga Kamis (25/10), tercatat 1.999 kejadian bencana di Indonesia. Jumlah ini akan terus bertambah hingga akhir 2018 mendatang. Dampak yang ditimbulkan bencana sangat besar. Tercatat 3.548 orang meninggal dunia dan hilang, 13.112 orang luka-luka, 3,06 juta jiwa mengungsi dan terdampak bencana, 339.969 rumah rusak berat, 7.810 rumah rusak sedang, 20.608 rumah rusak ringan, dan ribuan fasilitas umum rusak.

"Kerugian ekonomi yang ditimbulkan bencana cukup besar. Sebagai gambaran, gempabumi di Lombok dan Sumbawa menimbulkan kerusakan dan kerugian Rp 17,13 triliun. Begitu juga gempabumi dan tsunami di Sulawesi Tengah menyebabkan kerugian dan kerusakan lebih dari Rp 13,82 triliun. Jumlah ini diperkirakan masih akan bertambah," jelas Sutopo dalam keterangannya, Kamis (25/10).

Selanjutnya, di tahun yang sama ada kejadian yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian cukup besar

"Yaitu banjir bandang di Lampung Tengah pada 26 Februari yang menyebabkan 7 orang meninggal dunia. Bencana longsor di Brebes, Jawa Tengah pada 22 Februari yang menyebabkan 11 orang meninggal dunia dan 7 orang hilang. Banjir bandang di Mandailing Natal pada 12 Oktober menyebabkan 17 orang meninggal dunia dan 2 orang hilang," katanya.

"Gempabumi beruntun di Lombok dan Sumbawa pada 29 Juli, 5 Agustus, dan 19 Agustus menyebabkan 564 orang meninggal dunia dan 445.343 orang mengungsi. Bencana gempabumi dan tsunami di Sulawesi Tengah pada 28 September menyebabkan 2.081 orang meninggal dunia, 1.309 orang hilang dan 206.219 orang mengungsi."

Jika dibandingkan dengan beberapa tahun ke belakang, bencana yang terjadi di tahun ini lebih banyak menimbulkan korban tewas dan hilang. Jumlah kejadian bencana, kemungkinan hampir sama dengan jumlah bencana tahun 2016 dan 2017 yaitu 2.306 kejadian bencana dan 2.391 kejadian bencana. Namun dampak yang ditimbulkan akibat bencana pada 2018 sangat besar.

Selama tahun 2007 hingga 2018, kejadian bencana besar yang menimbulkan korban banyak adalah pada tahun 2009, 2010 dan 2018. Pada tahun 2009 tercatat 1.245 kejadian bencana. Terjadi gempa cukup besar di Jawa Barat dan gempa di Sumatera Barat. Dampak bencana selama tahun 2009 adalah 1.767 orang meninggal dunia dan hilang, 5.160 orang luka-luka, dan 5,53 juta orang mengungsi dan terdampak bencana.

Pada tahun 2010 tercatat 1.944 kejadian bencana. Beberapa kejadian besar terjadi secara beruntun selama 2010 yaitu banjir bandang Wasior, tsunami Mentawai, erupsi Gunung Merapi, dan erupsi Gunung Bromo. Dampak yang ditimbulkan bencana selama tahun 2010 adalah 1.907 orang meninggal dunia dan hilang, 35.730 orang luka-luka dan 1,66 juta orang mengungsi dan terdampak bencana.

Selama tahun 2018 ini, bencana hidrometeorologi tetap dominan. Jumlah kejadian puting beliung 605 kejadian, banjir 506, kebakaran hutan dan lahan 353, longsor 319, erupsi gunungapi 55, gelombang pasang dan abrasi 33, gempabumi yang merusak 17, dan tsunami 1 kali. Gempabumi yang merusak dan tsunami memang jarang terjadi. Namun saat terjadi gempabumi yang merusak seringkali menimbulkan korban jiwa dan kerugian ekonomi yang besar.

Warga daerah rawan belum siap hadapi bencana

Statistik bencana tersebut makin menunjukkan bahwa negara kita rawan bencana. Secara umum tingkat kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah dalam menghadapi bencana-bencana besar belum siap. Mitigasi bencana, kesiapsiagaan menghadapi bencana, dan pengurangan risiko bencana masih perlu terus ditingkatkan.

"Pengurangan risiko bencana harus dimaknai sebagai investasi pembangunan nasional. Tanpa itu maka dampak bencana akan selalu menimbulkan korban jiwa besar kerugian ekonomi yang besar," ucapnya.

Saat ini, wilayah Indonesia akan memasuki musim penghujan. Diperkirakan banjir, longsor dan puting beliung akan banyak terjadi selama musim penghujan. Gempabumi tidak dapat diprediksi secara pasti. Rata-rata dalam setahun terjadi 5.000 – 6.000 kali gempa. Gempabumi dapat terjadi kapan saja terutama di daerah-daerah rawan gempa.

"Masyarakat diimbau untuk selalu waspada. Kenali bahayanya dan kurangi risikonya," imbaunya.

Baca juga:
BNPB catat kerugian bencana di Sulteng capai Rp 13.82 Triliun & 2.256 orang meninggal
BNPB sebut 2.113 orang tewas dan 1.309 hilang akibat bencana di Sulteng
Fakta viral video perempuan & bayi selamat usai tertimbun lumpur di Palu
18.000 Tenda dibutuhkan warga Palu tak punya rumah akibat gempa & tsunami
6 Pesawat asing angkut 103 ton bantuan untuk korban bencana di Sulteng
Kepala BNPB: Presiden Jokowi ingin SOP Penanganan Bencana yang jelas

(mdk/rhm)