Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan, Ini Akar Masalah Tumbuhnya Radikalisme di RI

PERISTIWA | 14 November 2019 12:27 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta

Merdeka.com - Radikalisme menjadi salah satu konsen pemerintahan Jokowi. Sebab, radikalisme dinilainya menjadi biang kerok aksi teror yang selama ini terjadi di tanah air.

Kemarin, aksi bom bunuh diri terjadi di Polrestabes Medan. Pelaku diduga terpapar radikalisme karena belajar dari media sosial.

"Hanya ada kemungkinan mereka dari jaringan yang lain atau mungkin satu jaringan yang belajar dari media sosial," kata Kapolda Sumatera Utara Irjen Agus Andrianto.

Menteri Agama Fachrul Razi menyebut banyak masyarakat yang terpapar radikalisme karena sering mencari informasi di dunia maya. Dia merujuk data yang diterbitkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tahun 2019. Menurutnya, masyarakat Indonesia kerap mencari ihwal keberadaan Tuhan lewat internet. Mereka juga menyebarkan konten tentang agama.

"Dengan mengutip indeks desiminasi media sosial yang diterbitkan BNPT tahun 2019 diperoleh angka indeks sebesar 39,89. Ini (patokan) indeks tertingginya 100, 9,89 orang Indonesia yang menggunakan medsos mencari dan menyebarkan konten tentang agama," kata Fachrul.

Akibatnya, kata Fachrul, pemikiran keagamaan sebagian besar masyarakat cenderung intoleran dan rawan terpapar ideologi radikal.

Namun, apa sesungguhnya akar dari radikalisme? Berikut ulasannya:

1 dari 4 halaman

Masalah Ekonomi dan Ketidakadilan

Salah satu penyebab radikalisme muncul di Indonesia, yaitu masalah ekonomi hingga ketidakadilan. Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama, Kamaruddin Amin menjelaskan untuk memerangi radikalisme harus ada tanggung jawab penguatan pemahaman keagamaan.

"Persoalan ekonomi, kesenjangan sosial, ketidakpuasan, dan juga ketidakadilan dapat menjadi penyebab radikalisme," kata Kamaruddin, Senin (11/11).

Kamaruddin juga mengatakan tetap harus ada kewaspadaan dengan melakukan langkah-langkah antisipatif untuk mengurangi radikalisme.

Kepala Pusat penelitian Politik, Adriana Elizabeth juga mengatakan salah satu penyebab radikalisme muncul di Indonesia karena menyangkut urusan ideologi maupun finansial. Menurutnya, kelompok radikal mudah sekali tersebar karena janji-janji kebutuhan finansial yang bakal tercukupi.

2 dari 4 halaman

Kerentanan Individu

Selain itu, radikalisme juga muncul karena rentannya individu terhadap ajaran-ajaran baru. Apalagi bagi seseorang yang masih mencari jati, mereka rentan sekali dengan berbagai ajaran baru di sekeliling mereka.

Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid menjelaskan apabila seseorang, termasuk anak muda, terekspose ajaran-ajaran kebencian, mereka bisa menjadi radikal. Apalagi jika materi kebencian itu diselipkan narasi agama.

"Dari dulu kami peringatkan hati-hati terhadap penyebaran materi secara online atau offline, bisa tulisan atau ceramah," kata Yenny, 15 Mei 2018.

Menurutnya, materi yang mengajarkan kebencian memiliki andil besar pula dalam menyebarkan kebencian. Ditambah penyebaran materi-materi radikal yang tak dikontrol di ruang publik.

"Misal perekrutan secara online, (seseorang) punya minat atau tidak. Kalau minat, akan dikirim materinya lewat offline," kata Yenny.

Hal itu juga disampaikan oleh Kepala Pusat penelitian Politik, Adriana Elizabeth. Menurut Adriana, mudahnya fasilitas seperti fasilitas dan transportasi menjadi alasan seseorang bergabung dengan kelompok radikal. "Ini bisa dilihat dalam perekrutan Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS," kata Adriana, 19 Februari 2018.

Selain itu, pemahaman soal penyucian diri juga menjadi alasan bagi seseorang yang masuk ke lingkaran radikalisme.

3 dari 4 halaman

Buruknya Etika Para Elite Politik

Tak hanya soal individu, soal politik juga menjadi penyebab mudahnya seseorang menganut ajaran radikalisme. Kepala Pusat penelitian Politik, Adriana Elizabeth menjelaskan etika para elite politik yang buruk menyebabkan masyarakat menjadi apatis terhadap demokrasi. Kemudian, radikalisme menjadi jalan alternatif.

"Permusuhan antar elite politik juga tidak baik. Hal semacam ini menimbulkan sinisme bahwa demokrasi bukan yang terbaik," tutur Adriana, 19 Februari 2018.

4 dari 4 halaman

Kurangnya Pemahaman Pancasila

Tjahjo Kumolo yang saat itu menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri menuturkan bahwa lahirnya radikalisme dan terorisme yang belakangan ini ramai di Indonesia ini dikarenakan adanya pemahaman agama yang tidak benar. Kemudian hal ini masih ditambah dengan kurangnya dialog antar umat beragama. Selain itu ketidakadilan, kesenjangan sosial dan diskriminasi.

"Akar masalah lainnya adalah residu kebebasan pasca reformasi. Lemahnya pemahaman Pancasila dan pengaruh gerakan radikal di Timur Tengah juga memicu adanya radikalisme dan terorisme," kata Tjahjo, 31 Oktober 2017.

Untuk menangkal radikalisme, sambung Tjahjo, perlu banyak diskusi atau seminar terkait paham radikalisme. Dialog-dialog dan seminar yang digelar akan membuat masyarakat dan mahasiswa paham tentang radikalisme. (mdk/dan)

Baca juga:
Istri Pelaku Bom Bunuh Diri Medan Ditangkap di Jalan, Polisi Buru Guru Spiritual
Polisi Amankan Mertua dan Istri Pelaku Bom Bunuh Diri di Medan
Bomber Polrestabes Medan Terpapar Radikal dari Istrinya
Kemendikbud Pastikan Tidak Ada Nama Mahasiswa Atas Nama Pelaku Bom Medan
Warga Urus SKCK di Polrestabes Medan Membeludak, Polisi Perketat Pengamanan