BPOM Gerebek Pabrik Terasi Mengandung Bahan Pewarna Sintetik di Serang

PERISTIWA | 16 Mei 2019 13:35 Reporter : Dwi Prasetya

Merdeka.com - Balai Besar Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Serang menggerebek pabrik Terasi Udang Cap Bangau mengandung bahan berbahaya di di Linkungan Sukadana, Kelurahan Kasemen, Kecamatan Serang.

Pada saat penggerebekan bersama Dinkes Kota Serang dan Pengawasan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (Korwas PPNS) Polda Banten, BPOM menemukan sebanyak 224 kardus berisi terasi diduga mengandung pewarna sintetik. Rencananya terasi tersebut akan di pasarkan di wilayah Kota Serang.

"Ditemukan di sini, produk sudah jadi ada 224 kardus, dalam satu kardus ada 120 buah, kemudian kami juga menemukan bahan kemas, label dan alat-alat produksi lainnya, termasuk pewarna yang diduga pewarna sintetik atau yang mengandung rodhamin B. Kami amankan semua untuk diproses selanjutnya," ujar Staff Bidang Penindakan Balai Besar BPOM Serang, Puguh Jayanarto, Kamis (16/5).

Dia mengatakan, kode Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) yang tertera pada label terasi tersebut adalah fiktif atau tidak terdaftar. Karena, seharusnya yang tercantum adalah Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) bukanlah kode Depkes RI seperti yang telah dicantumkan di kemasan.

"Ini hasil pengawasan kami di lapangan, setelah melakukan sampling di pasar-pasar tradisional. Kemudian kami uji tes laboratorium dan ternyata positif mengandung rodhamin B," ujarnya.

Dilihat dari tempat pengolahan, Puguh menilai, pabrik tersebut belum memenuhi kaidah atau tata cara produksi pangan yang baik. Karena kurangnya kebersihan dan sanitasi pada pembuatan.

Kemudian dari sisi pekerja pun tidak ada yang menggunakan alat keselamatan (safety). Sehingga, banyak pelanggaran dan prosedur yang tidak sesuai dengan seharusnya.

Berdasarkan keterangan dari pemilik pabrik, ia mengatakan, bahwa mereka tidak mengetahui kalau pewarna yang digunakan merupakan bahan pewarna yang dilarang.

"Pabrik ini juga sudah cukup lama dan produknya telah lama beredar di pasaran. Pemilik juga mengaku tidak mengetahui kalau pewarna itu berbahaya," ungkapnya.

Sementara, Korwas PPNS Polda Banten Komisaris Polisi (Kompol) Jafar M Hamzah mengatakan, akan melakukan pendampingan mulai dari operasi tindakan sampai proses penyidikan oleh PPNS Balai Besar BPOM Banten.

"Kami berharap ini akan ditindaklanjuti sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Dan kami akan tetap mendampingi hingga proses ini berjalan dan tuntas," katanya.

Langkah selanjutnya, kata Jafar, Polri dan BPOM akan menindaklanjuti dengan melakukan penyidikan serta pemeriksaan terhadap pemilik pabrik.

"Ini juga perlu ada permintaan keterangan, dan nanti akan dilakukan kembali pengujian-pengujian. Kami juga tentunya akan meminta keterangan dari ahli untuk hasil lab-nya. Apakah mempengaruhi kesehatan konsumen atau tidak," tutupnya.

Baca juga:
BPOM Temukan Obat Palsu dan Tanpa Izin Edar Dijual Bebas di Purbalingga
BPOM Temukan Usus Ayam Berformalin di Pasar Anyar Tangerang
BPOM Sosialisasikan Produk Makanan dan Obat
Polda Metro Bekuk 7 Penjual Obat Ilegal, Pelaku Terancam 15 Tahun Bui
Gerebek Pabrik Kosmetik Rumahan, BPOM Samarinda Sita 40 Produk Oplosan
BBPOM Sulsel Minta Warga Waspadai Toko-toko yang Cuci Gudang Jelang Akhir Tahun

(mdk/fik)